Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Beli Dua Baju Hitam, Keluarga Duga Bermotif Rampok

Denpasar

Senin, 16 Maret 2009, 18:08 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

pasutri tewas jurangDibalik tewasnya pasutri Maria Meywati (37) dan Yosep Indrawan (40), yang ditemukan membusuk, pada Senin (16/03), sekitar pukul 10.00 Wita, di tepi jurang di Jalan Raya Singaraja, Kilometer 18, menyimpan kenangan menarik bagi keluarganya. Salah seorang keluarga korban yakni, Ernawati mengaku sempat diminta untuk pakai baju hitam bersama Maria sebelum meninggalkan rumah.

Setelah menerima kepastian, pasutri tersebut ditemukan, beberapa keluarga besar korban mendatangi Mapolda Bali. Dia adalah adik kadung Maria, bernama Aciang (32) serta pendeta Nemo Bahari.

Aciang datang ke Polda Bali, pada Senin (16/03) sekitar pukul 14.00 Wita, didampingi teman karib Maria yang bernama Ernawati dan beberapa kerabat korban lainnya.

Tujuan kedatangan mereka tak lain ingin bertemu Direktur Reskrim Polda Bali, Kombes Wilmar Marpaung. Sebelumnya, mereka menemui Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol. Gde Sugianyar.

Mereka mengaku sangat terkejut ketika diberitahu, bahwa Maria dan suaminya, Yosef, telah ditemukan tewas di Singaraja.

Kepada wartawan, Ernawati mengatakan, pelakunya tergolong sadis, membunuh kerabatnya.

“Jika memang ingin memiliki mobil, kenapa pelaku membunuh, ambil saja mobilnya,” katanya polos.

Menurut Ernawati, sebelum berangkat, Maria sempat membelikan dua buah potong baju untuk dipakai sendiri dan diberikan kepada dirinya.

Ernawati mengaku ada keanehan dari permintaan Maria. Apalagi dia membeli dua baju dan satunya untuk Ernawati.

Keluaga yang lain yang ikut datang ke Mapolda juga mengaku sangat kehilangan sosok yang dianggapnya sempurna, dan dikenal ulet dalam bekerja.

“Dulu pertama mereka punya usaha grosir pakaian di pasar Kumbasari, hingga sekarang menjadi besar bahkan sampai punya 3 karyawan,” ujar Aciang mengisahkan.

Soal kematian kakak iparnya itu, Aciang tidak menaruh curiga kepada siapapun. Dia pun menduga, penyebab kematian kakak iparnya bermotif perampasan mobil Swift DK 1304 AI.

“Mobil nomor platnya Bali dan masih baru, tapi kenapa ada di Surabaya,” sebutnya. Menurut Aciang, mobil tersebut dibeli dari Rimo Surabaya seharga Rp 150 juta dan rencananya dijual sebesar Rp 162 juta.

Terkait anak-anak korban, nantinya ikut siapa ? Aciang mengatakan, mereka belum berpikir soal itu. Dikatakannya, hingga kini empat anaknya yang masih kecil, belum dikabari, menyangkut kematian kedua orang tuanya.


“Kami hanya meminta aparat kepolisian menindak tegas pelakunya, begitu juga soal mobil. Soal anaknya kami akan berunding nantinya,” jelasnya. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/bgl



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami