Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Datangi 28 "Balian", Astawa Tetap Lumpuh

Selasa, 27 Oktober 2009, 16:49 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Kendati sudah mendatangi 28 balian untuk menyembuhkan penyakitnya namun kondisi kaki IB Astawa tidak mengalami perubahan yang berarti.


Penyakit osteoporosis yang diidap lelaki warga Dusun Pancaseming, Batuagung, Jembrana ini malah menjadi-jadi dan menjalar ke beberapa bagian tubuhnya.

Ketika ditemui di rumahnya, Selasa (27/10), bapak dari empat orang anak ini terlihat berbaring tak berdaya.


“Untuk duduk saya harus dipapah karena kedua kaki saya sudah mati rasa, jangankan untuk dipijakkan untuk bergerak saja sulit,” ungkap mengawali percakapan.

Astawa menuturkan penyakit pengeroposan tulang yang dideritanya ini berawal sejak tahun 2007. Saat itu, dirinya mengaku setiap persendian pada kedua kakinya terasa nyeri dan panas.



“Awal-awalnya saya masih bisa jalan walaupun dengan terpincang-pincang,” ujarnya dengan perlahan karena sedikit sulit berbicara.


Dirinya lalu menempuh cara tradisional dalam menyembuhkan penyakitnya itu yakni dengan meboreh (lulur dari rempah, umbi-umbian dan akar-akaran) dan mendatangi balian (dukun). “Sesuai saran dukun, saya juga harus dipijat,” imbuhnya.

Namun hingga 28 balian yang didatanginya, penyakitnya itu tidak kunjung sembuh malah oleh salah satu balian dirinya dikatakan kena santet.

“Selain balian, saya juga menempuh upaya medis dengan mendatangi sejumlah dokter, bahkan hingga ke Denpasar. Namun tidak satupun dokter yang berhasil menyembuhkannya bahkan kini penyakit saya semakin parah saja,” ungkapnya.

Malah, pada awal bulan lalu, imbuh Astawa, dirinya opname di RSUD Negara karena penyakitnya itu. Menurutnya, hasil pemeriksaan dikter spesialis syaraf dan penyakit dalam, dirinya divonis mengidap osteoporosis.


“Kini penyakit itu sudah mulai menggerogoti bagian tubuh saya lainnya. Badan dan tangan saya mulai gemetar dan sulit digerakkan,” terangnya.

Lantaran keterbatasan biaya, Astawa memilih untuk rawat jalan. “Saya pasrah saja karena saya tidak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan,” ujarnya lirih.

Mengenai biaya hidupnya, Astawa menggantungkan sepenuhnya kepada istri dan seorang anaknya yang bekerja sebagai buruh serabutan.

“Hasil kerja itu saya utamakan untuk makan. Kalau ada sisa baru pengobatan saya lanjutkan,” katanya.

Astawa juga mengungkapkan kalau dirinya sangat mendambakan kesembuhan sehingga dirinya bisa bekerja sebagai petani seperti sebelu dirinya sakit.

“Saya sangat ingin sembuh. Kalau ada orang yang mau membantu, saya sangat berterima kasih,” pungkasnya. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/dey



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami