Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 14 Juni 2026
WALHI: Ekonomi Hijau Hanya Kamuflase
Beritabali.com, Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Salah satu substansi dalam pertemuan UNEP di Bali adalah membahas tentang green economy (ekonomi hijau). Namun, dengan pembahasan model ekonomi 'baru' ini, bukan berarti bahwa pemain ekonomi saat ini akan mengakui dosa-dosanya sehingga merubah diri menjadi peduli lingkungan.
Jargon ekonomi hijau tidak lebih dari sekedar tempelan-tempelan di kulit luar sistem ekonomi global. Karena kapitalisme masih menjadi rohnya, maka watak aslinya pun tidak berubah yakni eksploitatif, ekspansif, dan hanya menguntungkan segelintir elit semata.
Demikian dikatakan oleh Agung Wardana, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah Bali, Selasa (23/2).
Tak bisa dipungkiri bahwa ada arus besar kesadaran lingkungan hidup sedang bersemi diantara penduduk bumi. Karena tidak mau tergilas oleh jaman, maka kapitalisme global pun bermetamorfosis ke dalam bentuk kapitalisme hijau, ungkap aktivis muda ini.
Agung menambahkan bahwa istilah green atau hijau itu sebenarnya merupakan seperangkat nilai politis dengan empat prinsip utama yakni penghormatan terhadap kearifan ekologis, keadilan social, anti-kekerasan dan demokrasi akar rumput.
Kapitalisme secara alami tidak mungkin menjadi hijau, sebagaimana dipromosikan para ahli ekonomi dengan nama kapitalisme hijau, karena kapitalisme itu sendiri bertentangan prinsip-prinsip hijau, sambungnya.
Saat ini, menurut Agung, perusahaan dan pemerintah mencoba mereduksi istilah ini menjadi jargon yang apolitis, individual, dan tentu saja memiliki nilai jual. Karena dengan demikian, mereka akan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya diatas kecenderungan publik terhadap lingkungan.
Dia memprediksi bahwa konsep ekonomi hijau tidak akan memberikan manfaat yang besar dalam penyelamatan lingkungan dalam arti sebenarnya. Konsep ini akan bernasib sama dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang telah berjalan 20 tahun namun semakin hari kondisi bumi semakin genting.
Karena kedua konsep tersebut tidak menjawab akar permasalah utama dari kerusakan lingkungan saat ini yakni pembangunan yang berlandaskan model ekonomi kapitalistik dalam sistem produksi, distribusi, dan konsumsinya. Selanjutnya dia menjelaskan bahwa konsep ekonomi hijau sebenarnya merupakan model untuk mempermudah penghitungan nilai ekonomi jasa layanan lingkungan (ecosystem services). Sehingga ketika ecosystem services sebuah kawasan rusak, maka sang perusak dapat dengan mudah mengkompensasikannya ke dalam bentuk uang lewat prinsip pencemar membayar.
Jadi ekonomi hijau yang dimaksud hanyalah sebuah kamuflase hijau dari sistem kapitalisme. Jangan terkecoh! Agung mengingatkan.
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Kasus Penjualan Gading Gajah di Tampaksiring Masuk Tahap Penuntutan
Dibaca: 1011 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli