Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Nyepi, Kondisi Pantai Kuta Seperti Tahun 1950-an

Sabtu, 24 Maret 2012, 16:36 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Saat perayaan Nyepi, kondisi Pantai Kuta yang biasanya ramai berubah menjadi lengang. Kondisi ini mirip dengan kondisi tahun 1950 an, saat Pantai Kuta masih sepi, belum berkembang menjadi daerah tujuan wisata seperti saat ini. Saat hari raya Nyepi Jumat (23/3/2012), suasana pantai kuta yang biasa ramai dikunjungi wisatawan berubah menjadi sepi dan lengang.  Tidak tampak wisatawan yang berjemur. Para peselancar juga libur untuk menghormati hari raya Nyepi.

Kondisi pantai Kuta yang sepi ini mirip dengan kondisi Kuta tahun 1950 hingga 1960- an, seperti dituturkan oleh pendiri penyelamat pantai Kuta (balawista) I Gede Beratha. "Tahun 1950-an, 1960-an hingga tahun 1970-an, Pantai Kuta masih amat sepi. Pasirnya putih, ombaknya sangat bagus untuk kegiatan surfing. Hanya ada satu dua wisatawan asing yang ada di pantai, bisa dihitung dengan jari," ujar Gde kepada beritabali.com belum lama ini.

Saat itu, kata Berata, di pinggir pantai Kuta banyak tumbuh pohon kelapa, pohon kreket, pohon katang-katang, padanggalak, dan pandan. "Pohon katang-katang  berfungsi untuk menjaga pasir pantai agar tidak terbawa ombak saat pasang," ujar pria kelahiran 20 Juni 1939 ini. Waktu itu hotel di Kuta juga tidak terlalu banyak, hanya ada penginapan-penginapan  kecil milik penduduk lokal.  Di sepanjang Pantai Kuta waktu itu masih terdapat  perahu nelayan yang ditambatkan.

"Pantai Kuta dulu juga dikenal angker. Banyak terdapat kuburan di sepanjang pantai Kuta. Tidak banyak yang berani lewat di pantai waktu malam hari karena keangkerannya," kata Berata. Waktu tahun 1960 an, kata Berata, turis asing juga bisa berlaku bebas di pantai, tidak ada yang menghalang-halangi.

"Turis bisa bebas sebebasnya, bisa telanjang di pinggir pantai. Jaman itu kita bisa melihat banyak turis  telanjang di pinggir pantai Kuta. Setelah Tahun 70 an, turis sudah tidak bisa bebas lagi, sudah mulai ada larangan-larangan seperti tidak boleh telanjang di pantai," kenangnya. Karena adanya larangan-larangan, turis asing yang sudah terlanjur biasa bebas mulai bergeser ke pantai Legian, Seminyak, Camplung Tanduk, hingga ke Canggu untuk  menyepi. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/psk



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami