Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bono, Dulu Menakutkan Kini Mengasikkan (2)

Pelalawan

Sabtu, 27 Juli 2013, 16:34 WITA Follow
Beritabali.com

www.anotherasia.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Beritabali.com, Pangkalan Kerinci. Gelombang Bono di Sungai Kampar Pelalawan Riau memang fenomenal. Ibarat tsunami yang terjadi karena gempa, mengakibatkan ombak tinggi di pantai, namun yang ini ombaknya ada di sungai. Tingginya bisa mencapai 6 meter, sehingga wajar Pemerintah Kabupaten Pelalawan ingin menjadikannya sebagai ikon, bukan hanya ikon Riau tapi juga ikon nasional.

Gelombang Bono terjadi akibat benturan 3 arus air laut di Selat Malaka dan dari laut Cina Selatan yang bertemu dan berbenturan hingga menjadikannya sebuah gelombang besar yang menggulung menuju muara sungai Kampar dan menghempas ke pinggir ataupun ke tempat-tempat dangkal sehingga apa saja yang ada di dekatnya dapat dimusnahkannya.

Menurut legenda, Bono yang ada di sungai Kampar seluruhnya berjumlah 7 (tujuh) ekor, salah satu dari ketujuh bono itu yang merupakan anaknya ditembak oleh meriam  Belanda sehingga yang tersisa adalah 6 (enam) ekor. Karena anaknya mati dan menghilang ditembak Belanda, maka ke enam bono tersebut mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di dekat mereka.

Secara bergantian dari yang besar hingga yang kecil bono datang dalam masa-masa tertentu untuk menunjukkan kekuatan dan kedahsyatannya bagaikan seorang induk yang marah dan mengamuk karena kehilangan anaknya.

Menurut cerita lain, kononnya, Bono yang ada di sungai Kampar ini adalah Bono Jantan, sedangkan Bono Betinanya berada di sungai Rokan. Di musim pasang mati, Bono Jantan  menemui Bono Betina, kemudian mereka pergi bersama-sama ke selat Malaka untuk bermain dan  bersantai disana. Apabila bulan mulai membesar mereka pun kembali ke tempat masing-masing, lalu bermain memudik sungai Kampar (yang jantan) dan sungai Rokan (yang betinanya). Semakin penuh bulan di langit, semakin bertambah gembiranya mereka berpacu memudiki sungai itu, berderu, bergemurh hingga sampai ke temapt masing-masing.

Sebagian cerita lain dari masyarakat lokal juga mengisahkan hal yang sama, namun mereka mengibaratkan Bono tersebut dengan seekor naga yang bertemu di selat Malaka untuk bermain dengan pasangannya dan kembali memudiki sungai Kampar dan Sungai Rokan untuk kembali ke sarangnya dengan bersemangat dan bergembira hingga menimbulkan gelombang besar dan menghempas apa saja yang dilewatinya.

Cerita tersebut di atas merupakan cerita masyarakat yang telah menjadi legenda keberadaan Bono di Kabupaten Pelalawan. Cerita tersebut dituturkan turun temurun hingga sekarang masih dapat ditemui di kalangan masyarakat di daerah Teluk Meranti dan sekitarnya.

H. Zulkifli S.Ag, Msi Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan secara berkelakar mengatakan jika mau melihat tsunami terjadwal datanglah ke muara Sungai Kampar.

Bono, terlepas dari segala legenda dan hal-hal tentangnya yang membuat orang-orang yang mendengar, melihat bahkan mengalaminya begitu gentar, trauma, dan ngeri, ternyata masih menyimpan daya tarik dan keinginan orang untuk melihat, menyaksikan bahkan mengalami hal-hal yang dianggap menakjubkan yang selalu dibawa dan ditunjukkan olehnya.

Di sebalik kebuasan terjangan gelombang, kengerian akibat suara yang bergemuruh serta kerusakan yang diakibatkan olehnya, ternyata Bono juga menyimpan eksotisme tersendiri yang dapat menarik pesona beberapa orang yang menganggapnya sesuatu yang unik dan jarang dijumpai di berbagai belahan dunia.

"Sudah banyak wisatawan luar yang mencoba menaklukan Bono, kebanyakan peselancar dari Australia dan Perancis,"ujar Zulkifli.

Tertarik berselancar di Sungai Kampar? bagi para peselancar yang ingin menaklukkan gelombang Bono setinggi 6 meter, bisa mengunjungi Sungai Kampar pada bulan Agustus hingga Desember. Diluar bulan-bulan itu, ketinggian gelombang Bono berkisar 2 meter namun itu sudah cukup untuk menikmati berselancar di Sungai Kampar. Bersambung... (gus)

 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami