Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Pertemuan WTA 2014 Ditolak Akademisi dan Masyarakat Bali
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Rencana pertemuan World Tobacco Asia (WTA) 2014 yang digelar di Bali menuai penolakan dari sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, aktivis antirokok maupun mahasiswa di Bali.
Hal itu disampaikan salah seorang kademisi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana (UNUD) Denpasar, Bali. Artawan mengaku jika penolakan itu akan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. "Kami menolak pertemuan di Bali itu dan pertemuan di manapun di Indonesia," ujar Artawan, ketika memberi keterangan resmi usai seminar internasional 'Social Determinants of Health MDGs and Beyond', Sabtu (31/8/2013).
Penolakan serentak di seluruh Indonesia itu, kata Artawan, mengingat Indonesia yang telah bergabung dalam negara-negara G20 adalah satu-satunya negara di ASEAN yang belum meratifikasi Framework Convention for Tobacco Control (FCTC). "Negara yang tergabung dalam G20 adalah negara besar dan kuat. Tapi hanya Indonesia yang belum meratifikasi FCTC," jelasnya.
Ia bersama jaringan antirokok di Indonesia, akan terus mengobarkan penolakan. Artawan mengklaim telah melakukan komunikasi dengan jaringan antirokok nasional terhadap rencana penolakan pertemuan World Tobacco Asia (WTA) 2014 tersebut. "Kami akan kirim petisi ini kepada Pemda Bali, Kementerian Kesehatan dan Presiden. Teman-teman nanti akan menggalang kekuatan di daerah masing-masing," paparnya.
Bagi Artawan, prinsip kontrol tembakau itu bukan berarti melarang orang untuk merokok. Merokok, baginya, juga bagian dari hak orang lain, meski bukan hak asasi. "Tapi kami hanya ingin menghirup udara yang bersih. Dan, hak atas udara bersih itu adalah hak asasi manusia," ungkapnya.
Artawan lebih jauh mengungkapkan jika rokok merupakan penyebab utama penyakit dan Rokok berkaitan erat dengan derajat kesehatan lingkungan dan capaian MDGs pada 2015 depan. Menurutnya, strategi Indonesia untuk mencapai target MDGs di Indonesia tergolong sangat terlambat. Pasalnya, WHO sejak tahun 2000 menjalankan hal itu, sementara Indonesia baru tahun 2005.
"Merokok itu salah satu faktor utama penyebab penyakit tak menular. Kematian terbesar salah satunya karena rokok. Untuk itu, komitmen kita terhadap tobacco control sangat penting. Untuk itu, kami mendesak agar pemerintah segera meratifikasi Konvensi FCTC secepatnya," pintanya. (dws)
Reporter: -
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3809 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1753 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang