Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ortu Korban Penyerangan Ormas Pertanyakan LP Kerobokan Tidak Sampaikan Belasungkawa

Senin, 25 Januari 2016, 17:05 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/dws

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Made Widiantara bersama istrinya Ni Nyoman Suwari, orang tua korban yang anaknya tewas di LP Kerobokan yakni Wayan Permana Yasa alias Doglet berharap terhadap aparat penegak hukum untuk berlaku adil terhadap siapa pun pelaku pembunuhan anak sulungnya agar dihukum setimpal sesuai dengan aturan maupun hukum yang berlaku.
 
"Semua permasalahan itu kini saya serahkan kepada penegak hukum. Saya tidak tahu masalah hukum. Saya sangat sedih kehilangan anak saya. Karena mereka di LP sebagai status tahanan titipan. Tapi setelah tewas pihak LP tidak ada pernyataan permintaan maaf maupun penjelasan kronologis hingga anak saya dibantai dalam LP Kerobokan," ucap Made Widiantara bersama istrinya Ni Nyoman Suwari dengan raut muka sedih saat ditemui di rumahnya di Denpasar, Senin (25/1/2016).
 
Mereka juga heran mengapa di LP Kerobokan sebesar itu tidak ada penjagaan keamanan yang ketat sehingga anaknya menjadi korban penyerangan antar penghuni Lapas. Ia menilai, aparat di dalam Lapas pun tidak mampu berbuat banyak dan terkesan ada unsur pembiaran agar antarpenghuni saling bantai.
 
"Saya selaku masyarakat biasa, saya minta keadilan kepada penegak hukum. Saya kecewa dengan sikap LP Kerobokan sampai saat ini tidak ada penjelasan terkait anak saya tewas dibantai dalam LP Kerobokan," terangnya.
 
Herannya, lanjutnya, sampai sekarang pihak LP Kerobokan juga tidak datang kerumah duka untuk meminta maaf maupun sekedar ucapan belasungkawa. Menurutnya, harusnya jika sebagai pihak yang ikut bertanggungjawab, pihak LP Kerobokan mestinya datang dan menemui mereka sebagai sesama umat manusia.
 
"Mereka khan pejabat yang berpendidikan, harusnya pihak LP kerobokan menemui kami sebagai orang tua korban dan pihak keluarga. Minimal menerangkan tewasnya anaknya yang jadi tahanan titipan. Binatang yang dititipkan saja, jika hilang ataupun meninggal yang dititipin datang meminta maaf. Ini anak saya manusia kok diperlakukan lebih kejam daripada binatang," tuturnya heran.
 
 
Seperti diketahui, peristiwa berdarah 17 Desember 2015 tersebut menelan korban empat orang dari ormas Baladika Bali dan sedikitnya lima orang menderita luka cukup serius. Sampai saat ini proses hukum masih diproses pihak kepolisian dan telah menggelar rekonstruksi ulang atas kejadian memilukan tersebut.
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami