Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Sejak 1360, Warga Pandak Gede Gelar Tradisi Potong Kerbau

Senin, 5 September 2016, 21:15 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/nod

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, TABANAN.

Beritabali.com, Tabanan. Dua hari menjelang hari raya Galungan tepatnya di hari penampahan, warga Desa Pakraman Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Tabanan melangsungkan tradisi memotong kerbau.
 
Tradisi yang ada sejak tahun 1360 itu, hingga kini masih dilaksanakan. Seperti yang digelar Senin (5/9), pada hari pengejukan Galungan warga setempat kembali menggelar tradisi memotong kerbau. Meskipun harga satu ekor kerbau mencapai Rp 20 Juta, tidak menyurtkan warga “mepatung” memotong kerbau untuk persembahan.
 
Jro Bendesa Adat Pandak Gede, I Gusti Gede N Ary Subawa menjelaskan tradisi potong kerbau di Desa Pakraman Pandak Gede, Kediri,  tidak terlepas dari dua hal yakni kepercayaan masyarakat yang tidak memakan ataupun memotong sapi. 
 
“Karena kepercayaan ini, warga berfikir memelihara kerbau untuk menggarap lahan pertanian mereka dan bisa dipotong untuk dikonsumsi,”ucapnya.
 
Selain kepercayaan tersebut, tradisi potong kerbau ini juga berkaitan dengan sejarah desa Pandak di tahun 1360. Dimana, dijelaskan Jro Bendesa, saat itu Kerajaan Bali berpusat di Samprangan Gianyar dengan pemerintahan Ida Sri Kresna Kepakisan dengan tiga putranya. Dan wilayah desa Tabanan yang dulu merupakan pusat pemerintahan ada di desa Buahan. 
 
Saat pemerintahan Ida Sri Kresna Kepakisan inilah kondisinya makmur, hingga warga akhirnya menyelenggarakan karya Ratu Bali Raja Peni sebuah upacara syukuran yang digelar satu bulan empat puluh dua hari. 
 
Dalam acara syukuran yang digelar di Desa Pandak disuguhi bermacam olah-olahan tradisional Bali seperti lawar, urap, dan sate. Lanjut di malam harinya disajikan sejumlah kesenian tradisional seperti tari gambuh, Joged Pingit dan Arja.
 
“Dari suguhan makanan tradisional inilah salah satunya masakan berbahan daging kerbau. Sejak saat itulah masyarakat terbiasa mengolah daging kerbau dan berlanjut sampai sekarang,” jelasnya.
 
Tradisi yang beralangsung sejak Senin pagi mulai pukul 09.00 Wita. Kerbau yang dipotong adalah yang berwarna hitam.
 
Made Munia (71) warga banjar Batan Poh disela-sela pembagian daging kerbau mengatakan kegiatan potong kerbau ini selalu ada tiap enam bulan atau menjelang hari raya Galungan. Bahkan sejak kecil, dikatakannya tradisi ini sudah ada. 
 
“Warga kami banya yang memotong kerbau, tapi ada juga yang potong babi jelang Galungan,” jelasnya.
 
Meski harga kerbau cukup mahal yakni hingga mencapai harga Rp 20 juta per ekor, namun peminatnya mash cukup tinggi. “Untuk satu ekor kerbau rata-rata bisa menjadi 80 bagian dengan harga Rp 300 ribu perbagian, dan kebanyakan sudah ada yang memesan jauh-jauh hari, bahkan ada juga pesanan dari Gianyar,”katanya. (nod) 
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami