Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Rayakan Sakralnya Nyepi, DPRD Bali Perjuangkan Larangan Siaran Media Massa
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Jelang Nyepi, Dewan Bali makin giatkan pelarangan siaran. Hal itu pun diwujudkan dengan bertemu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat serta Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) di Jakarta. Pihak DPRD Bali meminta dikeluarkannya larangan siaran media massa pada Hari Suci Nyepi di Pulau Dewata.
Saat dikonfimasi, Kamis (23/3), Ketua Komisi I DPRD Bali Ketut Tama Tenaya mengatakan dalam memperjuangkan aspirasi warga masyarakat tersebut, pihaknya mengajak serta KPI Bali dan Kepala Dinas Kominfo Provinsi Bali ke Jakarta bertemu KPI Pusat dan Kementerian Kominfo.
[pilihan-redaksi]
"Komisi I DPRD Bali tetap perjuangkan penghentian siaran stasiun media massa yakni televisi, radio, karena masuk dalam revisi UU Penyiaran yang sedang di revisi UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, yang sedang dibahas oleh DPR-RI. Masukan hari ini disampaikan ke KPI Pusat dan Kementerian Kominfo agar bisa diusulkan dalam pembahasan selanjutnya," kata Tama Tenaya.
Ia mengatakan penghentian siaran pada hari suci Nyepi di Bali perlu diatur dalam revisi UU Penyiaran, karena setiap perayaan Nyepi di Bali, seluruh lembaga penyiaran dilarang untuk melakukan siaran.
Menurut dia, penghentian stasiun siaran pada hari suci Nyepi ke depannya diharapkan menjadi aturan permanen, yang diatur secara khusus dalam UU Penyiaran.
"Sehingga setiap tahun secara otomatis penghentian siaran berlaku saat Hari suci Nyepi di Bali," kata politikus PDIP itu.
Menurut dia, penghentian siaran pada hari suci Nyepi selama ini hanya mengacu pada rekomendasi KPI. Pihaknya mendorong usulan tersebut. Karena Nyepi sudah menjadi hari libur nasional.
"Melalui keputusan pemerintah bahwa Hari raya Nyepi telah diakui secara nasional. Karena itu pada hari tersebut di kalender juga ditandai tanggal merah," ucapnya.
Tama Tenaya lebih lanjut mengatakan jika penghentian siaran pada hari suci Nyepi itu diatur dalam UU Penyiaran, maka pemerintah Daerah Provinsi Bali bisa membuat Peraturan Daerah (Perda).
"Perda itu penting sebab ke depan 90 persen lembaga siaran akan meyerbu Bali. Di samping itu 10 persen tayangan muatan lokal harus bisa ditayangkan. Itu bisa diatur dalam Perda," katanya.
Tama Tenaya mengatakan, usulan yang disampaikan itu mendapat respons positif dari KPI Pusat dan Kementerian Kominfo.
"Pihak KPI Pusat serta Kementerian Komunikasi dan Informasi sudah merespons secara positif, karena itu kami terus memperjuangan aspirasi rakyat Bali ke pusat," katanya. [rls/wrt]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5974 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4665 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2650 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2306 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2233 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan