Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Dua Saudara Kandung Mengidap Gangguan Jiwa, Hidup Bak Dipenjara
Selasa, 4 Juli 2017,
21:36 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Sungguh malang kehidupan yang dialami Ketut Rugeg (56) asal Dusun Yeh Kori, Jungutan, Bebandem, Karangasem. Selain berada dibawah garis kemiskinan, kedua buah hatinya mengalami gangguan jiwa.
Kondisi kedua putranya I Nengah Simpen (34) dan I Komang Ada (28) mengalami gangguan jiwa sejak keduanya tamat SD. Selain itu sang istri juga sudah meninggal dunia.
[pilihan-redaksi]
Saat Prof. LK Suryani bersama beberapa relawan dan media mengunjungi kediaman Ketut Rugeg untuk melihat keadaan keduanya, didapati salah satunya yaitu I Komang Ada dalam kondisi kaki kirinya terikat rantai besi. Menurut I Ketut Rugeg, kaki anaknya tersebut terpaksa dirantai karena sering mengamuk dan membuat gaduh tak terkendali sehingga membuat warga sekitar resah.
"Takut nanti membahayakan orang, kakaknya juga sama tetapi tidak separah adiknya," ungkapnya.
Selain dirantai, Komang Ade juga ditempatkan di sebuah bangunan khusus yakni bantuan bedah rumah yang dibuat khusus untuk memenjarakan Komang Ada.
Kondisi kedua kakak-beradik itu sangat memprihatinkan. Terutama kondisi Komang Ada. Seluruh aktivitas seperti, makan, tidur bahkan berak dilakukan di ruangan tersebut. Parahnya lgi sehari-hari Komang Ada juga tidak memakai pakain alias telanjang bulat. Selain itu, ketika makan Komang Ada kadang sepiring berdua dengan anjing peliharaannya.
Melihat kondisi tersebut, salah seorang pemerhati gangguan jiwa, Marian asal Belanda yang ikut datang bersama Prof. LK Suryani sempat jengkel. Dirinya menyayangkan sikap pemerintah dalam penanganan terkesan tutup mata atas penderitaan yang mereka alami.
"Bukan begini caranya, ini cara yang salah, untuk mengobati penderita gangguan jiwa semestinya melalui pendekatan sosial, harus ada pendampingan, bukan hospital base," pungkasnya.
Dirinya juga mengatakan, seharusnya aparatur pemerintah rutin turun langsung berkunjung. Selain memberi pengobatan dan perawatan, juga harus memberikan pendampingan terhadap keluarga penderita. Sebab hidup berdampingan dalam jangka waktu lama dengan penderita gangguan jiwa bisa berpotensi memicu bertambahnya orang gila baru.
Dalam kesempatan tersebut, Ketut Pugeg juga sempat mengatakan bahwa selama ini kedua anaknya hanya mendapat rawat jalan di RSJ Bangli.
"Sudah tujuh kali bolak-balik ke Bangli. Setiap kali kambuh, keduanya baik Simpen maupun Komang Ada selalu dibawa ke sana. Namun hanya dirawat sebulan kemudian dipulangkan kembali," kata Pugeg. [igs/wrt]
Berita Karangasem Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3808 Kali
02
03
04
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1750 Kali
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026