Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 30 April 2026
Penurunan Jumlah Sperma Berujung Kepunahan Manusia
Senin, 31 Juli 2017,
19:28 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, London. Umat manusia dapat punah jika jumlah sperma pada kaum laki-laki terus berkurang dengan laju saat ini, demikian para peneliti memperingatkan.
Mengutip BBC, para peneliti yang mengkaji hasil dari hampir 200 studi mengatakan bahwa jumlah sperma di antara para laki-laki dari Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Selandia Baru, tampak telah berkurang setengahnya dalam waktu kurang dari 40 tahun.
Beberapa pakar menyikapi temuan Human Reproduction Update ini dengan skeptis. Namun, peneliti utama Dr Hagai Levine mengatakan bahwa ia 'sangat khawatir' akan apa yang mungkin terjadi di masa depan.
[pilihan-redaksi]
Kajian yang merupakan salah satu penelitian terbesar itu mengumpulkan hasil dari 185 studi dari antara tahun 1973 dan 2011.
Dr Levine, seorang pakar epidemiologi dari Universitas Ibrani Yerusalem, mengatakan kepada BBC bahwa jika tren ini berlanjut umat manusia akan punah.
"Jika kita tidak mengubah cara hidup dan lingkungan dan zat kimia sekitar kita, saya sangat khawatir pada apa yang akan terjadi di masa depan. Pada akhirnya, kita mungkin mendapat masalah dengan reproduksi pada umumnya, dan itu mungkin kepunahan umat manusia," ujarnya.
Para ilmuwan yang tidak terlibat dalam studi Dr Levine memuji kualitas penelitiannya, namun mengatakan bahwa mungkin terlalu awal untuk membuat kesimpulan tersebut.
Dr Levine menemukan penurunan konsentrasi sperma sebesar 52,4 persen, dan penurunan jumlah sperma total sebesar 59,3 persen pada laki-laki yang berasal dari Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Selandia Baru.
Studi tersebut juga mengindikasikan laju penurunan jumlah sperma pada kaum laki-laki di negara-negara tersebut terus berlanjut, bahkan mungkin bertambah.
Sebaliknya, tidak ada penurunan signifikan jumlah sperma yang tercatat di Amerika Selatan, Asia, dan Afrika. Namun, para peneliti mengemukakan bahwa baru sedikit studi yang dilakukan terhadap wilayah-wilayah tersebut.
Bagaimanapun, Dr Levine cemas bahwa pada akhirnya jumlah sperma bisa anjlok juga di kawasan-kawasan itu.
Banyak studi sebelumnya telah mengindikasikan penurunan tajam jumlah sperma di negara ekonomi berkembang, namun kelompok skeptis mengatakan sebagian besar studi tersebut telah dilakukan dengan metode penelitian yang cacat.
Beberapa ilmuwan meneliti jumlah laki-laki yang relatif sedikit, atau hanya melibatkan laki-laki yang mendatangi klinik kesuburan dan, yang memang memiliki jumlah sperma yang kemungkinan besar, rendah.
Kesulitan lain adalah metode lama tentang penghitungan sperma bisa jadi terlalu melebih-elbihkan jumlah sperma.
Faktor-faktor itu bisa menciptakan pandangan keliru dalam jumlah sperma. [bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3862 Kali
02
03
04
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1812 Kali
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026