Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Gebog Pesatakan Beratan Gelar Upacara Guru Piduka di DTW Ulun Danu Beratan

Terkait Penutupan Sepihak

Senin, 7 Agustus 2017, 16:32 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, TABANAN.

Beritabali.com, Tabanan. Gebog Pesatakan Beratan menggelar upacara penyapsap,  guru piduka, bandu piduka di Daya Tarik Wisata Ulun Danu Beratan, di Desa Candikuning, Kecamatan Baturti, Tabanan, Senin (7/8) sore.
 
Upacara guru piduka itu bertujuan untuk menyucikan areal DTW Ulun Danu Beratan pasca aksi penutupan DTW oleh oknum yang mengatasnamakan pengempon Pura Ulun Danu Beratan 26 Juli lalu.  
 
[pilihan-redaksi]
Rangkaian upacara dipuput oleh Ida Pedanda dari Geria Cau Belayu, Marga.
 
Manager operasional DTW Ulundanu Beratan, I Wayan Mustika didampingi Sekretaris operasional, I Wayan Parwata menyampaikan rangkaian upacara ini merupakan hasil rapat Gebog pesatakan Beratan pada tanggal 28 Juli kemarin. Di mana mereka sepakat untuk menggelar upacara pembersihan areal Pura dan kawasannya untuk menghapus leteh Pura. 
 
Upacara diawali dengan Rsi Gana di jeroan Pura lanjut melakukan pecaruan manca sanak di masing-masing pelinggih dan areal nista mandala (parkir, red). 
Tujuannya untuk menyucikan kembali kawasan Pura yang terkenal dengan keindahan danaunya. 
 
Dijelaskannya, upacara guru piduka ini dilajukan mengingat saat aksi yang dilakukan tanggal 26 ada kegiatan yang dilakukan diluar konteks persembahyangan di areal Pura seperti dharma wacana yang justru sifatnya provokatif dan adanya aksi pemasangan spanduk di areal kawasan. 
 
"Upacara ini salah satu poin hasil rapat pengempon pura pasca aksi, dan atas dasar restu bhagawanta puri dan angga puri yakni puri marga sebagai penganceng, kami sepakat untuk menyucikan kembali pura dan arealnya," ucapnya. 
 
Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu obyek wisata di kecamatan Baturiti Tabanan ini sempat terjadi ketegangan akhir bulan Juli kemarin. Pasalnya ada sejumlah warga berbaju adat mengatasnamakan pesatakan Ulun D Beratan melakukan aksi pemasangan spanduk penutupan Pura Ulun Danu Beratan. 
 
Namun setelah ditelisik, permasalahan ini muncul karena adanya masalah intern antara Gebok Pesatak yang terdiri dari 15 desa adat dan tiga kelian dengan pesatak lama. 
 
[pilihan-redaksi2]
Aksi pemasangan spanduk sendiri hanya dihadiri pesatak lama dan bukan dari Gebok Pesatak. Manajer operasional DTW Ulundanu Beratan, Mustika menjelaskan adanya Gebok Pesatak artinya tidak lagi memakai pengurus atau pesatak tetapi langsung ditangani oleh 15 desa adat yang mengempon Pura Ulun Danu Beratan dan tiga kelian desa. Hal ini berdasarkan keputusan rapat yang digelar beberapa waktu lalu.  
 
"Karenanya pesatak lama diberhentikan. Inilah yang diduga memicu permasalahan," jelasnya. 
 
Selain itu bedasarkan informasi, aksi tersebut juga dipicu karena adanya dugaan penyelewengan dana pembagian pah-pahan penghasilan DTW Ulun Danu kepada pengurus pengempon Pura sekitar Rp37, 5 miliar. 
 
Kasusnya tengah ditangani pihak kepolisian Tabanan. [bbn/nod] 
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami