Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Diskes Denpasar Targetkan Vaksinasi JE Pada 185.726 Orang
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Denpasar menargetkan untuk melakukan vaksinasi Japanese Encephalitis (JE) pada 185.726 orang. Vaksinasi JE menyasar anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun. Vaksinasi JE akan dilaksanakan hingga 30 April mendatang.
Kadiskes Kota Denpasar, dr. Ni Luh Putu Sri Armini mengungkapkan kegiatan dilaksanakan dengan menyasar 521 sekolah yang terdiri dari PAUD, TK, SD, dan SMP di seluruh wilayah Kota Denpasar. Vaksinasi JE juga dilakukan di 471 Posyandu, Banjar-banjar, Puskesmas dan Rumah Sakit. “Diharapkan masyarakat pro aktif dalam mengikuti vaksinasi guna meminimalisir adanya kasus JE di Bali, khusus Kota Denpasar,” ujar Sri Armini disela-sela pelaksanakan vaksinasi JE di Denpasar pada Kamis (1/3).
Sri Armini berharap para steakholder hingga tingkat desa maupun dusun juga turut memberikan sosialisasi terkait dengan pelaksanaan vaksinasi JE. Pada hari pertama pelaksanaan vaksinasi JE menyasar 16 sekolah yang terdiri dari tujuh sekolah SMP, empat SD dan empat TK. Vaksinasi dilakukan sebagai upaya antisipasi terhadap merebaknya virus tersebut dan untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat Denpasar
Menurut Sri Armini, JE merupakan penyakit zoonosa yang dapat menyebabkan terjadinya radang otak pada hewan dan manusia. Penyakit ini bersifat arbovirus karena ditularkan oleh nyamuk, babi, dan atau burung rawa. Manusia sendiri bisa tertular virus JE bila tergigit oleh nyamuk Culex Tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi dan biasa beraktivitas di malam hari.
JE pertama kali terkuak di Indonesia pada tahun 1960. Japanese Encephalitis banyak dilaporkan terjadi di daerah Bali. Perjalanan penyakit JE dibedakan menjadi tiga stadium. Pertama,stadium prodromal yang berlangsung selama 2 – 4 hari. Ditandai dengan panas yang mendadak, sakit kepala berat yang terkadang disertai keluhan mual dan muntah. Selanjutnya stadium akut selama 4 – 7 hari. Pada stadium ini panas tetap tinggi dan tidak mudah diturunkan dengan obat penurun panas dan akan terjadi kekakuan otot terutama pada otot leher.
Pada kasus yang lebih kronis kemungkinan dapat terjadi gangguan keseimbangan, kejang-kejang serta penurunan kesadaran mulai dari gelisah-mengantuk sampai koma (tidak sadar). Ketiga, stadium konvalesen atau tahap akhir. Stadium ini dimulai pada saat suhu tubuh kembali normal. Tanda-tanda neurologis bisa menetap atau cenderung membaik.[bbn/rls/mul]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5846 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4600 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2566 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2209 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2194 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan