Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Diskes Denpasar Targetkan Vaksinasi JE Pada 185.726 Orang
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Denpasar menargetkan untuk melakukan vaksinasi Japanese Encephalitis (JE) pada 185.726 orang. Vaksinasi JE menyasar anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun. Vaksinasi JE akan dilaksanakan hingga 30 April mendatang.
Kadiskes Kota Denpasar, dr. Ni Luh Putu Sri Armini mengungkapkan kegiatan dilaksanakan dengan menyasar 521 sekolah yang terdiri dari PAUD, TK, SD, dan SMP di seluruh wilayah Kota Denpasar. Vaksinasi JE juga dilakukan di 471 Posyandu, Banjar-banjar, Puskesmas dan Rumah Sakit. “Diharapkan masyarakat pro aktif dalam mengikuti vaksinasi guna meminimalisir adanya kasus JE di Bali, khusus Kota Denpasar,” ujar Sri Armini disela-sela pelaksanakan vaksinasi JE di Denpasar pada Kamis (1/3).
Sri Armini berharap para steakholder hingga tingkat desa maupun dusun juga turut memberikan sosialisasi terkait dengan pelaksanaan vaksinasi JE. Pada hari pertama pelaksanaan vaksinasi JE menyasar 16 sekolah yang terdiri dari tujuh sekolah SMP, empat SD dan empat TK. Vaksinasi dilakukan sebagai upaya antisipasi terhadap merebaknya virus tersebut dan untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat Denpasar
Menurut Sri Armini, JE merupakan penyakit zoonosa yang dapat menyebabkan terjadinya radang otak pada hewan dan manusia. Penyakit ini bersifat arbovirus karena ditularkan oleh nyamuk, babi, dan atau burung rawa. Manusia sendiri bisa tertular virus JE bila tergigit oleh nyamuk Culex Tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi dan biasa beraktivitas di malam hari.
JE pertama kali terkuak di Indonesia pada tahun 1960. Japanese Encephalitis banyak dilaporkan terjadi di daerah Bali. Perjalanan penyakit JE dibedakan menjadi tiga stadium. Pertama,stadium prodromal yang berlangsung selama 2 – 4 hari. Ditandai dengan panas yang mendadak, sakit kepala berat yang terkadang disertai keluhan mual dan muntah. Selanjutnya stadium akut selama 4 – 7 hari. Pada stadium ini panas tetap tinggi dan tidak mudah diturunkan dengan obat penurun panas dan akan terjadi kekakuan otot terutama pada otot leher.
Pada kasus yang lebih kronis kemungkinan dapat terjadi gangguan keseimbangan, kejang-kejang serta penurunan kesadaran mulai dari gelisah-mengantuk sampai koma (tidak sadar). Ketiga, stadium konvalesen atau tahap akhir. Stadium ini dimulai pada saat suhu tubuh kembali normal. Tanda-tanda neurologis bisa menetap atau cenderung membaik.[bbn/rls/mul]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3662 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1336 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1223 Kali
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1069 Kali
Mobil Keluar Parkir Tabrak Motor di Seririt, Penumpang Tewas
Dibaca: 784 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun