Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Sabtu, 15 Agustus 2026
Upacara Nyejer Pasca Melasti Bermakna Menegakkan Keyakinan Pada Tuhan
Senin, 4 Maret 2019,
16:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Usai melakukan Melasti umat Hindu di Bali melakukan upacara nyejer. Upacara nyejer itu dilakukan dengan terus men-sthanakan simbol-simbol suci seperti pretima, pecanangan dengan segala kelengkapannya berkumpul di Pura Desa atau di Bale Agung Pura Desa. Upacara Nyejer memiliki makna menegakkan keyakinan pada Tuhan.
[pilihan-redaksi]
Demikian terungkap dalam sebuah artikel berjudul "Makna Penggunaan Kober Ganesha Saat Umat Hindu Melaksanakan Tawur Kesanga" yang ditulis oleh Drs. Dewa Nyoman Redana M.Si. Artikel tersebut merupakan prosiding seminar "Lokal Genius dalam Perspektif Kebijakan Publik, Hukum, Manajemen, Pertanian dan Pendidikan" yang digelar P3M Unipas Singaraja pada Oktober 2015.
Demikian terungkap dalam sebuah artikel berjudul "Makna Penggunaan Kober Ganesha Saat Umat Hindu Melaksanakan Tawur Kesanga" yang ditulis oleh Drs. Dewa Nyoman Redana M.Si. Artikel tersebut merupakan prosiding seminar "Lokal Genius dalam Perspektif Kebijakan Publik, Hukum, Manajemen, Pertanian dan Pendidikan" yang digelar P3M Unipas Singaraja pada Oktober 2015.
Nyejer juga bermakna menegakkan bakti kepada Tuhan sebagai kekuatan dasar dalam menghadapi dinamika kehidupan. Dimana rasa ketuhanan yang tangguh diyakini akan. Memberikan manusia kekuatan untuk mengendalikan hidup sehari hari yang dihadang oleh berbagai bentuk godaan. Kata nyejer berasal dari kata "jejer"yang artinya tegak tak tergoyahkan.
[pilihan-redaksi2]
Jadi, tujuan nyejer sesungguhnya membangun sraddha dan bhakti yang tangguh atau jejer pada Tuhan. Upacara Nyejer memiliki makna mirip dengan tradisi Hindu di India yang biasa dikenal dengan istilah akanda bajan. Istilah tersebut memiliki makna memuja Tuhan secara terus menerus.
Namun pelaksanaan akanda bajan dengan Nyejer sedikit berbeda. Dalam akanda bajan, pemujaan Tuhan dilakukan dengan mengidungkan nama-nama Tuhan terus-menerus. Ada akanda bajan dilakukan selama 12 jam, ada yang 24 jam, bahkan ada yang sampai tiga hari pemujaan dilakukan terus-menerus. Ada juga yang dilakukan secara bergantian. [bbn/mul]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
01
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4533 Kali
02
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2344 Kali
03
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1997 Kali
04
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1608 Kali
05
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1049 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026