Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Driver GOJEK di Bali, Mantan Satpam Hingga Mahasiswi S2 Unud

Jumat, 17 Mei 2019, 21:20 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Driver GOJEK di Bali berasal dari berbagai kalangan, mulai mantan tenaga satuan pengamanan (Satpam) hingga mahasiswi S 2 manajemen bisnis di Universitas Udayana. Selain waktu kerja yang fleksibel, penghasilan sebagai driver GOJEK dinilai lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 
[pilihan-redaksi]
Hal ini terungkap dalam acara "Ngobrol Bareng GOJEK" di Sector Bar, Sanur (17/5/2019). Di kesempatan ini, salah satu diver GOJEK, I Made Muska Adi, mengatakan sebelum bergabung dengan GOJEK, ia bekerja sebagai tenaga satuan pengamanan di sebuah restauran di Kuta. 
 
"Awalnya saya iseng-iseng ikut jadi pengemudi GOJEK, sebelumnya saya bekerja sebagai "security", saya mulai gabung tiga tahun lalu," kenang Made. 
 
Made Muska Adi menuturkan, sewaktu bekerja sebagai tenaga satpam, gaji yang diperoleh tidak sempat dinikmati apalagi untuk ditabung.
 
"Gaji cuma mampir sebentar lalu habis untuk menutup hutang. Setelah menjadi driver GOJEK, di dompet saya selalu isi uang. Misal pas dapat 300 ribu rupiah sehari, masih bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan ditabung untuk keperluan mendadak termasuk untuk servis kendaraan," ujar pria yang pernah mendapat penghargaan driver berprestasi tahun 2017. 
 
Made memilih bekerja sebagai driver GOJEK karena waktu kerja yang fleksibel. Bisa melayani pelanggan misal saat mengantar pesanan makanan saat hujan, juga menjadi kepuasan tersendiri baginya. Dari penghasilan sebagai driver GOJEK, Made bahkan bisa membeli motor.
 
"Waktu kerja yang fleksibel, saya jadi bisa "ngayah" (melakukan kewajiban sosial) di banjar (dusun), "ngayah" saat upacara odalan di pura dan kegiatan lainnya. Selesaikan tugas dan kewajiban dulu di banjar atau pura, setelah itu baru "ngojek","ujarnya. 
 
Made mengaku perkejaan sebagai driver GOJEK akan dilakukan sampai ia mampu melakukannya. Sambil bekerja sebagai driver GOJEK, Made juga mengaku mulai mengumpulkan modal untuk membuka usaha.
 
[pilihan-redaksi2]
"Pekerjaan sebagai driver GOJEK ini tergantung stamina dan umur. Umur semakin bertambah tentu saya harus mulai menyiapkan diri untuk membuka usaha jika nanti sudah tidak menjadi driver GOJEK," ujarnya.
 
Selain Made, driver GOJEK lain yang juga menyampaikan pengalamannya adalah driver GOJEK perempuan bernama Indri Umbo Lado. Jika Made adalah mantan satpam, maka Indri adalah seorang mahasiswi strata 2 (S2) di Universitas Udayana. 
 
"Saya kuliah di UNUD jurusan Manajemen Bisnis ambil S2," ujar mahasiswi asal luar Bali, berumur 29 tahun ini. 
 
Indri mengaku kini bisa lebih rutin "narik" GOJEK, karena ia sudah berada di tahap akhir kuliahnya. Kegiatan perkualiahan sudah habis, tinggal menyelesaikan tugas akhirnya. 
 
"Saya ikut jadi driver GOJEK karena biaya hidup di Bali mahal,  biar ada uang tambahan untuk sehari-hari.  Waktunya fleksibel sambil kuliah S2,"ujarnya. 
 
Sebelum bergabung jadi driver GOJEK, Indri mengaku penasaran dengan penghasilan driver GOJEK dari cerita-cerita yang ia dengar. 
 
"Awalnya coba-coba kerja, daftar (ke kantor GOJEK) dan kemudian bisa langsung kerja, hasilnya lumayan," kenangnya. 
 
Banyak suka duka yang dialami Indri saat menjadi driver GOJEK perempuan.
 
"Dukanya pernah ngantuk di jalan sampai nabrak tiang listrik, kemudian dimarah "customer", dan lainnya. Tapi banyak juga sukanya, selain penghasilan lumayan, juga pernah mendapat apresiasi dari customer bule saat saya antar go food (makanan), katanya percakapan bahasa Inggris saya bagus," ujarnya. 
 
“Kisah yang mitra kami sampaikan dalam kesempatan kali ini, dan temuan survey LD FEB UI tentunya menjadi penyemangat bagi GOJEK untuk terus menjadi super-app yang mendapatkan tempat di hati masyarakat Bali. Kami harap GOJEK dapat terus menjalin kerja sama dengan masyarakat setempat sehingga semakin banyak yang hidupnya dimudahkan oleh teknologi GOJEK,” ujar  Alvita Chen, Senior Manager Corporate Affairs GOJEK.
 
“Sustainability atau keberlangsungan, adalah kata kunci strategi GOJEK untuk menjaga kesejahteraan mitra driver dan memastikan agar GOJEK dapat terus berkontribusi kepada perekonomian lokal,” imbuhnya. [bbn/rls/psk]
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami