Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Sering Tak Masuk Kelas Demi Penelitian, Siswa Denpasar Berjaya di Intel ISEF 2019.
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Amerika. Dua orang siswa SMAN 3 Denpasar berhasil menorehkan prestasi dalam ajang kompetisi The Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2019 di Phoenix Amerika. Kedua siswa tersebut yaitu I Made Wiratathya Putramas dan Carolline Mathilda Nggebu yang membawakan hasil penelitian yang berjudul Identifikasi Potensi Mangrove Jenis Rhizophora apiculata dan Sonneratia alba dari Pantai Serangan Bali Sebagai Sumber Bioantifouling Dalam Cat Antifoulant.
[pilihan-redaksi]
I Made Wiratathya Putramas dan Carolline Mathilda Nggebu dinyatakan berhasil meraih 4th Grand Award bidang ilmu lingkungan dan penghargaan spesial dari Sigma XI dalam Interl ISEF 2019 yang pengumuman pemenangnya dilakukan pada tanggal 16-17 Mei 2019. Keduanya sebelumnya berangka ke USA bersama Tim LIPI dalam status sebagai pemenang kompetisi LIPI tahun lalu.
Carolline mengakui membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk dapat ikut serta dalam ajang Intel ISEF 2019. Dimana tantangan yang paling berat adalah mengatur waktu untuk belajar dan penelitian.
“Kurang lebih 1 tahun, mulai dari ikut LKIR LIPI 2018, jadi juara, hingga terpilih jadi salah satu delegasi Indonesia ke Intel ISEF 2019. Lika likunya lumayan banyak ya karena kita masih sekolah jadi harus manage waktu buat belajar sama penelitian. Sering juga gak masuk kelas dan gak ikut kegiatan lain. Dana yang dibutuhkan juga besar sedangkan cari sponsor pendanaan susah. Tapi semuanya terbayar lah dengan 2 awards yang kita dapat” ujar Carolline saat dihubungi melalui telepon pada Senin (20/5)
Menurut Carolline, awalnya tidak memasang target terlalu tinggi dalam ajang Intel ISEF 2019. “Pastinya gak nyangka banget, karena memang dari awal tidak menetapkan target yang terlalu tinggi, yang penting pengalamannya ikut lomba di ajang terbesar sedunia. Tapi tetap bersyukur banget bisa membawa nama Indonesia ke panggung internasional” kata Carolline.
Kedua siswa tersebut awalnya tertarik melakukan penelitian setelah mengamati proses biofouling atau penempelan biologis pada infrastruktur pantai. Dimana peristiwa ini berpotensi invasif menyebabkan kerusakan, menambah berat kapal, memperpendek umur dan daya guna infrastruktur.
Pada sisi lain, penggunaan cat antifoulant yang mengandung TBT selama ini telah dilarang karena menimbulkan efek buruk pada organisme laut nontarget. Akibatnya diperlukan bahan pengganti alami. Bahan tersebut didapatkan dari isolasi senyawa antifouling yang dihasilkan secara alami dari organisme laut dan pantai seperti mangrove jenis Rhizophora apiculata dan Sonneratia alba.
Hasil uji lapangan secara umum menunjukkan jika ekstrak Rhizopora apiculata dan Sonneratia alba menunjukkan aktivitas antifouling yang baik. Sedangkan dilihat dari konsentrasi ekstrak yang digunakan, konsentrasi 12,5% lebih efektif untuk mencegah fouling dibandingkan konsentrasi 25% dan 50%.[bbn/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3810 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1756 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang