Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Menguatnya Identitas Primordial Dapat Mengancam Persatuan Bangsa
Senin, 5 Agustus 2019,
09:08 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Salah satu permasalahan yang dihadapi Indonesia dewasa ini adalah terjadinya penguatan identitas primordial dan sektarian di dalam masyarakat, yang dapat mengancam persatuan sebagai bangsa.
[pilihan-redaksi]
Hal tersebut diungkapkan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Christriyati Ariani, Minggu (4/8) di Sanur, Denpasar. "Ancaman ini tentu harus dijawab dalam suatu bentuk langkah yang kontekstual, pragmatis serta berkelanjutan," jelasnya.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Christriyati Ariani, Minggu (4/8) di Sanur, Denpasar. "Ancaman ini tentu harus dijawab dalam suatu bentuk langkah yang kontekstual, pragmatis serta berkelanjutan," jelasnya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan pada Pasal 7 secara tegas, menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan pemajuan kebudayaan, langkah-langkah atau strategi pendidikan atau pembelajaran kebudayaan bagi generasi muda adalah dengan melakukan pengarusutamaan Kebudayaan melalui pendidikan.
"Pembelajaran keragaman kebudayaan dirasa sangat penting dan salah satu upaya yang efektif untuk mengatasi sektarianisme sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya. sejalan dengan Undang-Undang tersebut, pembelajaran keragaman budaya antara lain bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, serta memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa (pasal 4) dengan berasas pada toleransi, keberagaman, partisipatif dan kebebasan berekspresi (pasal 3)," paparnya.
Menurut Dia, salah satu cara yang dirasa cukup efektif adalah dengan melakukan simulasi-simulasi, dalam arti melakukan kegiatan-kegiatan yang mencerminkan kebudayaan secara umum. Ia memberi contoh dengan mengunjungi museum atau obyek wisata yang berbasis budaya, mengaktifkan permainan tradisional, menyanyikan lagu-lagu daerah, atau menyelenggarakan kegiatan budaya. (bbn/aga/rob)
Berita Premium
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3810 Kali
02
03
04
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1756 Kali
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026