Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 4 Agustus 2026
Penjelasan BMKG Soal Panas yang Menyengat di Bali
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena menjelang dan memasuki bulan Desember di beberapa daerah di Bali yang terasa panas menyengat.
Kasubid Pelayanan Jasa BBMKG Wilayah III, Decky Irmawan mengatakan kondisi tersebut disebabkan karena posisi gerak semu matahari sedang berada di sekitar ekuator dimana Bali juga menerima dampak pemanasan tersebut.
Dijelaskan karena sinar matahari tidak terhalang oleh awan saat diterima oleh permukaan bumi maka panasnya akan diserap secara maksimal.
"Berapa radiasi panas yang masuk dan berapa persen dari yang dilepaskan oleh matahari bisa mencapai 95%, apalagi jika tidak ada awan bisa mencapai 100% panas terserap," paparnya, Senin (2/11/2019)
Ia juga menuturkan sifat dari darat dan laut yang sifatnya cepat menyerap panas serta cepat pula melepas panas. Sedangkan, kebalikannya, air laut lambat menyerap panas serta lambat juga melepas panas.
"Siang hari terasa panas, dikarenakan siang hari permukaan bumi sedang menyerap matahari. Begitu juga pada malam hari gerah terasa, dikarenakan saat itu air laut di sekitar perairan Bali sedang melepaskan panasnya," ungkapnya sembari menambahkan panas selain terjadi di pagi hari, juga terjadi pada malam hari.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 445 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 363 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 308 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 226 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun