Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Angka Kematian Capai 700 Ekor, Kadis: Daging Babi Masih Aman Dikonsumsi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kepala Dinas Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, IB. Wisnuardhana, mengatakan total jumlah babi yang mati di Bali saat ini berkisar antara 600 ekor sampai 700 ekor. Meski sudah ratusan babi yang mati, Wisnuardhana menyatakan daging babi masih aman dikonsumsi karena tidak menular ke manusia.
Menurut Wisnu, hingga saat ini total jumlah babi yang mati mendadak berkisar 600 ekor sampai 700 ekor. Kasus kematian terbanyak ditemukan di wilayah Kabupaten Badung, mengingat jumlah peternak babi yang cukup tinggi.
"Penyebaran virus berawal dari Desa Pesanggaran, Denpasar yang kemudian meluas ke Kecamatan Abiansemal dan Mengwi, Kabupaten Badung," jelasnya saat ditemui Rabu (29/1/2020) usai rapat dengan Gubernur Bali di Jaya Sabha, Denpasar.
Sambil menunggu hasil tes untuk mengetahui penyebab matinya ratusan ekor babi di Bali, Wisnu mengajak peternak menerapkan biosekuriti ketat untuk menyelamatkan babi yang belum terdampak.
Apabila dibandingkan populasi babi di Bali yang mencapai ratusan ribu ekor, Wisnu memastikan bahwa matinya ratusan ekor babi di Bali saat ini tidak akan mengganggu ketersediaan daging babi menjelang hari raya Galungan.
"Jika nanti hasilnya babi yang mati karena demam babi atau penyakit ASF, daging babi tetap aman untuk dikonsumsi karena ini tidak zoonosis, penyakitnya tidak menular kepada manusia. Tapi kalau (babi) yang sudah mati (dagingnya) jangan dimakan, langsung dikubur," jelasnya.
Hingga saat ini penyebab kematian ratusan babi di sejumlah kabupaten/ kota di Bali masih belum diketahui dan baru dikategorikan "penyakit baru" yang ganas. Penyebab kematian ratusan babi di Bali masih diteliti oleh Balai Besar Veteriner (BBvet) Medan setelah mendapat kiriman sampel dari BBvet Denpasar.
Tahap selanjutnya, hasil pemeriksaan tersebut akan dilaporkan kepada Pemerintah Pusat di Jakarta. Setelah dipastikan penyebab dan solusi dari fenomena tersebut, barulah Pemerintah Pusat akan menembuskan hasil penelitian kepada Pemerintah Provinsi Bali.
"Kami tidak mengetahui kapan hasil pemeriksaan sampel akan keluar. Saya juga berpikir, kenapa lama sekali hasilnya (penyebab kematian babi) keluar," ujarnya.
Menurut Wisnuardhana, hingga saat ini belum ada obat dari penyakit demam babi (ASF). Jika virus ASF ternyata menjadi penyebab kematian ratusan babi di Bali, maka hal yang bisa dilakukan oleh peternak babi di Bali hanya upaya pencegahan dini.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3893 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2858 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2043 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1997 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1805 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun