Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Angka Kematian Capai 700 Ekor, Kadis: Daging Babi Masih Aman Dikonsumsi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kepala Dinas Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, IB. Wisnuardhana, mengatakan total jumlah babi yang mati di Bali saat ini berkisar antara 600 ekor sampai 700 ekor. Meski sudah ratusan babi yang mati, Wisnuardhana menyatakan daging babi masih aman dikonsumsi karena tidak menular ke manusia.
Menurut Wisnu, hingga saat ini total jumlah babi yang mati mendadak berkisar 600 ekor sampai 700 ekor. Kasus kematian terbanyak ditemukan di wilayah Kabupaten Badung, mengingat jumlah peternak babi yang cukup tinggi.
"Penyebaran virus berawal dari Desa Pesanggaran, Denpasar yang kemudian meluas ke Kecamatan Abiansemal dan Mengwi, Kabupaten Badung," jelasnya saat ditemui Rabu (29/1/2020) usai rapat dengan Gubernur Bali di Jaya Sabha, Denpasar.
Sambil menunggu hasil tes untuk mengetahui penyebab matinya ratusan ekor babi di Bali, Wisnu mengajak peternak menerapkan biosekuriti ketat untuk menyelamatkan babi yang belum terdampak.
Apabila dibandingkan populasi babi di Bali yang mencapai ratusan ribu ekor, Wisnu memastikan bahwa matinya ratusan ekor babi di Bali saat ini tidak akan mengganggu ketersediaan daging babi menjelang hari raya Galungan.
"Jika nanti hasilnya babi yang mati karena demam babi atau penyakit ASF, daging babi tetap aman untuk dikonsumsi karena ini tidak zoonosis, penyakitnya tidak menular kepada manusia. Tapi kalau (babi) yang sudah mati (dagingnya) jangan dimakan, langsung dikubur," jelasnya.
Hingga saat ini penyebab kematian ratusan babi di sejumlah kabupaten/ kota di Bali masih belum diketahui dan baru dikategorikan "penyakit baru" yang ganas. Penyebab kematian ratusan babi di Bali masih diteliti oleh Balai Besar Veteriner (BBvet) Medan setelah mendapat kiriman sampel dari BBvet Denpasar.
Tahap selanjutnya, hasil pemeriksaan tersebut akan dilaporkan kepada Pemerintah Pusat di Jakarta. Setelah dipastikan penyebab dan solusi dari fenomena tersebut, barulah Pemerintah Pusat akan menembuskan hasil penelitian kepada Pemerintah Provinsi Bali.
"Kami tidak mengetahui kapan hasil pemeriksaan sampel akan keluar. Saya juga berpikir, kenapa lama sekali hasilnya (penyebab kematian babi) keluar," ujarnya.
Menurut Wisnuardhana, hingga saat ini belum ada obat dari penyakit demam babi (ASF). Jika virus ASF ternyata menjadi penyebab kematian ratusan babi di Bali, maka hal yang bisa dilakukan oleh peternak babi di Bali hanya upaya pencegahan dini.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6013 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2343 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2243 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan