Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Babi Mati Tembus 888 Ekor, Distan Bali: Kami Belum Tahu Sebab Pastinya
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Ratusan babi di beberapa wilayah kabupaten di Bali mati mendadak akibat penyakit menular. Hingga kini pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali belum mengetahui penyebab pasti matinya ratusan ekor babi di Bali ini, karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Balai Besar Veteriner (bbvet) Medan.
Upaya penyemprotan kandang babi dengan desinfektan dilakukan pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, pasca matinya ratusan ekor babi di sejumlah wilayah di Bali. Hingga tanggal 31 Januari 2020, jumlah babi yang mati sudah mencapai 888 ekor babi. Babi yang mati langsung dikubur pemiliknya untuk menghindari penularan ke babi lainnya.
Kematian babi tertinggi terjadi di kabupaten Badung yakni berjumlah 598 ekor dan kabupaten Tabanan berjumlah 219 ekor. Di kota Denpasar jumlahnya 45 ekor dan kabupaten Gianyar jumlahnya 24 ekor. Di kabupaten Bangli dan kabupaten Karangasem masing-masing satu ekor. Dan yang masih nihil kematian babi yakni Jembrana, Buleleng dan Klungkung.
"Hingga kini kita belum mengetahui secara pasti penyebab matinya ratusan ekor babi di Bali. Namun penyakit ini dipastikan disebarkan oleh virus karena banyak babi mati dalam waktu singkat," jelas I Ketut Gede Nata Kesuma, Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, saat memberi keterangan kepada wartawan, di Denpasar, Jumat (31/1/2020).
Meski jumlah babi yang mati sudah mencapai 888 ekor dan kemungkinan akan bertambah, namun kondisi ini dipastikan tidak mengganggu stok daging babi jelang hari raya Galungan di bulan Februari, karena jumlah ternak babi di Bali mencapai 800 ribu ekor lebih.
Terkait matinya ratusan ekor babi dalam tempo singkat, pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali sudah menempatkan puluhan personel di 26 lokasi di Bali untuk memantau kematian babi ini. Jika kematian babi belum bisa diatasi, kasus kematian babi dikhawatirkan akan semakin meluas ke seluruh wilayah Bali.
"Penyakit yang membunuh ratusan babi ini belum ada vaksinnya. Upaya yang bisa dilakukan saat ini hanya dengan melakukan bio security secara ketat di peternakan babi dan menghindari pemberian pakan dari sumber-sumber yang sudah terkontaminasi," jelas Nata Kesuma.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5926 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4648 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan