Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Sejarah Penanganan Virus Spanyol di Jawa Tahun 1919
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kurva tingkat kematian di Jawa selama tahun 1919. Pada awal tahun 1919 jumlah kematian paling tinggi yang disebabkan karena penyebaran penyakit yang sangat cepat dan belum terkonsentrasinya tindakan medis yang diambil oleh pemerintah.

Diantara para pejabat kolonial masih terdapat kebingungan dari daerah mana penyakit itu berasal dan daerah mana penyebarannya. Pada bulan maret 1919 langkah-langkah kuratif mulai dilakukan dengan membentuk tim penanggulangan influenza.
Akan tetapi kurangnya koordinasi diantara anggota tim mengakibatkan kinerja tim tidak segera efektif. Ini merupakan salah satu penyebab penyakit influenza tidak segera teratasi dan mengalami lonjakan korban, seperti yang terjadi pada akhir April 1919.
Setelah terdapat kestabilan koordinasi, tim bisa bekerja dengan baik sehingga langkah-langkah penanggulangan dapat diambil yang mampu menekan tingkat kematian sampai akhir 1919.
Jamu Obat Influenza
Penjual jamu keliling, yang beraktivitas di pusat-pusat perekonomian tradisional Jawa pada tahun 1920-an. Jamu disini adalah hasil adonan dari ramuan tanaman tradisional dan diambil sarinya. Setelah dicampur dengan air, hasil adonan ini kemudian bisa disajikan sebagai minuman.

Minuman tersebut memiliki khasiat yang berpengaruh positif pada kesehatan tubuh peminumnya. Khasiat tersebut bukan hanya berfungsi untuk menyehatkan tapi juga menyembuhkan penyakit. Ketika terjadi wabah influenza pada tahun 1919 di Jawa, sebagian besar masyarakat Jawa berpaling pada pengobatan dengan jamu.
Setidaknya dua faktor menjadi dasarnya: yang pertama pengobatan medis Barat belum banyak dikenal oleh masyarakat, dan yang kedua jamu dipercaya mampu menyembuhkan penyakitnya serta terjangkau oleh masyarakat. Faktor kepercayaan memainkan peranan penting bagi penyembuhan atas pasien sakit.
Beberapa laporan dari daerah yang terkena penyakit influenza seperti Rembang dan Blora menyebutkan bahwa jamu cabe lempuyang dan temulawak menjadi obat utama bagi pasien. Kedua jenis jamu ini merupakan minuman yang sering dijumpai di kalangan orang-orang Jawa tradisional.
Sumber: Lampiran Buku “Yang Terlupakan Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda”
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3836 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1781 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang