Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ada Menara Eiffel Bambu di DTW Munduk Nangka Jembrana

Rabu, 11 Agustus 2021, 23:45 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/DTW Munduk Nangka menawarkan panorama persawahan Jembrana.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Di masa pandemi covid-19 sejumlah tempat wisata di Kabupaten Jembrana sangat terdampak dengan adanya penurunan pengunjung akibat pemberlakuan PPKM level 4. 

Seperti yang dialami oleh Agrowisata yang dibuat Pokdarwis Mekar Sejati sejak 2018 silam. Namun baru dibuka untuk umum akhir tahun 2020. Pada saat dibuka  sempat menjadi tempat primadona warga untuk berwisata. 

Namun sejak pandemi, kunjungan mengalami penurunan drastis sehingga pengelola harus mengencangkan ikat pinggang untuk perawatan agar tetap menjadi destinasi warga berwisata. 

Agrowisata  yang  berada di tengah-tengah persawahan subak Pangkung Jelepung 1 Desa Brangbang itu dinamai Daerah Tujuan Wisata (DTW) Munduk Nangka. 

Panorama persawahan terasering Subak Pangkung Jelepung 1 dan juga beberapa ornamen dan bangunan ikonik untuk berswafoto menjadi daya tarik tersendiri yang ditawarkan DTW Munduk Nangka. Pengunjung juga disuguhi pemandangan alam Jembrana dari ketinggian melalui rakitan bambu yang dirakit seperti menara Eiffel Prancis.

Ketua kelompok sadar wisata I Made Widi Astika mengaku sejatinya DTW Munduk Nangka dirintis sejak 2018 lalu. Namun baru terwujud dan dibuka untuk umum tiga bulan lalu (September 2020). 

“Kami rintis 2018 lalu. Sempat mandeg, kemudian bersama-sama Pokdarwis dan didukung Pemerintah Desa Berangbang, kami berhasil mewujudkan pembangunannya seperti sekarang,” ujarnya.

Widi Astika menambahkan, di tengah sepinya pengunjung karena pandemi Covid-19 tetap melakukan perawatan dan menambah daya tarik lagi. 

“Kami juga masih menyiapkan tempat untuk camping ground dengan panorama alam sawah dan kota Negara dari ketinggian,” ujarnya.

Menurutnya salah satu kendala yang dihadapi yaitu belum masih adanya akses jalan yang baik. Karena jika musim hujan makan jalan aksen menuju lokasi wisata sedikit licin sehingga kenyamanan masyarakat menuju lokasi sedikit terganggu.

 Pengelolaan agrowisata ini, dilakukan secara swadaya kelompok sadar wisata di bawah naungan badan usaha milik desa. 

Sedangkan lahan, tanah pribadi milik warga dengan sistem kerjasama dengan pengelola. “Harapannya, pemerintah daerah juga membantu dalam melakukan penataan agrowisata ini,” tandasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/jbr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami