Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 11 Juni 2026
Perpaduan Bali-Bugis di Tradisi "Mesunat" di Desa Pengambengan
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Keharmonisan tradisi kearifan lokal bukan hanya tulisan dan bahas semata. Ini tetap dilestarikan baik dari nilai agama dan adat budaya.
Di Bali banyak corak ragam seni dan budaya bahkan sampai ke mancanegara. Seperti Salah satu tradisi yang berada di Bali Barat masih, yang tidak bisa lekang oleh waktu untuk mempertahankan kearifan lokal turun temurun dari generasi ke generasi.
Dimana setiap acara agama tentu mempunyai daya magis tersendiri. Budaya tersebut yaitu Budaya khitanan. Dimana masyarakat Bali Barat di Desa Pengambengan masih memegang teguh tradisi ini.
Tradisi dari turun temurun tersebut dikuatkan oleh Pak Ali tokoh tua mengatakan, khitan atau bahasa kampung yang biasa disebutkan dengan kata "mesunat" ternyata mempunyai akar nilai budaya adat yang sangat lestari. Dengan sajian khas budaya Bali.
"Saat anak di khitan (mesunat) disitu ada nilai religius yang terpapar. Orang tua yang akan mengkhitanan anaknya harus menentukan hari baik. Bahkan secara garis turun tetap meminta ijin kepada Puri Jembrana, bahkan di hari H segala upakarapun harus disiapkan," ungkap Pak Ali.
"Mulai dari upah-upah lengkap seperti ada nasi kepal, telur rebus, air, sayur kelor, dan sayur terong yang kecil-kecil berbentuk bulat. Sajian ini di taruh dalam bentuk daun yang tekorkan. Tidak hanya itu budaya kental Bugis disatukan dalam sajian tersebut," imbuh Pak Ali.
Pak Ali menambahkan, nasi 5 warna terdiri hijau, hitam, putih, merah, kuning ini di bentuk kerucut, ada pula pelita kambang, ada kain warna 5 sama dengan nasi. Payung Bugis dan udeng Bugis serta keris di letakkan dalam satu talam, ditambah bambu gesing yang di belah menjadi 5 kemudian di colok.
Pernik budaya Bali dan Bugis inilah yang ternyata tak pernah hilang. Adat ini selalu dilakukan masyarakat pesisir Desa Pengambengan.
Setelah acara khitanan (mesunat) semua upakara ini di buang di laut sebagai rasa syukur, karena laut tempat bagi para leluhur di keturunan adat Bugis.
Jika ini diamati tentu hal sama yang dilakukan nyame Bali. Sesaji ini tentu hal yang sakral dilakukan. Kelestarian adat budaya ini tetap harmoni bahkan tak pernah ada pertentangan bagi nyame Selam dan nyame Hindu. Semua berjalan dengan ajeg tanpa perselisihan dimana nilai saling hormat-menghormati tak hanya isapan kata-kata saja.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli