Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bayi Rawan Disasar "Magic", Jero Gendeng Ungkap Penyebabnya

Selasa, 4 Januari 2022, 23:35 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Bayi Rawan Disasar

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Masyarakat Bali yang memiliki seorang bayi sangat mewaspadai gangguan yang datang mengganggu sang bayi, utamanya gangguan ilmu hitam atau magic. Salah satunya dilakukan dengan melindungi ari-ari dengan beragam upaya.

Seperti menerangi tempat ari-ari ditanam, menutup ari-ari dengan keranjang bambu, ada pula yang menutup ari-ari dengan anyaman daun kelapa atau klangsah. Keyakinan ini dianut masyarakat Bali sejak lama. 

Bahkan, masyarakat meyakini bahwa bayi juga menjadi incaran penekun ilmu leak aliran kiri (pengiwa). Bukan saja berupaya melengkapi semua tahapan upacara seorang bayi, tak jarang orang Bali mencari perlindungan eksternal dengan nunasin kepada pakar spiritual, seperti Jero Mangku maupun Balian. 

Apa yang sesungguhnya membuat seorang bayi rawan gangguan dan diincar penekun leak aliran kiri? Menurut penekun spiritual, Jero Master Made Bayu alias Bayu Gendeng, hal itu salah satunya berkaitan nyama papat sang bayi. 

"Karena di usia Balita, nyame papatnya sedang merantau atau sering meninggalkan dia untuk mengenal dunia luas," ujar pria yang juga peramal profesional ini. 

Dia menerangkan, dalam keyakinan Hindu Bali, setiap kelahiran dibekali empat kehidupan yang terdiri dari air ketuban, darah, tali pusar, ari ari nanti akan bergelar bernama Sang Dengen, Sang Kala, Sang Preta dan Sang Anta. 

Setelah kepus pungsed, Sang anta akan menjadi I Salahir, Sang Preta atau tali pusar itu jadi I Makahil, Sang Kala menjadi I Merkahir, sedangkan Sang Dengen jadi I Salabir. Sedangkan badan manusia itu bernama Lega Prana. 

Seiring bertambahnya usia, nyama papat itu seseorang dengan tubuh manusia itu saling ingat saling mengingat satu sama lain. Namun umumnya pada umur 4 tahunan, keempat sosok itu kemudian akan ke segala penjuru.

"Nah di sinilah kadang-kadang itu bisa saling melupakan karena nyama papat itu sibuk mengenal dunia ini mulai memahami ke segala penjuru itu ke timur ke selatan ke barat dan Utara. Mereka saling belajar tentang kehidupan itu akan berubah menjadi anggapati prajapati banaspati banaspati Raja," urainya.

Dia menambahkan, anak yang masih kecil akan sangat rawan dengan serangan-serangan, baik dari keadaan cuaca alam maupun dari energi-energi gaib negatif.

"Oleh karena itu jangan sampai nyame papat gaibnya itu dilupakan. Karena nyame gaibnya itulah penjagaan utama dari serangan-serangan gaib," tutup Putra Klungkung ini. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/dps



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami