Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 14 Mei 2026
Ekonomi Global Sedang Tidak Baik-baik Saja
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut kondisi perekonomian global sedang tidak baik-baik saja. Dua negara terkuat di dunia, Amerika Serikat dan China, sedang terancam perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Sri pelemahan ekonomi dipicu invasi Rusia ke Ukraina yang membuat harga energi dan pangan dunia naik sehingga laju inflasi di berbagai negara melambung tinggi.
"Munculnya masalah geopolitical baru perang Rusia-Ukraina ini persaingan negara dengan Eropa yang terjadinya rambatan dalam bentuk pangan dan energi," kata Sri Mulyani dalam acara Pengarahan Kepada Penjabat Gubernur dan Penjabat Bupati/Penjabat Walikota di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (16/6/2022).
Kondisi ekonomi global diperparah dengan adanya lockdown di China akibat kasus Covid di negara tirai bambu sedang meninggi.
Kondisi itu membuat gejolak di pasar keuangan global, terutama didorong kenaikan suku bunga The Fed sehingga menimbulkan likuiditas yang ketat bagi sektor keuangan global.
"Pengetatan likuiditas dan suku bunga naik sudah menunjukkan basis 75 poin," ujarnya.
Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, resmi mengerek suku bunga acuan mereka sebesar 75 basis poin (bps) atau 0,75 persen.
Kenaikan suku bunga menjadi yang terbesar sejak 1994. Kenaikan suku bunga acuan dalam jumlah besar ini sekaligus sinyal dari The Fed akan langkah agresif yang akan ditempuh untuk menahan inflasi di Amerika Serikat yang terus mendaki di luar perkirakan.
Kondisi ini sedikit membuat ancaman bagi sektor keuangan nasional. Ekonom Digital of Reform on Economic Piter Abdullah mengatakan kenaikan suku bunga The Fed yang begitu tinggi akan membuat spread yield surat-surat berharga akan menyempit dan berpotensi mendorong keluarnya modal asing.
"Kalau BI tidak segera menaikkan suku bunga acuan, saya perkirakan modal asing akan keluar, walaupun tidak besar karena porsi modal asing di dalam negeri memang sudah menurun," kata Piter saat dihubungi Suara.com.
Tapi yang jadi persoalan, kata Piter, ketika adanya aliran keluarnya modal asing, tentunya juga akan diikuti dengan tidak adanya aliran modal asing yang masuk.
"Jelas kondisi ini akan menekan nilai tukar rupiah. rupiah bisa melemah, indeks harga saham pasti akan terkoreksi, harga SUN akan turun, pembiayaan fiskal akan sulit," katanya.
Dia menyarankan agar Bank Indonesia segera memitigasi dampak yang akan timbul dengan naiknya suku bunga The Fed. Dikatakan Piter, BI juga harus ikut menyesuaikan kenaikan yang dilakukan The Fed.
"Jadi saya kira yang harus dilakukan oleh BI adalah segera melakukan penyesuaian suku bunga acuan. menaikkan BI7DRR setidaknya 25 atau bahkan 50 bps," kata Piter.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1259 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 977 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 805 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 735 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik