Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 4 November 2026
China Sebut AS Penghasut Utama Perang Rusia-Ukraina
BERITABALI.COM, DUNIA.
China kembali melontarkan tudingan terhadap Amerika Serikat. Kali Ini terkait perang di Ukraina dengan menyebut Negeri Paman Sam sebegai penghasut utama dalam krisis tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita negara Rusia, TASS, duta besar China untuk Moskow Zhang Hanhui menuduh Washington menyudutkan Rusia dengan ekspansi berulang dari aliansi pertahanan NATO dan dukungan untuk pasukan yang berusaha menyelaraskan Ukraina dengan Uni Eropa, ketimbang Moskow.
"Sebagai pemrakarsa dan penghasut utama krisis Ukraina, Washington, sementara memberlakukan sanksi komprehensif yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia, terus memasok senjata dan peralatan militer ke Ukraina," kata Zhang, Kamis (11/8/2022).
"Tujuan utama mereka adalah untuk menguras dan menghancurkan Rusia dengan perang yang berlarut-larut dan pukulan sanksi," imbuhnya.
'Dukungan' China itu pun menjadi justifikasi atas serangan Rusia ke Ukraina yang telah menyebabkan ribuan kematian dan mendorong lebih dari seperempat penduduk meninggalkan rumah mereka.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan perjalanan ke Beijing pada bulan Februari untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping ketika tank-tank Rusia berkumpul di perbatasan Ukraina.
Kedua negara menyetujui kemitraan "tanpa batas" yang lebih unggul daripada aliansi Perang Dingin mana pun.
Dalam wawancara tersebut, Zhang mengatakan hubungan China-Rusia telah memasuki "periode terbaik dalam sejarah, ditandai dengan tingkat saling percaya tertinggi, tingkat interaksi tertinggi, dan kepentingan strategis terbesar".
Dia pun mengecam kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi minggu lalu ke Taiwan dan mengatakan Amerika Serikat sedang mencoba menerapkan taktik yang sama di Ukraina dan Taiwan untuk menghidupkan kembali mentalitas Perang Dingin, menahan China dan Rusia, serta memprovokasi persaingan dan konfrontasi kekuatan besar.
"Non-intervensi dalam urusan internal adalah prinsip paling mendasar untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di dunia kita," kata Zhang.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 585 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 460 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan