Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 14 September 2026
Dunia Bakal Resesi Semua Tak Pasti, Skenarionya Bikin Ngeri
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perekonomian dunia diramal akan mengalami resesi tahun 2023 mendatang. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, faktor geopolitik global menjadi faktor penentu selain tantangan pemilihan pasca Covid-19.
Baca juga:
AS dan Iran Memanas Lagi, Ada Apa?
"Kalau kita lihat perekonomian dunia volatilitas terus meningkat, risiko geopolitik juga semakin besar," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (4/10/2022).
Andry menjelaskan, situasi faktor geopolitik akan menjadi faktor utama dalam merespon kebijakan moneter suatu negara dan proyeksi ekonomi kedepan. Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina menjadi sorotan para regulator moneter negara maju dalam menentukan kebijakannya.
"Jika bulan Februari lalu Rusia tidak menyerang Ukraina kita bisa melihat ekspektasi tak setinggi ini," ucapnya.
Andry menyebut, perang antara Rusia dan Ukraina tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan diperkirakan akan berlangsung lama yang akan mempengaruhi perekonomian global.
"Fiscal balance Rusia yang diuntungkan akibat perang, kita berangkat ke skenario yang lebih buruk," ucapnya.
Selanjutnya, dari sisi perekonomian, ekonomi AS juga lebih baik dibandingkan dengan negara Eropa. Akibat perang Rusia dan Ukraina mempengaruhi pasokan gas ke Eropa. Sementara itu, AS tidak terlalu terdampak karena telah menjadi negara penghasil Sumber Daya Alam (SDA) termasuk minyak dan gas.
Hal itu yang menyebabkan mata uang di negara Eropa melemah terhadap dolar AS. Seperti diketahui, saat ini mata uang poundsterling dan euro melemah terhadap dolar Amerika Serikat (US$). Bahkan, saat ini Eropa sedang mengalami stagflasi.
"Eropa ekonomi turun tapi inflasi tinggi. Akhir tahun ini menghadapi kebutuhan gas yang meningkat karena memasuki winter," imbuhnya.
Andry menerangkan, pelaku pasar melihat inflasi di AS melonjak dan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) relatif ketat hingga masih diperkirakan akan mengalami kenaikan hingga tahun depan.
"Target kenaikan The Fed sendiri akan berakhir di 2024, baru turun 4 persen. Respon kebijakan tersebut kita perlu perhatikan karena akan berdampak pada ekspektasi resesi," jelasnya.
Banyak lembaga pemeringkat di dunia yang memproyeksikan perekonomian dunia akan terjadi perlambatan pertumbuhan pada 2023 mendatang.
"Di Indonesia juga demikian, bahwa pada 2023 akan flat bahkan pertumbuhannya lebih rendah dari tahun ini. Tapi dari sisi level masih lebih baik," pungkasnya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3392 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 1774 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 986 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan