Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Dunia Bakal Resesi Semua Tak Pasti, Skenarionya Bikin Ngeri
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perekonomian dunia diramal akan mengalami resesi tahun 2023 mendatang. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, faktor geopolitik global menjadi faktor penentu selain tantangan pemilihan pasca Covid-19.
Baca juga:
AS dan Iran Memanas Lagi, Ada Apa?
"Kalau kita lihat perekonomian dunia volatilitas terus meningkat, risiko geopolitik juga semakin besar," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (4/10/2022).
Andry menjelaskan, situasi faktor geopolitik akan menjadi faktor utama dalam merespon kebijakan moneter suatu negara dan proyeksi ekonomi kedepan. Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina menjadi sorotan para regulator moneter negara maju dalam menentukan kebijakannya.
"Jika bulan Februari lalu Rusia tidak menyerang Ukraina kita bisa melihat ekspektasi tak setinggi ini," ucapnya.
Andry menyebut, perang antara Rusia dan Ukraina tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan diperkirakan akan berlangsung lama yang akan mempengaruhi perekonomian global.
"Fiscal balance Rusia yang diuntungkan akibat perang, kita berangkat ke skenario yang lebih buruk," ucapnya.
Selanjutnya, dari sisi perekonomian, ekonomi AS juga lebih baik dibandingkan dengan negara Eropa. Akibat perang Rusia dan Ukraina mempengaruhi pasokan gas ke Eropa. Sementara itu, AS tidak terlalu terdampak karena telah menjadi negara penghasil Sumber Daya Alam (SDA) termasuk minyak dan gas.
Hal itu yang menyebabkan mata uang di negara Eropa melemah terhadap dolar AS. Seperti diketahui, saat ini mata uang poundsterling dan euro melemah terhadap dolar Amerika Serikat (US$). Bahkan, saat ini Eropa sedang mengalami stagflasi.
"Eropa ekonomi turun tapi inflasi tinggi. Akhir tahun ini menghadapi kebutuhan gas yang meningkat karena memasuki winter," imbuhnya.
Andry menerangkan, pelaku pasar melihat inflasi di AS melonjak dan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) relatif ketat hingga masih diperkirakan akan mengalami kenaikan hingga tahun depan.
"Target kenaikan The Fed sendiri akan berakhir di 2024, baru turun 4 persen. Respon kebijakan tersebut kita perlu perhatikan karena akan berdampak pada ekspektasi resesi," jelasnya.
Banyak lembaga pemeringkat di dunia yang memproyeksikan perekonomian dunia akan terjadi perlambatan pertumbuhan pada 2023 mendatang.
"Di Indonesia juga demikian, bahwa pada 2023 akan flat bahkan pertumbuhannya lebih rendah dari tahun ini. Tapi dari sisi level masih lebih baik," pungkasnya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6011 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2342 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2241 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan