Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Tiga Abad Berlalu, Pura Kawitan Ki Pasek Badeg Gelar Karya Agung

Pasca-Erupsi Gunung Agung tahun 1963 Dilakukan Renovasi Pelinggih

Minggu, 13 September 2026, 09:56 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Tiga Abad Berlalu, Pura Kawitan Ki Pasek Badeg Gelar Karya Agung.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Setelah melewati perjalanan lintas generasi yang diperkirakan mencapai sekitar tiga abad, Pura Kawitan Ki Pasek Badeg, Desa Adat Badeg Tengah, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, bersiap menggelar Karya Agung Numbung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Mepedudusan Agung, Manawa Ratna, dan Balik Sumpah.

Karya agung tersebut menjadi momentum penting bagi pasemetonan Ki Pasek Badeg untuk memperkuat sradha bhakti sekaligus menjaga warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Puncak karya dijadwalkan berlangsung pada Rahina Saniscara Umanis Watugunung, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, Sabtu (31/10/2026).

Sebelum menuju puncak karya, rangkaian upacara telah dimulai. Pada Sukra Umanis Menail, Jumat (11/9/2026), dilaksanakan prosesi memakuh, mlaspas warung, negtegang, ngadegang Dewa Tapini, Guru Dadi, Rare Anggon, Mapangalang Sasih, serta Pengemit Karya.

Prosesi tersebut dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabe Tri Sadhu Natha dari Griya Narmada Wates Tengah, Karangasem, serta didampingi Ketua PHDI Kecamatan Selat Jro Mangku Gede Wayan Sudana.

Karya ini mengambil tingkatan Madianing Utama dengan sarana upacara berupa makebo satu ekor, sapi satu ekor, kambing delapan ekor, kucit butuan, angsa, penyu, dan asu belangbungkem sebagai bentuk penghormatan dan penyucian parhyangan.

Ketua Panitia sekaligus Penglingsir Dadia Taman, Jro Nyoman Sidia, mengatakan pelaksanaan karya dengan tingkatan tersebut menjadi momentum bersejarah bagi pasemetonan Ki Pasek Badeg. Berdasarkan penelusuran para penglingsir, karya besar serupa diperkirakan belum pernah dilaksanakan selama sekitar lima generasi.

"Melalui penelusuran para penglingsir secara turun-temurun, belum ditemukan catatan pasti kapan parhyangan ini pertama kali dibangun dan kapan pernah melaksanakan karya besar seperti ini. Namun dari penuturan para leluhur secara lisan, Pura ini sudah sangat lama berdiri, dituturkan secara turun menurun dari 4-5 generasi," ujar Jro Nyoman Sidia didampingi Jro Mangku Putu Mandi dan penglingsir I Putu Merta, Jumat (11/9/2026).

Ia menjelaskan, dengan menggunakan perkiraan usia rata-rata satu generasi sekitar 80-100 tahun, keberadaan pura tersebut jika ditarik hingga lima generasi ke atas diperkirakan telah ada sejak lebih dari 300 tahun lalu.

"Kalau dihitung perkiraannya keberadaan pura ini sudah ada sejak akhir tahun 1700-an. Namun para lingsir tidak menyebut pernah ada karya sebesar ini, hanya rutinitas pujawali setiap enam bulan atau setahun dua kali," jelasnya.

Rangkaian Sakral Menuju Puncak Karya

Selaku Yajamana Karya, IPM Nabe Tri Sadhu Natha menjelaskan rangkaian karya telah diawali dengan prosesi mapinuning, nuasen karya, hingga nanceb taring.

Tahapan kemudian dilanjutkan dengan berbagai prosesi upacara yang menjadi bagian dari persiapan menuju puncak karya.

"Setelah mlaspas warung dan negtegan, rangkaian dilanjutkan dengan ngingsah nyangeling beras pada Buda Umanis Prangbakat, molong sunari, mapepada wewalungan, mlaspas, caru Rsigana, mendem pedagingan, pawintenan lan mejaya-jaya kepada Jro Mangku serta penglingsir Ki Pasek Badeg, kemudian dilanjutkan dengan ngewacen prasasti," paparnya.

Seluruh rangkaian tersebut akan bermuara pada puncak Karya Agung berupa Ngenteg Linggih, Mepedudusan Agung, Mendem Pedagingan, Manawa Ratna, serta Balik Sumpah pada Sabtu (31/10/2026).

Gotong Royong Pasemetonan

Penglingsir Ki Pasek Badeg, Jro Wayan Karma didampingi I Putu Merta, mengatakan pelaksanaan karya agung ini menjadi yang pertama dalam sejarah pasemetonan berdasarkan penelusuran yang dilakukan.

Menurutnya, rangkaian karya dapat terlaksana berkat semangat gotong royong seluruh pasemetonan Ki Pasek Badeg yang tersebar di berbagai wilayah Bali.

"Dengan rasa syukur dan tulus, seluruh pasemetonan Ki Pasek Badeg melaksanakan rangkaian suci ini sebagai wujud bhakti dan sradha. Semua dilakukan dengan semangat ngayah, saling membantu, termasuk pembiayaan yang berasal dari urunan warga pasemetonan," ungkapnya.

Sebelum karya agung digelar, Pura Kawitan Ki Pasek Badeg juga telah menjalani perbaikan dan renovasi secara swadaya selama kurang lebih 15 tahun.

"Kondisi pura sebelumnya cukup memprihatinkan karena faktor usia, ditambah dampak letusan Gunung Agung tahun 1963. Beberapa pelinggih mengalami kerusakan, namun kami masih bisa menyelamatkan peninggalan situs leluhur berupa batu kembung asli yang berasal dari sekitar Gunung Agung," jelas Putu Merta.

Selain merawat bangunan fisik pura, pasemetonan Ki Pasek Badeg juga melakukan penyelamatan warisan naskah leluhur berupa lontar, termasuk Kandan Pasek yang memuat keberadaan Ki Pasek Badeg.

Upaya pelestarian naskah tersebut dilakukan bersama Unit Lontar Universitas Udayana (ULU) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melalui perawatan, alih aksara, dan alih bahasa. Naskah tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Kandan Pasek".

Karya agung di Pura Kawitan Ki Pasek Badeg menjadi bagian dari upaya pasemetonan menjaga kesinambungan tradisi, sejarah, budaya, dan identitas leluhur yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami