Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 14 Agustus 2026
Mantan Presiden Rusia Sebut Satu-Satunya Cara Hindari Perang Dunia Nuklir
beritabali.com/sindonews.com/Mantan Presiden Rusia Sebut Satu-Satunya Cara Hindari Perang Dunia Nuklir
BERITABALI.COM, DUNIA.
Logika sederhana menunjukkan hanya kemenangan Rusia di Ukraina yang akan mencegah perang dunia nuklir. Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengungkapkan hal itu pada Selasa (1/11/2022).
Komentar itu menanggapi seruan dari Barat bahwa Moskow tidak boleh dibiarkan menang.
“Ikuti logika formal sederhana,” bantah Medvedev di Telegram.
“Jika Rusia tidak bisa menang, maka tampaknya Ukraina harus menang. Tujuan perang Ukraina, seperti yang disebutkan oleh rezim Kiev, adalah kembalinya semua wilayah yang sebelumnya menjadi miliknya yaitu, pemisahan mereka dari Rusia,” papar dia.
Medvedev menjelaskan, “Ini akan memenuhi syarat sebagai ancaman terhadap integritas teritorial Rusia dan oleh karena itu alasan langsung untuk menerapkan Klausul 19 dari doktrin negara Rusia tentang pencegahan nuklir, mengacu pada keadaan di mana penggunaan senjata atom oleh Moskow akan dijamin.”
“Jadi, beri tahu saya, siapa yang kemudian mendorong perang nuklir? Apa ini, jika tidak secara langsung memprovokasi perang dunia dengan penggunaan senjata atom? Mari kita sebut sesuatu dengan nama aslinya," tulis Medvedev.
“Barat mendorong terjadinya konflik global. Dan hanya kemenangan penuh dan terakhir dari Rusia yang menjamin tidak akan ada perang dunia,” papar dia.
Medvedev saat ini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia. Sebelumnya, dia adalah perdana menteri Rusia (2012-2020) dan presiden (2008-2012).
Dia telah bicara blak-blakan di jejaring sosial sejak meningkatnya permusuhan di Ukraina. Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, mengutip kegagalan Kiev mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Luhansk di dalam negara Ukraina.
Protokol, yang ditengahi Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada tahun 2014.
Mantan presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu mengakui tujuan utama Kiev adalah menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan “menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.”
Pada Februari 2022, Kremlin mengakui republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.
Negara-negara Barat terus memasok Ukraina dengan persenjataan berat. Perang terus berlanjut dan memakan banyak korban di kedua pihak.(sumber: sindonews.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4513 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2328 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1973 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1597 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1041 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun