Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Arab Saudi Buka Suara Soal Penahanan Pangeran Abdullah
BERITABALI.COM, DUNIA.
Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi di Amerika Serikat buka suara menyusul laporan penahanan dan vonis 30 tahun penjara terhadap salah satu pangeran keluarga kerajaan, Abdullah bin Faisal Al Saud. Dokumen pengadilan Saudi yang didapat Associated Press (AP) menuturkan Pangeran Abdullah ditahan dan dipenjara sepulangnya dari Amerika Serikat, tempat ia mengejar gelar pascasarjana, pada 2020.
"Gagasan bahwa pemerintah Saudi atau lembaganya melecehkan warga negara sendiri di luar negeri tak masuk akal," demikian menurut Kedubes Saudi, seperti dikutip AP awal November lalu.
Kedubes Saudi juga membantah keras tindakan negaranya memata-matai dan mengintai aktivitas warganya di luar negeri, terutama orang-orang yang menjadi target karena mengkritik kerajaan.
"Sebaliknya (klaim tersebut), tugas kami di luar negeri menyediakan layanan beragam, termasuk bantuan medis dan hukum, kepada setiap warga negara yang meminta bantuan saat di luar kerajaan," ujar kedubes menambahkan.
Pangeran Abdullah ditangkap karena dianggap tak pernah berbicara dengan kerabatnya melalui telepon soal penahanan sepupunya yang juga pangeran Saudi saat berada di AS. Percakapan itu ketahuan dinas rahasia Saudi.
Pangeran Abdullah juga dituduh pernah menggunakan telepon umum di Boston untuk berbicara dengan pengacara soal kasus penangkapan sepupunya itu. Ia diduga mengirim uang US$9 ribu untuk membayar taggihan apartemen sepupunya itu di Paris.
Teman-temannya mengatakan Pangeran Abdullah tiba-tiba diminta pulang ke kampung halaman dengan tiket pesawat yang disediakan pemerintah Saudi. Ia disebut diminta belajar jarak jauh selama pandemi.
Menurut Saudi tindakan semacam itu bisa mengganggu kekacauan, gangguan, aliansi sosial, dan mendukung 'musuh' kerajaan.
Sejumlah lembaga pemantau hak asasi manusia mengecam sikap Saudi yang semakin buka-bukaan dalam memata-matai para pengkritik dan pemberontak, tak terkecuali anggota keluarga kerajaan.
Freedom House melaporkan Saudi menargetkan 14 negara termasuk dari Amerika Serikat. Tujuannya untuk memata-matai orang Saudi, meng ceritakan, atau memaksa mereka kembali ke kerajaan.
"Ini mengganggu, menakutkan, dan ini merupakan pelanggaran besar terhadap kebebasan bicara yang dilindungi," kata salah satu anggota Freedom House, Nate Schenkkan.
Sejak Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) menjadi pemimpin de facto Saudi negara Timur Tengah itu makin gemar menahan para pengkritik seperti ulama, aktivis, hingga anggota keluarga kerajaan.
Pangeran Abdullah merupakan mahasiswa pascasarjana di Universitas Northeastern Boston yang telah tinggal di AS untuk beberapa waktu. Menurut teman-temannya, Abdullah kerap menghindari berbicara soal politik Saudi apalagi soal identitasnya di keluarga kerajaan Arab Saudi.
Pangeran Abdullah dianggap fokus pada studi, rencana karir, dan cintanya terhadap sepak bola.
Namun, Pangeran Abdullah diketahui berasal dari salah satu cabang keluarga kerajaan Saudi yang menjadi sasaran penahanan rezim MbS. Pangeran Abdullah bahkan dianggap sebagai kritikus kerajaan hingga saingan MbS sejak sang putra mahota mengkonsolidasikan kekuasaan di bawah sang ayah, Raja Salman, yang sudah lanjut usia.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3830 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1775 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang