Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 20 Juni 2026
Suami Meninggal, Suantari Asuh Anak dan Rawat Mertua Sambil Jualan Jajan
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Setelah lama menderita sakit autoimun, Wayan Nata yang tinggal di Banjar Belaluan, Singapadu, Sukawati, meninggal dunia beberapa hari lalu.
Kini, istrinya bernama Ni Made Suantari (39) yang mengandalkan jualan jajan, berusaha mengasuh dua anak yang masih sekolah. Sekaligus merawat dua mertua yang sudah sepuh.
“Suami sudah setahun sakit, bolak-balik ke rumah sakit. Sakit menyerang autoimun menyerang kekebalan tubuh,” ujarnya, Senin (5/6).
Dikatakannya, sebelum meninggal dunia, perut suaminya mengalami sakit. “Aduh-aduh, keras sekali,” jelasnya menirukan suaminya saat kesakitan.
Akhirnya, suaminya meninggal di rumah sakit. Wayan Nata meninggalkan istri dan dua anaknya, yakni Kadek Wanda (15) yang duduk di bangku SMP dan Komang Oca (11) duduk di bangku SD.
Kini Suantari harus berusaha membesarkan dua anaknya itu. “Saya akan andalkan jualan jajan. Biar bisa menyekolahkan anak,” ujarnya.
Istrinya juga berjuang untuk mencari biaya ngaben yang berlangsung pada Agustus 2024. “Biayanya Rp 7 juta untuk ngaben masal, kami sudah mulai cicil tiap bulan. Kami minjam, itu jalan satu-satunya,” jelasnya.
Untuk keseluruhan, diperkirakan biaya ngaben Rp 10 juta. Istrinya juga merawat dua mertua ayah dan ibu yang sudah tua.
Untuk harga jajan yang dijual seharga Rp 1.000-2.000. “Kami taruh dagangan di warung di Sukawati. Empat hari jualan dapat Rp 700.000, keuntungan setengah dari itu,” ujarnya.
Jajan yang dibuat itu dibantu oleh dua anaknya. Dia berharap, agar anaknya bisa tamat sekolah.
”Saya berusaha, bagaimana caranya, agar anak sampai tamat SMA. Cita-cita bapaknya agar anak sekolah di pariwisata,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun