Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 28 September 2026
Kasus Perkawinan Anak di Bawah Umur di Jembrana Meningkat, Ini Penyebabnya
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Jumlah perkawinan anak di bawah umur di Kabupaten Jembrana mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan peraturan pemerintah yang mengatur tentang usia perkawinan anak menjadi penyebab utama meningkatnya kasus ini.
Menurut Kepala Bidang Pelayanan Administrasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Jembrana, I Komang Sujana, peningkatan kasus tersebut terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
"Pada tahun 2021, hanya tercatat satu kasus perkawinan anak di bawah umur. Namun, jumlahnya meningkat menjadi 14 kasus pada tahun 2022, dan pada pertengahan tahun 2023 ini, sudah ada enam kasus, yang semuanya telah mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Negeri (PN) Negara," ungkap Sujana pada Rabu (07/6/2023).
Sujana juga menjelaskan bahwa peningkatan ini disebabkan oleh adanya perubahan dalam peraturan mengenai usia perkawinan anak yang ditetapkan oleh pemerintah.
Menurut peraturan yang baru, usia minimum untuk laki-laki atau perempuan yang dapat melakukan perkawinan adalah 19 tahun. Oleh karena itu, perkawinan yang dilakukan sebelum usia 19 tahun dianggap sebagai perkawinan anak di bawah umur.
"Sebelumnya, anak di bawah umur dianggap rentan jika usianya di bawah 16 tahun untuk menikah. Oleh karena itu, peningkatan kasus perkawinan anak di bawah umur terjadi setelah perubahan menjadi usia di bawah 19 tahun," ujar Sujana.
Sementara itu, Ida Ayu Sri Utami Dewi, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak, mengakui bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi di beberapa sekolah untuk mencegah pernikahan dini.
Upaya sosialisasi ini dilakukan agar anak-anak memiliki pemahaman yang baik terkait dampak negatif dari perkawinan dini.
"Kami telah melakukan sosialisasi mengenai pencegahan pernikahan dini di beberapa sekolah dasar, dan rencananya akan dilanjutkan ke sekolah menengah atas. Kami akan menjangkau semua tingkatan sekolah," kata Utami.
Utami menekankan pentingnya sosialisasi untuk mencegah kekerasan terhadap anak, termasuk perkawinan di bawah umur. Pihaknya berharap agar anak-anak lebih waspada terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pernikahan dini.
"Selain menyosialisasikan di sekolah-sekolah, kami juga berencana untuk menyampaikan informasi ini kepada beberapa komunitas atau organisasi pemuda di Jembrana," tegas Utami.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8499 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5843 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3664 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2493 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar