Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 6 Mei 2026
Sampah Masih Dibuang ke Sungai, Hulu Bali Jadi Sumber Pencemaran
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Pembuangan sampah ke sungai di Bali, terutama di wilayah hulu seperti Ubud hingga ke kawasan hilir seperti Tukad Mati, masih menjadi persoalan serius. Sungai masih dianggap sebagai tempat pembuangan sampah belakang rumah atau tebe oleh sebagian masyarakat.
Kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan, khususnya di sekitar bantaran sungai seperti Tukad Badung dan Tukad Ayung, dinilai masih rendah.
"Kadang-kadang sampah dapur dibungkus plastik langsung dilempar ke sungai. Sungai dianggap bukan bagian dari kehidupan mereka, padahal justru sebaliknya," ungkap Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, Ni Made Armadi, Sabtu (26/7/2025) di Denpasar.
Armadi menegaskan bahwa kunci penanganan sampah ada pada pengelolaan sejak sumbernya, baik dari rumah tangga, hotel, maupun pasar. Jika dikelola dengan baik, maka potensi pencemaran ke TPA dan lingkungan bisa ditekan secara signifikan.
Ia juga menyoroti kondisi saat musim hujan, di mana limbah plastik dan sampah rumah tangga mengalir deras ke laut.
"Di Dreamland, Kuta, saat musim hujan, sungai penuh sampah plastik. Itu kiriman dari hulu. Kalau tidak dicegah, laut jadi korban, dan sektor pariwisata pun ikut tercoreng," ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua TPS3R Desa Adat Seminyak, I Komang Rudita Hartawan. Ia menyayangkan perilaku warga yang masih membuang sampah ke sungai, terutama saat bendungan (dam) dibuka.
"Begitu DAM dibuka, sampah mengalir deras. Itu bukan sampah kiriman, tapi ulah manusia sendiri yang belum sadar arti pentingnya sungai," ujarnya.
Rudita menambahkan, sebagian besar sampah yang mengalir merupakan jenis anorganik seperti plastik, mencerminkan kebiasaan yang perlu segera diubah.
Meski pemerintah dan komunitas seperti Sungai Watch, Yayasan Windu, serta para relawan terus melakukan edukasi dan aksi bersih-bersih sungai, upaya tersebut belum cukup tanpa keterlibatan aktif masyarakat.
"Sudah saatnya kita hidup diet sampah, lebih ramah lingkungan, dan menjadikan sungai sebagai warisan, bukan tempat buangan," tutup Armadi.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 502 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 396 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 387 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik