Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 16 Mei 2026
Miris, Fenomena Remaja Bali Anggap Penyakit Seksual Sebagai Bukti Dewasa
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Di tengah modernisasi dan arus informasi yang begitu cepat, fenomena mengejutkan justru muncul di kalangan remaja.
Dokter yang berkecimpung di bidang kesehatan seksual dan reproduksi, dr. Made Oka Negara, mengungkap adanya subkultur perilaku seksual berisiko di kelompok kecil remaja yang mengabaikan pentingnya perlindungan diri.
Baca juga:
Terkena Gonore, Setelah Acara Reuni Sekolah
Dalam sebuah diskusi kesehatan di Denpasar, dr. Oka menceritakan pengalamannya saat mendampingi seorang rekan praktik di sebuah klinik. Ia mendapati kasus pelajar SMP kelas dua yang datang bersama dua temannya — satu di antaranya diduga berusia SMA atau mahasiswa — dengan diagnosis penyakit menular seksual, gonore.
“Yang mengantar bilang, dia juga pernah mengalami hal yang sama. Ternyata, di kelompok kecil mereka, ada semacam budaya tidak tertulis: seorang laki-laki dianggap ‘dewasa’ setelah mengalami hal itu,” ungkap dr. Oka belum lama ini di Denpasar.
Menurutnya, fenomena ini berbahaya karena selain tanpa perlindungan kondom, sebagian dari mereka tidak memahami risiko penularan penyakit menular seksual yang lebih serius.
“Yang paling mengkhawatirkan, hubungan seksual dilakukan tanpa edukasi dan tanpa alat proteksi. Kesadaran ini yang ingin terus kita bangun,” tegasnya.
Lebih lanjut, dr. Oka menyoroti pentingnya mengubah pola pikir masyarakat terhadap istilah ‘seks bebas’ yang selama ini distigmakan. Menurutnya, istilah tersebut sudah tidak relevan dan harus diganti menjadi ‘seks aman’ (safe sex) — yaitu hubungan yang dilakukan dengan tanggung jawab dan perlindungan.
“Masalahnya bukan pada aktivitas seksualnya, tapi pada kesadarannya. Ada dua tipe perilaku berisiko: yang sudah tahu pasangannya terinfeksi tapi tetap melanjutkan hubungan tanpa proteksi, dan yang tidak tahu siapa pasangannya namun tetap berhubungan tanpa kondom", paparnya.
Ia mencontohkan bahwa orang dengan gaya hidup gonta-ganti pasangan belum tentu berisiko tinggi bila selalu menggunakan kondom, sementara seseorang yang tampak berpendidikan tinggi justru bisa berisiko bila terlibat dalam pesta atau hubungan tanpa perlindungan.
“Di luar negeri, saya temui kasus mahasiswa Asia yang tampak polos tapi setiap akhir pekan ikut pesta dan berhubungan tanpa sadar risiko. Jadi, jangan menilai risiko dari tampilan luar, tapi dari perilakunya,” ujar dr. Oka.
Dokter yang juga aktif di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) ini menambahkan, sejak lama lembaganya telah memperjuangkan edukasi reproduksi yang sehat, termasuk memperkenalkan alat kontrasepsi seperti kondom sebagai alat proteksi, bukan simbol kebebasan.
“Kita dulu sering ditentang, bahkan oleh tokoh agama. Tapi kalau tujuannya melindungi generasi muda dari risiko penyakit dan kehamilan tidak diinginkan, kenapa harus ditolak?” pungkasnya.
Baca juga:
Gubernur Koster Tik Tok Saat Sosialisasi Narkoba dan HIV AIDS PDIP, Putri Koster: Hindari Seks Bebas
dr. Oka mengajak masyarakat, khususnya orang tua dan pendidik, untuk tidak tabu membicarakan seksualitas, melainkan menjadikannya bagian dari pendidikan karakter.
“Kalau kita diam, subkultur seperti ini akan tumbuh diam-diam. Edukasi adalah vaksin terbaik melawan perilaku berisiko,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1428 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1084 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 928 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 819 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik