Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Miris, Fenomena Remaja Bali Anggap Penyakit Seksual Sebagai Bukti Dewasa

Sabtu, 25 Oktober 2025, 14:58 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Miris, Fenomena Remaja Bali Anggap Penyakit Seksual Sebagai Bukti Dewasa.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Di tengah modernisasi dan arus informasi yang begitu cepat, fenomena mengejutkan justru muncul di kalangan remaja.

Dokter yang berkecimpung di bidang kesehatan seksual dan reproduksi, dr. Made Oka Negara, mengungkap adanya subkultur perilaku seksual berisiko di kelompok kecil remaja yang mengabaikan pentingnya perlindungan diri.

Dalam sebuah diskusi kesehatan di Denpasar, dr. Oka menceritakan pengalamannya saat mendampingi seorang rekan praktik di sebuah klinik. Ia mendapati kasus pelajar SMP kelas dua yang datang bersama dua temannya — satu di antaranya diduga berusia SMA atau mahasiswa — dengan diagnosis penyakit menular seksual, gonore.

“Yang mengantar bilang, dia juga pernah mengalami hal yang sama. Ternyata, di kelompok kecil mereka, ada semacam budaya tidak tertulis: seorang laki-laki dianggap ‘dewasa’ setelah mengalami hal itu,” ungkap dr. Oka belum lama ini di Denpasar.

Menurutnya, fenomena ini berbahaya karena selain tanpa perlindungan kondom, sebagian dari mereka tidak memahami risiko penularan penyakit menular seksual yang lebih serius.

“Yang paling mengkhawatirkan, hubungan seksual dilakukan tanpa edukasi dan tanpa alat proteksi. Kesadaran ini yang ingin terus kita bangun,” tegasnya.

Lebih lanjut, dr. Oka menyoroti pentingnya mengubah pola pikir masyarakat terhadap istilah ‘seks bebas’ yang selama ini distigmakan. Menurutnya, istilah tersebut sudah tidak relevan dan harus diganti menjadi ‘seks aman’ (safe sex) — yaitu hubungan yang dilakukan dengan tanggung jawab dan perlindungan.

“Masalahnya bukan pada aktivitas seksualnya, tapi pada kesadarannya. Ada dua tipe perilaku berisiko: yang sudah tahu pasangannya terinfeksi tapi tetap melanjutkan hubungan tanpa proteksi, dan yang tidak tahu siapa pasangannya namun tetap berhubungan tanpa kondom", paparnya.

Ia mencontohkan bahwa orang dengan gaya hidup gonta-ganti pasangan belum tentu berisiko tinggi bila selalu menggunakan kondom, sementara seseorang yang tampak berpendidikan tinggi justru bisa berisiko bila terlibat dalam pesta atau hubungan tanpa perlindungan.

“Di luar negeri, saya temui kasus mahasiswa Asia yang tampak polos tapi setiap akhir pekan ikut pesta dan berhubungan tanpa sadar risiko. Jadi, jangan menilai risiko dari tampilan luar, tapi dari perilakunya,” ujar dr. Oka.

Dokter yang juga aktif di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) ini menambahkan, sejak lama lembaganya telah memperjuangkan edukasi reproduksi yang sehat, termasuk memperkenalkan alat kontrasepsi seperti kondom sebagai alat proteksi, bukan simbol kebebasan.

“Kita dulu sering ditentang, bahkan oleh tokoh agama. Tapi kalau tujuannya melindungi generasi muda dari risiko penyakit dan kehamilan tidak diinginkan, kenapa harus ditolak?” pungkasnya.

dr. Oka mengajak masyarakat, khususnya orang tua dan pendidik, untuk tidak tabu membicarakan seksualitas, melainkan menjadikannya bagian dari pendidikan karakter.

“Kalau kita diam, subkultur seperti ini akan tumbuh diam-diam. Edukasi adalah vaksin terbaik melawan perilaku berisiko,” tutupnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami