Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Menggenggam Hidup, Melepas Harapan: Kisah Ibu Hamil dengan Penyakit Jantung

Minggu, 30 November 2025, 17:13 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Menggenggam Hidup, Melepas Harapan: Kisah Ibu Hamil dengan Penyakit Jantung.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Seorang perempuan berusia 30 tahun, menikah, datang dengan keluhan perasaan sedih dan cemas sejak mengetahui dirinya hamil dalam kondisi sakit jantung dan adanya rencana terminasi kehamilan. 

Keluhan muncul sekitar satu minggu terakhir, terutama ketika memikirkan risiko kehamilan terhadap keselamatan diri. Di satu sisi, kehamilan diinginkan meskipun tidak direncanakan, namun di sisi lain muncul kekhawatiran setelah dijelaskan bahwa kondisinya tidak memungkinkan untuk meneruskan kehamilan. 

Ia sempat membandingkan dirinya dengan teman yang memiliki penyakit serupa namun dapat melahirkan normal, namun perlahan mulai menerima kondisi yang berbeda. Tidak ada perasaan putus asa, ide bunuh diri, atau pikiran bahwa hidup tidak berguna. Dukungan suami dan keluarga membantu meredakan kesedihan, meskipun perasaan emosional meningkat ketika memikirkan tindakan terminasi.

Rasa cemas muncul terkait tindakan terminasi dan prosedur operasi, terutama saat membayangkan memasuki ruang operasi seorang diri. Ia juga bertanya apakah prosedur terminasi atau sterilisasi dapat ditunda karena masih merasa takut. Gejala yang menyertai berupa dada berdebar, keringat dingin, mulut kering, dan tangan dingin. 

Selama wawancara, ia mampu menjelaskan masalah dengan runut. Ia masih dapat menjalankan aktivitas rumah tangga, mengurus anak, makan dan tidur dengan baik, serta menjaga kebersihan diri. Tidak ada riwayat kejang, penggunaan NAPZA, alkohol, atau kebiasaan merokok. 

Sejak dahulu dikenal sebagai pribadi pendiam, tertutup, kurang percaya diri dalam situasi sosial, dan cenderung memendam emosi. Ketika tekanan memuncak, satu-satunya tempat berbagi adalah suaminya, yang menjadi sumber rasa aman dan dukungan emosional.

Ancaman terhadap keselamatan diri dan janin

Kecemasan yang muncul pada perempuan hamil dengan penyakit jantung berat merupakan respons biologis dan psikologis yang sangat wajar, terutama ketika ia menghadapi ancaman ganda terhadap keselamatan dirinya dan keselamatan janin. Dalam situasi ini, tubuh secara otomatis mengaktifkan sistem stres biologis melalui poros Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA), sebuah mekanisme alarm yang bereaksi terhadap persepsi ancaman terhadap tubuh. 

Perempuan dengan kondisi medis kronis yang menjalani kehamilan berisiko tinggi lebih rentan mengalami kecemasan karena peningkatan sensitivitas sistem stres tersebut. Ketika dokter menjelaskan bahwa meneruskan kehamilan dapat mengancam nyawanya, tubuhnya merespons dengan memproduksi hormon stres seperti kortisol dan norepinefrin. 

Inilah yang menimbulkan gejala fisik seperti jantung berdebar, mulut kering, tangan dingin, dan keringat dingin. Reaksi ini bukan tanda kelemahan, melainkan respons biologis yang sangat manusiawi ketika hidup terasa terancam.

Di saat yang sama, ia mengalami konflik yang mendalam antara keinginan menjadi ibu dan kebutuhan mendesak untuk menjaga keselamatan dirinya. Kehamilan adalah bagian penting dari identitas, kehidupan keluarga, dan nilai budaya, terutama dalam masyarakat seperti Indonesia, di mana kehamilan dipandang sebagai simbol harapan dan kelanjutan garis keturunan. 

Meskipun kehamilan ini diinginkan, kondisi medis memaksanya mempertimbangkan terminasi, dan inilah yang menciptakan konflik intrapsikis yang kuat, antara desire dan reality, antara ideal self sebagai calon ibu dan actual self yang menghadapi risiko fatal. 

Konflik semacam ini, terutama yang melibatkan dimensi moral dan keselamatan, merupakan salah satu faktor utama yang meningkatkan tingkat kecemasan pada perempuan dengan kehamilan berisiko tinggi. Dengan demikian, kecemasan yang ia rasakan tidak hanya berakar pada ancaman biologis, tetapi juga pada benturan nilai, harapan, dan identitas diri.

Emosi pasien ini juga dipengaruhi oleh pembandingan sosial. Ia sempat membandingkan dirinya dengan seorang teman yang memiliki kondisi jantung serupa namun mampu melahirkan normal. Dalam psikologi, fenomena ini disebut upward social comparison, yaitu kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih beruntung atau lebih berhasil. 

Pembandingan ke atas seperti ini sering kali meningkatkan kecemasan, memicu perasaan tidak mampu, dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan internal seperti, “Mengapa saya tidak bisa seperti dia?” Namun, seiring waktu, ia mulai menerima bahwa setiap orang memiliki kondisi fisik, perjalanan penyakit, dan risiko medis yang berbeda. Penerimaan ini merupakan tanda coping adaptif yang berkembang, meski tetap menyisakan rasa kehilangan dan kesedihan.

Kecemasan pasien semakin meningkat ketika ia membayangkan harus memasuki ruang operasi seorang diri untuk menjalani prosedur terminasi. Ketakutan terhadap prosedur medis invasif sering memunculkan bentuk separation anxiety pada orang dewasa, khususnya pada perempuan yang memiliki riwayat memendam emosi dan sangat bergantung pada dukungan emosional dari pasangan atau keluarga. 

Rasa takut terhadap prosedur medis adalah salah satu pemicu kecemasan yang paling kuat, terutama ketika seseorang merasa harus menjalani proses tersebut tanpa pendamping di momen yang paling rentan. Ketakutan ini bukan hanya tentang prosedurnya, melainkan juga tentang rasa kehilangan dukungan, rasa ditinggalkan, dan ketidakpastian terhadap apa yang akan terjadi. Dalam konteks ini, kecemasan muncul sebagai mekanisme untuk mempertahankan diri, sebuah bentuk kewaspadaan yang berusaha melindunginya dari bahaya, baik itu bahaya medis maupun bahaya emosional.

Emosi yang tersimpan dan konflik batin

Dari sudut pandang psikodinamika, profil pasien yang pendiam, tertutup, dan cenderung memendam emosi menunjukkan penggunaan mekanisme pertahanan diri seperti suppression dan isolation of affect. Emosi-emosi yang selama ini disimpan rapat cenderung muncul dalam bentuk gejala kecemasan akut ketika stresor besar, seperti risiko medis yang mengancam jiwa, datang secara tiba-tiba. 

Menurut teori objek-relasi, ia memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap suaminya sebagai figur aman atau secure base. Ketakutan terhadap prosedur medis, terutama jika dilakukan seorang diri, dapat bermakna sebagai ketakutan kehilangan figur yang selama ini menjadi penopang emosionalnya.

Konflik antara identitas keibuan dan realitas medis juga turut berperan. Dalam teori perkembangan psikososial Erikson, perempuan usia 30 berada dalam fase “intimacy vs isolation” dan memasuki fase “generativity vs stagnation”. Kehamilan adalah salah satu ekspresi dari generativity, yaitu keinginan untuk berkontribusi pada generasi berikutnya. 

Ketika kehamilan harus dihentikan, muncul perasaan kehilangan identitas, kegagalan, dan kekosongan. Di sisi lain, ia mungkin merasa bersalah. Rasa bersalah ini muncul sebagai benturan antara idealisme internal sebagai calon ibu dengan kenyataan medis. 

Dalam perspektif psikiatri komunitas, penting memahami bagaimana lingkungan sosial dan budaya memengaruhi munculnya kecemasan. Dalam budaya Indonesia, kehamilan memiliki nilai simbolik yang kuat dan sering dikaitkan dengan identitas perempuan, kehormatan keluarga, dan keberlanjutan generasi. 

Terminasi kehamilan, meskipun dilakukan karena alasan medis, sering membawa dilema nilai dan beban moral yang tidak ringan. Penelitian di Asia menunjukkan bahwa perempuan yang menghadapi kehamilan berisiko tinggi sering merasakan tekanan sosial tambahan dari keluarga besar atau lingkungan sekitar. 

Namun, dukungan keluarga dalam kasus ini tampaknya menjadi faktor protektif penting. Suami dan keluarga mampu memberikan rasa aman, yang menahan kecemasan agar tidak berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat. Meski demikian, peran ganda sebagai ibu rumah tangga, pengasuh anak, dan istri tetap memberikan tekanan tambahan. 

Perempuan dengan peran ganda memiliki risiko lebih tinggi mengalami stres emosional ketika menghadapi masalah medis berat. Meski demikian, kemampuan pasien mempertahankan fungsi sehari-hari seperti makan, tidur, menjaga kebersihan diri, dan mengurus rumah tangga merupakan tanda ketangguhan dan coping yang adaptif.

Komunikasi medis juga memegang peranan penting. Kecemasannya tentang terminasi dan permintaan untuk menunda menunjukkan bahwa ia membutuhkan penjelasan ulang, reassurance, dan ruang aman untuk bertanya. Komunikasi empatik dari tenaga kesehatan dapat menurunkan kecemasan pre-operatif secara signifikan.

Kecemasan adalah hasil kerja kompleks antara sistem saraf pusat dan hormonal. Amigdala, bagian otak yang mendeteksi ancaman, menjadi lebih aktif ketika seseorang menghadapi situasi berbahaya atau penuh ketidakpastian. Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa perempuan yang menghadapi risiko medis serius memiliki aktivitas amigdala yang meningkat, sementara kontrol oleh prefrontal cortex melemah. Inilah mengapa ancaman terasa lebih menakutkan dan sulit dikendalikan secara rasional.

Sistem stres HPA axis dan sistem saraf simpatis juga memicu pelepasan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Pada perempuan hamil, respons stres cenderung lebih kuat karena perubahan hormonal yang meningkatkan sensitivitas sistem stres. Selain itu, penyakit jantung sendiri memengaruhi sistem saraf otonom, sehingga membuat pasien lebih mudah mengalami gejala kecemasan. Dengan kata lain, aspek biologis turut memperkuat aspek psikologis. 

Melangkah ke depan dengan keberanian dan keteguhan hati

Pasien selama ini memendam banyak emosi dan hanya berbagi kepada suaminya, menunjukkan perlunya ruang terapeutik yang lebih luas untuk mengekspresikan perasaan. Dalam konteks komunitas dan budaya, ruang berbagi kolektif melalui keluarga, teman dekat, konselor, atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi penyangga stres yang penting. Mengizinkan diri untuk bercerita bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari kedewasaan emosional dan proses penyembuhan diri. 

Dalam perjalanan menghadapi prosedur terminasi, menerima bahwa rasa takut adalah bagian dari proses pemulihan sangatlah penting. Rasa takut sebelum operasi adalah hal manusiawi, dan resiliensi bukan berarti ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah meski perasaan itu menyertai. 

Dalam situasi seperti ini, rasa bersalah sering kali muncul, terutama pada perempuan yang harus menjalani terminasi kehamilan demi alasan medis. Penting untuk diingat bahwa keputusan ini adalah keputusan penyelamatan jiwa. Praktik pengasuhan diri atau self-compassion dapat menjadi pilar penting untuk merawat luka emosional tersebut. Menguatkan diri dengan kalimat seperti, 
“Saya melakukan ini untuk bertahan hidup. Saya berhak selamat. Saya berhak masa depan,” dapat menjadi afirmasi yang mengisi kembali ruang keberanian dalam dirinya.

Di tengah situasi yang penuh tekanan, pasien tetap mampu makan, tidur, mengurus anak, menjaga kebersihan diri, dan menjelaskan masalahnya dengan runut. Semua ini merupakan indikator bahwa sistem psikologisnya tetap bekerja adaptif. 

Kapasitas mempertahankan fungsi sehari-hari adalah bentuk kekuatan yang sering kali tidak disadari. Banyak perempuan dengan karakter pendiam dan tertutup terlihat rapuh dari luar, padahal secara internal mereka memiliki ketahanan yang sangat besar. Ketangguhan sejenis ini muncul bukan dari ketiadaan rasa sakit, tetapi dari kemampuan untuk tetap berjalan meski hati penuh kekhawatiran.

Kejadian ini juga perlu dimaknai dalam konteks perjalanan hidup yang lebih luas. Dari perspektif budaya, manusia menemukan makna melalui narasi kisah yang mereka ceritakan tentang diri sendiri. Pengalaman menghadapi kehamilan berisiko dan keputusan terminasi bukan semata cerita kehilangan atau kegagalan, tetapi bagian dari babak kehidupan yang menunjukkan keberanian menghadapi kenyataan yang sulit. Dalam banyak komunitas, proses kehilangan justru menjadi awal dari pertumbuhan batin dimana ada kesempatan untuk memahami diri lebih dalam, memperkuat hubungan emosional dengan keluarga, dan menyusun ulang harapan terhadap masa depan.

Melangkah ke depan berarti menetapkan langkah-langkah yang realistis dan penuh cinta kasih terhadap diri sendiri. Ia perlu terus berkomunikasi dengan suami dan keluarga sebagai sumber kekuatan. Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menangis, merasakan duka, dan tidak menekan perasaan adalah bagian penting dari proses pemulihan. 

Menjalani prosedur medis dengan dukungan psikologis dari tenaga kesehatan dapat membantu menurunkan ketegangan yang dialami. Mempertahankan rutinitas sehari-hari akan menjadi jangkar stabilitas yang membuat dirinya tetap terhubung dengan realitas hidup. Yang terpenting, ia perlu memberi ruang bagi dirinya untuk pulih tanpa tekanan untuk cepat kuat. Keberanian bukanlah ketiadaan kecemasan namun keberanian adalah kemampuan untuk tetap bergerak dan bertahan meskipun kecemasan hadir di dalam perjalanan tersebut.

Kisah perempuan ini menggambarkan dengan jelas betapa kompleksnya hubungan antara tubuh, pikiran, budaya, dan lingkungan sosial. Kecemasan yang muncul bukanlah tanda patologi, melainkan respons manusiawi terhadap situasi yang mengancam hidup dan harapan. Melalui ruang suara jiwa ini kita memahami bahwa keputusan medis tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu berada dalam jaringan konteks psikologis, sosial, moral, dan spiritual. 

Dengan memberikan ruang empati, dukungan keluarga, penjelasan medis yang komprehensif, serta penguatan makna hidup, perempuan seperti pasien ini dapat melangkah ke depan dengan keberanian, menerima ketakutan sebagai bagian dari proses tumbuh, dan menemukan harapan baru di tengah perjalanan hidupnya.(Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami