Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 15 Mei 2026
Pergulatan Psikologis Melawan Leukemia Akut
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan, 45 tahun, AAF, mengeluh sejak dua hari terakhir, ia mengalami kesulitan tidur setelah kembali dirawat di rumah sakit. Ia mengatakan tubuhnya terasa mengantuk, tetapi sulit benar-benar tertidur dan sering terbangun di malam hari.
Tidurnya semakin terganggu karena nyeri di seluruh tubuh, terutama di bekas suntikan dan infus, akibat tindakan medis yang dilakukan hampir setiap hari. Kondisi ini membuatnya bangun sangat pagi dan tidak bisa tidur kembali.
Sekitar dua minggu sebelumnya, ia mulai merasa sangat lemas. Setelah memeriksakan diri, diketahui kadar darahnya rendah sehingga perlu dirawat dan mendapat transfusi. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa ia menderita leukemia akut. Sejak mendengar diagnosis tersebut, perasaan sedih dan terpukul terus dirasakan.
Ia banyak mencari informasi sendiri melalui internet dan menemukan banyak hal yang menakutkan, termasuk kemungkinan kecil untuk sembuh. Walaupun masih ada harapan untuk pulih, ketakutan akan kematian sering muncul dan membuatnya menangis, terutama saat memikirkan masa depan keluarga dan anak-anaknya.
Ia juga mengeluhkan nafsu makan menurun, tetapi ia tetap berusaha makan demi menjaga kondisi tubuh. Aktivitas sehari-hari seperti mengurus rumah, memasak, dan membersihkan rumah masih bisa dilakukan, bahkan sesekali masih mengikuti kegiatan kuliah. Namun, rasa cemas sering muncul, terutama saat menunggu hasil pemeriksaan atau akan menjalani transfusi darah, yang disertai jantung berdebar dan tubuh berkeringat.
Lingkungan rumah sakit yang bising membuatnya semakin sulit beristirahat dan menambah rasa cemas. Ia menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung, terutama kepada suami. Kekhawatiran akan efek kemoterapi, seperti rambut rontok dan risiko pengobatan, membuatnya ragu untuk menjalaninya. Ia lebih memilih menjalani transfusi darah sambil mempertimbangkan keputusan tersebut dengan matang.
Dukungan keluarga terkadang terasa seperti tekanan karena banyaknya pertanyaan tentang kondisinya. Ucapan penyemangat dari teman pun kadang terasa sulit diterima karena mereka tidak mengalami langsung apa yang ia rasakan.
Antara reaksi normal dan ancaman kehidupan
Penyakit fisik berat tidak pernah berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama gelombang reaksi psikologis, relasi sosial, dan makna hidup yang terguncang. Pada kasus ini, diagnosis leukemia akut bukan hanya kabar medis, tetapi sebuah peristiwa eksistensial yang mengguncang identitas diri, peran sosial, dan harapan masa depan.
Apa yang dialami dalam kondisi ini berada pada wilayah batas yang sangat tipis antara reaksi adaptif terhadap stres berat dan gangguan psikologis yang bermakna secara klinis. Kesedihan yang mendalam, kecemasan yang menetap, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, mudah menangis, hingga munculnya pikiran tentang kematian merupakan respons yang wajar dan dapat dipahami ketika seseorang menerima diagnosis penyakit yang mengancam nyawa.
Reaksi-reaksi tersebut mencerminkan upaya psikis manusia untuk memahami dan menyesuaikan diri terhadap perubahan drastis pada tubuh, peran sosial, serta gambaran masa depan yang tiba-tiba menjadi rapuh dan penuh ketidakpastian. Dalam konteks ini, penderitaan emosional bukanlah tanda kelemahan, melainkan ekspresi kemanusiaan yang alamiah ketika individu dihadapkan pada ancaman eksistensial yang nyata.
Namun demikian, jika ditinjau dari intensitas gejala, durasi keluhan, serta dampaknya terhadap kualitas hidup dan fungsi sehari-hari, kondisi ini tidak lagi dapat dipahami sebagai kesedihan biasa. Gambaran yang muncul lebih konsisten sebagai gangguan penyesuaian dengan dominasi gejala kecemasan dan depresi, yaitu suatu keadaan ketika respons emosional terhadap stresor berat menjadi berlebihan dan menetap.
Pada individu dengan penyakit medis serius, kondisi ini juga membawa risiko untuk berkembang menjadi gangguan depresi atau gangguan kecemasan yang lebih jelas secara klinis. Sekitar 40–60% individu dengan kanker hematologi mengalami distres psikologis yang bermakna, terutama pada fase awal diagnosis dan selama periode hospitalisasi berulang, ketika rasa kehilangan kendali dan ketidakpastian berada pada titik tertinggi.
Gangguan tidur yang muncul merupakan salah satu pintu masuk utama dari distres psikologis yang lebih luas. Insomnia dalam konteks ini tidak semata-mata disebabkan oleh nyeri fisik atau lingkungan rumah sakit yang bising, melainkan juga mencerminkan kecemasan eksistensial yang mendalam. Tidur mensyaratkan adanya rasa aman dan kemampuan untuk melepaskan kewaspadaan.
Ketika masa depan terasa tidak pasti dan kematian hadir sebagai bayangan yang terus mengintai, tubuh dan pikiran berada dalam kondisi siaga berkepanjangan. Secara neurofisiologis, keadaan ini menyerupai hiper-arousal, di mana sistem saraf terus teraktivasi sehingga individu sulit memasuki fase istirahat yang restoratif, suatu pola yang sering ditemukan pada kecemasan terkait penyakit berat.
Pikiran tentang kematian yang muncul dalam kondisi ini tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai keputusasaan patologis atau keinginan untuk menyerah. Dalam konteks kehidupan yang dijalani, ketakutan tersebut lebih tepat dipahami sebagai kecemasan manusiawi akan kehilangan peran-peran relasional yang bermakna, terutama sebagai ibu, pasangan, dan penjaga keberlangsungan keluarga.
Pada usia produktif, sakit tidak hanya mengancam tubuh, tetapi juga identitas relasional yang selama ini menjadi sumber makna hidup. Ketakutannya akan kematian merupakan refleksi dari cinta, tanggung jawab, dan keterikatan yang mendalam, bukan semata-mata manifestasi psikopatologi.
Ancaman terhadap diri dan interaksi dalam tubuh
Diagnosis leukemia akut dapat dipahami sebagai sebuah trauma narsistik, yakni pukulan mendalam terhadap rasa kendali, kompetensi, dan kesinambungan diri. Sebelumnya, kehidupan masih dijalani dengan relatif stabil melalui peran domestik dan akademik yang memberi rasa mampu dan berdaya.
Diagnosis tersebut hadir sebagai peristiwa yang meruntuhkan mekanisme pertahanan yang selama ini menopang rasa aman psikologis. Reaksi emosional seperti menangis, meningkatnya iritabilitas terhadap pasangan, serta ambivalensi dalam menghadapi pilihan kemoterapi mencerminkan konflik batin antara dorongan kuat untuk bertahan hidup dan ketakutan akan kehilangan identitas tubuh, kemandirian, serta citra diri akibat efek pengobatan.
Mekanisme pertahanan seperti intellectualization melalui pencarian informasi medis secara intensif, ambivalensi terhadap keputusan terapi, dan displacement emosi kepada orang terdekat bukanlah tanda kelemahan psikologis, melainkan ekspresi dari upaya jiwa untuk mempertahankan integritas diri di tengah ancaman yang dirasakan begitu nyata.
Pengalaman perawatan di rumah sakit menghadirkan stresor kronis yang berlapis, mulai dari lingkungan yang bising, prosedur invasif yang berulang, hingga ketidakpastian hasil pemeriksaan yang terus menanti. Dukungan keluarga yang dirasakan sebagai tekanan menggambarkan apa yang dikenal sebagai support paradox, yaitu situasi ketika niat untuk membantu justru meningkatkan distres karena individu merasa kehilangan ruang aman untuk mengekspresikan ketakutan dan kesedihan secara autentik.
Dalam konteks budaya kolektivistik seperti Indonesia, terdapat tuntutan implisit untuk tetap terlihat kuat demi keluarga, sehingga emosi negatif cenderung dipendam dan terinternalisasi. Ucapan penyemangat dari teman yang terasa hampa mencerminkan adanya empathic mismatch, yakni ketidaksinkronan antara pengalaman subjektif penderitaan dengan narasi optimisme sosial yang sering kali menyederhanakan kompleksitas emosi yang sedang dialami.
Secara neurobiologis, penyakit leukemia beserta rangkaian prosedur medis yang menyertainya memicu aktivasi kronik aksis hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA), yang berperan penting dalam respons stres. Aktivasi berkepanjangan ini disertai peningkatan sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 dan tumor necrosis factor-α, yang berkaitan dengan munculnya gejala depresi, kelelahan, gangguan tidur, dan kecemasan pada individu dengan kanker.
Selain itu, nyeri yang berulang akibat tindakan medis memperkuat proses sensitisasi sistem saraf pusat, sehingga tubuh semakin sulit mencapai kondisi relaksasi dan istirahat yang restoratif. Dari sudut pandang ini, intervensi psikologis tidak dapat diposisikan sebagai pelengkap semata, melainkan sebagai bagian integral dari perawatan medis yang menyeluruh, karena proses biologis dan psikologis saling terkait secara erat dan tidak dapat dipisahkan.
Melanjutkan hidup di tengah ketidakpastian
Melanjutkan hidup dalam situasi penyakit yang mengancam nyawa bukanlah proses yang linier, melainkan perjalanan psikologis yang dipenuhi ketidakpastian, ambivalensi, dan pencarian makna. Langkah pertama yang penting bukanlah memaksakan diri untuk berpikir positif, melainkan memberi izin pada diri sendiri untuk merasa takut, sedih, dan rapuh tanpa dibebani rasa bersalah. Mengakui emosi-emosi tersebut justru menjadi dasar untuk memulihkan kembali diri, yaitu perasaan bahwa diri masih memiliki kendali atas pilihan dan sikap hidup yang diambil.
Dalam konteks keseharian, pemulihan juga perlu dimulai dari kebutuhan dasar, salah satunya tidur. Gangguan tidur tidak dapat ditangani secara parsial, melainkan memerlukan pendekatan multimodal yang mencakup pengelolaan nyeri secara optimal, penerapan teknik relaksasi, pengaturan lingkungan seperti cahaya dan suara, serta, bila diperlukan, penggunaan intervensi farmakologis jangka pendek yang aman.
Tidur yang lebih berkualitas bukan sekadar soal istirahat fisik, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi stabilitas emosi dan kemampuan menghadapi stres yang berkepanjangan. Pada fase ini, refleksi eksistensial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses adaptasi. Refleksi tersebut bukanlah bentuk menyerah pada keadaan, melainkan upaya menyusun ulang prioritas hidup secara lebih sadar dan jujur.
Individu yang difasilitasi untuk memaknai ulang kehidupannya justru menunjukkan tingkat resiliensi psikologis yang lebih baik, bahkan ketika prognosis medis tidak pasti. Fokus refleksi bergeser dari pertanyaan tentang lamanya hidup menuju pertanyaan yang lebih bermakna, seperti apa yang masih bernilai untuk dijalani hari ini, hubungan mana yang ingin dirawat dengan lebih tulus, dan bagaimana ingin dikenang oleh orang-orang terkasih, terutama anak-anak, terlepas dari hasil akhir pengobatan.
Dalam kondisi sakit berat, spiritualitas dapat membantu menggeser fokus dari pertanyaan mengapa ini terjadi menuju bagaimana saya menjalaninya dengan bermakna. Doa, meditasi, atau refleksi spiritual dapat menjadi ruang aman untuk mengekspresikan ketakutan, kesedihan, bahkan kemarahan tanpa rasa bersalah. Spiritualitas yang sehat bukan menuntut kepasrahan yang dipaksakan, melainkan memberi izin untuk berproses secara jujur dan manusiawi.
Budaya yang religius dan kolektivistik, dukungan spiritual dari keluarga, komunitas, atau tokoh agama dapat menjadi sumber kekuatan yang penting, selama tidak berubah menjadi tekanan untuk harus ikhlas atau harus kuat. Pendekatan spiritual yang menyembuhkan berjalan seiring dengan perawatan medis dan psikologis, membantu individu hidup berdampingan dengan ketidakpastian secara lebih damai, bermakna, dan bermartabat.
Dalam perjalanan ini, peran pasangan dan keluarga menjadi sangat krusial. Keluarga perlu memahami bahwa kehadiran emosional sering kali jauh lebih penting daripada nasihat atau dorongan optimisme yang dipaksakan. Mendengarkan tanpa keinginan untuk segera memperbaiki keadaan, menemani tanpa menghakimi, serta memberi ruang bagi individu untuk menentukan ritme dan keputusan hidupnya sendiri merupakan bentuk dukungan yang paling terapeutik. Pasangan, secara khusus, perlu menyadari bahwa iritabilitas atau perubahan sikap bukanlah penolakan, melainkan ekspresi kelelahan emosional dan psikologis yang mendalam. Pendekatan berupa terapi pasangan atau sesi keluarga singkat berbasis psikoedukasi dapat menurunkan konflik dan distres, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam menghadapi situasi yang sulit.
Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang apakah seseorang cukup kuat atau cukup siap menghadapi penyakitnya. Ini adalah kisah tentang manusia yang sedang belajar untuk tetap hidup secara utuh di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Penyembuhan tidak selalu identik dengan kesembuhan biologis, melainkan dengan pemulihan rasa kemanusiaan, makna hidup, dan keterhubungan dengan orang lain. Dengan pendekatan yang empatik maka perjalanan ini tetap dapat dijalani dengan keutuhan, martabat, dan harapan. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1314 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1010 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 847 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 758 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik