Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 30 Oktober 2026
Transformasi Telkom Bidik Pertumbuhan Setara Ekonomi Nasional
BERITABALI.COM, DENPASAR.
PT Telkom Indonesia terus memacu transformasi bisnis untuk menjaga kinerja dan membidik pertumbuhan yang setara dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Langkah tersebut dilakukan melalui perubahan model bisnis menjadi strategic holding serta penguatan sejumlah pilar bisnis baru yang dinilai relevan menghadapi disrupsi teknologi.
Hal itu disampaikan Komisaris PT Telkom Andi Malaranggeng saat hadir dalam pelatihan jurnalis Bali di Denpasar, Jumat (7/2/2026). Ia memaparkan posisi strategis Telkom di tengah rencana besar pemerintah merampingkan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Andi menceritakan Presiden RI Prabowo Subianto pernah menyampaikan bahwa terdapat lebih dari 1.000 BUMN di Indonesia, di mana kontribusi nilai tambahnya mungkin hanya berkisar di angka 5–6% dari total GDP Indonesia yang mencapai Rp23.000–Rp24.000 triliun. Pemerintah ke depan berencana mengecilkan jumlah BUMN menjadi sekitar 300 perusahaan agar sektor swasta dapat berkembang lebih luas, sementara negara berperan sebagai regulator dan pemberi penguatan kebijakan.
Menurut Andi, dari lebih dari seribu BUMN tersebut, lebih dari separuh mengalami kerugian dan menjadi beban ekonomi nasional. Bahkan, di antara BUMN yang mencatatkan keuntungan, hanya sedikit yang memiliki skala besar dan tata kelola organisasi yang solid, seperti bank-bank Himbara.
Di luar sektor perbankan, hanya terdapat beberapa BUMN besar yang dinilai ekselen, yakni Pertamina, PLN, dan Telkom. PT Telkom Indonesia disebut sebagai salah satu BUMN yang mampu melampaui ekspektasi dalam kurun tiga hingga empat dekade terakhir, sejak masih bergabung dengan layanan pos.
"Pertanyaannya adalah apakah Telkom bisa mempertahankan posisi ekselen ini dalam 10 tahun ke depan?" sebutnya.
Saat ini, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp157 triliun dengan laba bersih sekitar Rp23 triliun. Capaian tersebut dinilai istimewa karena diraih di tengah perubahan teknologi digital dan komunikasi yang berlangsung sangat cepat, dengan siklus disrupsi setiap tiga hingga lima tahun.
Berbeda dengan sektor energi atau kelistrikan yang teknologi intinya relatif stabil dalam jangka panjang, Telkom harus terus beradaptasi dengan perubahan, mulai dari peralihan telepon kabel tembaga ke seluler, pergeseran perangkat dari ponsel konvensional ke smartphone, hingga dominasi aplikasi digital global.
Salah satu langkah adaptasi strategis Telkom adalah mengganti kabel tembaga dengan fiber optik dan membangun layanan IndiHome. Layanan ini berkembang pesat dan dalam waktu relatif singkat mampu menghasilkan pendapatan lebih dari Rp20–25 triliun, meski berangkat dari kondisi nol.
Ke depan, tantangan baru terus muncul, termasuk teknologi satelit orbit rendah seperti Starlink serta pengembangan konektivitas langsung ponsel ke satelit tanpa melalui BTS. Telkom merespons tantangan tersebut dengan langkah kolaboratif.
Telkom tercatat menjadi mitra pertama Starlink di Asia. Kerja sama ini telah memberikan kontribusi pendapatan sekitar Rp850 miliar dalam dua tahun terakhir, khususnya untuk layanan di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber optik.
Dalam menghadapi dinamika industri, Telkom juga menjalankan transformasi menuju Strategic Holding dengan memperkuat sejumlah pilar bisnis baru. Salah satunya adalah pengembangan data center dengan kapasitas besar di Cikarang, Batam, dan Singapura, yang disiapkan untuk mendukung kebutuhan komputasi dan aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI).
Selain itu, Telkom mengembangkan Mitratel dengan kepemilikan sekitar 40.000 menara telekomunikasi, atau sekitar 30% dari total tower di Indonesia. Ekspansi melalui akuisisi juga disiapkan untuk menjadikan Mitratel sebagai pemain utama di kawasan Asia di luar China.
Pilar lainnya adalah bisnis B2B ICT, yang berfokus pada penyediaan solusi digital bagi korporasi dan pemerintah, guna menjawab kebutuhan praktis melalui pengembangan aplikasi dan sistem digital terintegrasi.
Saat ini, di bawah koordinasi Danantara, Telkom terus mendorong percepatan transformasi. Meski pertumbuhan pendapatan perusahaan sekitar 3%, sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5%, Telkom optimistis mampu mengejar ketertinggalan tersebut melalui penguatan sektor tower, data center, dan teknologi satelit generasi baru.
"Saat ini, di bawah koordinasi Danantara, Telkom berusaha bergerak lebih cepat. Meskipun saat ini pertumbuhan revenue kita 3% sedikit di bawah pertumbuhan nasional 5% karena fase teknologi yang sedang stabil, kami terus melakukan upaya di sektor tower, data center, dan satelit gaya baru," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5993 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4675 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2653 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2314 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2234 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan