Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 4 Agustus 2026
Pesanan Terus Meningkat, Pelaku UMKM Tenun Ikat Bali Diperkuat Pembiayaan Usahanya oleh BRI
bbn/dok BRI/Pesanan Terus Meningkat, Pelaku UMKM Tenun Ikat Bali Diperkuat Pembiayaan Usahanya oleh BRI.
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Tingginya permintaan kain tenun tradisional Bali belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh para pelaku usaha. Keterbatasan kapasitas produksi serta melonjaknya harga bahan baku menjadi tantangan yang dihadapi perajin tenun dalam menjaga keberlangsungan usahanya.
Salah satunya dialami I Wayan Bagiarta, pelaku UMKM tenun ikat yang telah menekuni usaha pertenunan sejak tahun 1989. Usaha keluarga yang dirintis dari kegiatan menenun tradisional di rumah itu kini terus bertahan di tengah meningkatnya kebutuhan pasar terhadap kain tenun Bali.
“Awalnya orang tua yang menenun. Dari tahun 1989 mulai berkembang sampai punya banyak penenun,” ujar Bagiarta.
Usaha yang bermula dari aktivitas sang ibu tersebut berkembang seiring meningkatnya permintaan pasar. Dalam perjalanannya, usaha tenun milik Bagiarta melibatkan sejumlah penenun lokal dari berbagai wilayah di Bali yang bekerja menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Pada masa kejayaannya, usaha tersebut mampu memberdayakan hingga 15 penenun. Saat ini sistem produksi masih berjalan melalui pola kemitraan, di mana para penenun mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing.
Produk yang dihasilkan berupa kamen, sarung, hingga kain jumputan yang banyak digunakan untuk kebutuhan adat, upacara keagamaan, maupun seragam organisasi seperti PKK. Pemasarannya menjangkau berbagai toko kain dan sentra kebaya di Bali.
Permintaan pasar yang terus meningkat menjadi peluang sekaligus tantangan. Dalam satu bulan, pesanan mencapai sekitar 500 lembar kamen dan 500 lembar sarung. Namun proses pengerjaan yang masih mengandalkan teknik tradisional membuat seluruh pesanan tersebut baru dapat diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat bulan.
“Permintaan tetap ada dan cukup banyak, cuma pengerjaannya memang tidak bisa cepat karena semuanya masih tradisional,” katanya.
Selain keterbatasan tenaga produksi, kenaikan harga bahan baku juga menjadi persoalan serius. Harga benang yang sebelumnya sekitar Rp400 ribu per pak kini melonjak menjadi sekitar Rp900 ribu per pak. Padahal satu pak benang hanya mampu menghasilkan sekitar 80 meter kain tenun.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan modal usaha semakin besar. Untuk menjaga keberlangsungan produksi sekaligus mengembangkan usaha, Bagiarta memanfaatkan dukungan pembiayaan dari BRI.
Dana pembiayaan tersebut digunakan untuk pengembangan usaha, termasuk pembangunan homestore yang diharapkan dapat memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis yang telah dirintis selama puluhan tahun.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan dukungan terhadap UMKM berbasis budaya lokal memiliki peran strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“BRI mendukung kegiatan usaha pertenunan Wayan Bagiarta yang telah memberdayakan penenun lokal. Dengan demikian ekonomi masyarakat juga dapat hidup dan bergerak,” ujar Hery.
Menurutnya, pemerintah saat ini juga tengah mendorong penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Program tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk membangun homestore maupun fasilitas pendukung usaha lainnya.
Hery menilai kebutuhan modal akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pelaku usaha setiap tahun. Karena itu, perbankan memiliki peran penting dalam memperkuat sektor riil dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Permodalan berupa pinjaman akan selalu dibutuhkan masyarakat untuk pengembangan usaha maupun memperbesar size usahanya. Di sinilah peran bank dalam mendorong pertumbuhan ekonomi terutama sektor riil,” katanya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keberlangsungan usaha tenun tradisional seperti yang dijalankan I Wayan Bagiarta menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya Bali sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Tingginya permintaan pasar menunjukkan bahwa kain tenun Bali masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat dan menjadi salah satu produk budaya yang terus berkembang hingga saat ini.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/adv
Berita Terpopuler
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 514 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 398 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 368 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 315 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun