Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 April 2026
Perilaku Self-Harm pada Anak yang Tumbuh dalam Luka Emosional
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun, KR yang saat ini duduk di kelas VIII E datang berkonsultasi. Ia bercerita, sejak kecil, kehidupannya diwarnai oleh berbagai pengalaman yang cukup berat secara emosional. Ketika ia berusia sekitar dua tahun, ibunya meninggalkan rumah.
Ia pernah menyaksikan pertengkaran antara ayah dan ibunya ketika ibunya mencoba kembali saat ia berusia empat tahun. Setelah perpisahan tersebut, ibunya tinggal terpisah dan ayahnya kemudian menikah lagi. Ia akhirnya tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Namun, ia sering merasa tidak nyaman karena ia merasa ibu tirinya kerap membicarakan dirinya secara negatif kepada keluarga besar, seperti menilai sikapnya kurang baik atau malas. Ketika ia mencoba menceritakan hal tersebut kepada ayahnya, ia merasa tidak dipercaya, sehingga membuatnya merasa sedih dan semakin kesepian.
Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Kakak pertamanya sudah menikah dan tinggal terpisah. Kakak keduanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas ketika masih duduk di kelas tiga SMA di Bangli. Peristiwa ini menjadi pengalaman kehilangan yang sangat membekas baginya. Kakak ketiganya sejak kecil sering sakit-sakitan dan kemudian diasuh oleh keluarga lain.
Ketika masih sekolah dasar, ia juga mengalami pengalaman perundungan dari kakak kelas dan teman-temannya. Ia pernah dipermalukan ketika rok sekolahnya dibuka oleh kakak kelasnya. Selain itu, beberapa temannya pernah memasukkan laba-laba hidup ke dalam tasnya. Meskipun saat ini mereka masih berinteraksi sebagai teman, ia mengaku hubungan tersebut terasa tidak nyaman baginya.
Sejak sekitar kelas lima SD, ia mulai menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri, seperti menggores tangannya ketika merasa sedih, kecewa, atau sendirian. Ia juga pernah mencoba memakan pecahan kaca. Ia sering merasa tidak percaya diri, takut, dan mengalami kesulitan tidur. Ketika merasa sangat sedih, ia sering menangis sendiri, dan saat ini terkadang menggigit jarinya sebagai cara melampiaskan perasaan.
Di tengah berbagai pengalaman hidup tersebut, ia tetap menunjukkan kepedulian terhadap ayahnya yang bekerja keras. Namun berbagai peristiwa yang dialaminya membuat ia sering merasa sendiri di lingkungan sekitarnya.
Trauma masa kecil, bullying, dan regulasi emosi pada remaja
Masa remaja sering digambarkan sebagai fase kehidupan yang penuh harapan, eksplorasi diri, dan dinamika perkembangan yang positif. Namun bagi sebagian anak, masa ini justru menjadi periode yang sarat dengan luka emosional yang tidak terlihat. Kasus KR, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun yang duduk di kelas VIII E, menunjukkan bagaimana pengalaman hidup yang berat sejak masa kanak-kanak dapat memengaruhi perkembangan psikologis seseorang secara mendalam.
Fenomena perilaku menyakiti diri tanpa niat bunuh diri atau non-suicidal self-injury (NSSI) pada remaja semakin mendapat perhatian dalam penelitian kesehatan mental global. Dalam kasus KR, beberapa pengalaman hidup yang ia alami sejak masa kanak-kanak dapat dipahami sebagai faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku tersebut. Salah satu faktor penting adalah pengalaman trauma dan kehilangan pada usia dini.
Sejak usia sekitar dua tahun, KR mengalami perpisahan dengan ibunya yang meninggalkan rumah. Hubungan emosional yang stabil antara anak dan pengasuh utama merupakan fondasi penting bagi perkembangan psikologis yang sehat. Ketika hubungan tersebut terganggu pada masa awal kehidupan, anak dapat mengalami insecure attachment, yaitu rasa tidak aman dalam hubungan emosional dengan orang lain.
Anak yang tumbuh dalam kondisi ini sering kali mengalami kesulitan mempercayai orang lain, merasa tidak cukup dicintai, dan memiliki kerentanan lebih besar terhadap gangguan emosi. Remaja dengan riwayat insecure attachment memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, serta perilaku menyakiti diri.
Dalam konteks KR, absennya figur ibu sejak usia dini, konflik orang tua yang pernah ia saksikan, serta perubahan struktur keluarga kemungkinan memengaruhi pembentukan rasa aman emosionalnya. Selain itu, kehilangan kakak akibat kecelakaan lalu lintas juga menjadi pengalaman duka yang sangat membekas. Kehilangan anggota keluarga pada masa perkembangan sering kali memunculkan perasaan kesepian, ketidakberdayaan, serta kesedihan yang berkepanjangan.
Faktor kedua yang turut berperan adalah lingkungan keluarga yang tidak sepenuhnya memberikan validasi emosional. Dalam perkembangan psikologis anak, kemampuan orang tua untuk mendengarkan dan mengakui perasaan anak memiliki peran yang sangat penting. Validasi emosional membantu anak belajar memahami dan mengelola emosi mereka secara sehat. Dalam kisahnya, KR menggambarkan bahwa ketika ia mencoba menyampaikan perasaannya kepada ayahnya mengenai pengalaman yang membuatnya tidak nyaman, ia justru merasa tidak dipercaya.
Situasi seperti ini dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai emotional invalidation, yaitu kondisi ketika perasaan seseorang tidak diakui atau dianggap tidak penting. Pengalaman emotional invalidation dalam keluarga merupakan salah satu prediktor kuat munculnya perilaku self-harm pada remaja. Ketika anak merasa bahwa tidak ada ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka, emosi yang terpendam dapat menumpuk dan akhirnya mencari jalan keluar melalui perilaku yang melukai diri.
Selain faktor keluarga, pengalaman perundungan di sekolah juga menjadi faktor yang signifikan. Perundungan atau bullying telah lama diketahui sebagai faktor risiko utama bagi berbagai masalah kesehatan mental pada remaja. Remaja yang mengalami bullying memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami depresi serta perilaku menyakiti diri dibandingkan dengan remaja yang tidak mengalami perundungan.
Pengalaman KR ketika roknya dibuka oleh kakak kelasnya merupakan bentuk perundungan yang sangat memalukan dan dapat menimbulkan trauma psikologis yang mendalam. Selain itu, pengalaman ketika teman-temannya memasukkan laba-laba hidup ke dalam tasnya menunjukkan adanya pola intimidasi yang berulang. Peristiwa-peristiwa semacam ini dapat mengikis rasa percaya diri dan membuat anak memandang dirinya sebagai individu yang tidak berharga atau tidak diterima oleh lingkungan sosialnya. Ketika pengalaman seperti ini terjadi berulang kali tanpa adanya perlindungan yang memadai dari lingkungan sekitar, dampaknya terhadap perkembangan psikologis anak dapat menjadi sangat signifikan.
Perilaku menyakiti diri sering kali bukan merupakan ekspresi keinginan untuk mati, melainkan merupakan cara seseorang untuk mengatasi emosi yang sangat intens dan sulit dikelola. Self-harm dapat berfungsi sebagai mekanisme koping untuk meredakan tekanan emosional yang tidak tertahankan. Bagi sebagian remaja, rasa sakit fisik justru memberikan sensasi pelepasan sementara dari rasa sakit emosional yang mereka alami.
Perilaku tersebut dapat berfungsi untuk meredakan kesedihan yang mendalam, mengalihkan perhatian dari pikiran yang menyakitkan, mengekspresikan emosi yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata, atau memberikan rasa kontrol terhadap diri sendiri ketika kehidupan terasa tidak terkendali. Dalam kasus KR, perilaku menggores tangan atau menggigit jari kemungkinan menjadi cara yang ia gunakan untuk menyalurkan kesedihan, kekecewaan, dan rasa kesepian yang sulit ia bagikan kepada orang lain serta merasakan bahwa perasaannya adalah nyata. Pengalaman kehilangan, kurangnya dukungan emosional, serta pengalaman perundungan dapat membentuk kondisi psikologis yang membuat seorang anak merasa terisolasi dalam menghadapi penderitaannya.
Luka batin yang tak terlihat
Pengalaman masa kanak-kanak memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan struktur kepribadian serta dinamika emosi seseorang di kemudian hari. Melalui perspektif ini, perilaku dan pengalaman emosional seseorang tidak hanya dipahami dari peristiwa yang terjadi saat ini, tetapi juga dari jejak pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam kehidupan batin seseorang. Dalam kasus KR, pengalaman kehilangan figur ibu sejak usia dini, konflik keluarga yang pernah ia saksikan, serta pengalaman relasi yang tidak selalu memberikan rasa aman kemungkinan membentuk dinamika psikologis tertentu yang memengaruhi cara ia memandang dirinya sendiri dan hubungannya dengan orang lain.
Salah satu dinamika yang dapat dipahami melalui kerangka psikodinamika adalah konflik emosional yang muncul akibat pengalaman ditinggalkan. Pengalaman kehilangan atau ditinggalkan oleh figur yang memiliki makna emosional penting dapat memunculkan konflik batin yang mendalam. Anak yang mengalami situasi tersebut sering kali mengembangkan perasaan tidak dicintai, rasa bersalah, serta ketakutan akan penolakan di masa depan.
Bagi seorang anak kecil, perpisahan orang tua jarang dipahami sebagai konsekuensi dari masalah orang dewasa. Sebaliknya, anak sering menafsirkan peristiwa tersebut secara personal, seolah-olah dirinya adalah penyebab dari perpisahan tersebut. Tanpa disadari, pemaknaan ini dapat membentuk narasi internal yang memengaruhi harga diri seseorang. Dalam hal ini, pengalaman ditinggalkan oleh ibunya pada usia sangat muda kemungkinan membentuk perasaan bahwa dirinya kurang berharga atau tidak cukup dicintai. Narasi internal seperti ini dapat bertahan lama dan memengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya serta bagaimana ia menjalin relasi dengan orang lain.
Selain konflik emosional tersebut, individu sering menggunakan berbagai mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi tekanan emosional yang sulit ditoleransi. Mekanisme pertahanan ini bekerja secara tidak disadari dan bertujuan melindungi individu dari perasaan yang terlalu menyakitkan. Beberapa mekanisme pertahanan mungkin muncul sebagai respons terhadap pengalaman hidup yang ia alami.
Salah satunya adalah introjection, yaitu proses ketika individu menyerap kritik atau penilaian negatif dari lingkungan dan menjadikannya sebagai bagian dari cara ia memandang dirinya sendiri. Jika seorang anak berulang kali menerima pesan bahwa dirinya tidak cukup baik atau bermasalah, pesan tersebut dapat secara perlahan menjadi bagian dari identitas dirinya.
Mekanisme lain yang mungkin muncul adalah self-punishment, yaitu kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri sebagai bentuk hukuman terhadap diri. Dalam beberapa kasus, perilaku menyakiti diri dapat muncul dari perasaan bersalah atau perasaan bahwa diri sendiri pantas menerima penderitaan. Selain itu, terdapat pula mekanisme withdrawal, yaitu kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial sebagai cara untuk melindungi diri dari potensi luka emosional. Ketika seseorang merasa lingkungan sosialnya tidak aman atau tidak dapat dipercaya, menarik diri dapat menjadi strategi untuk menghindari rasa sakit psikologis yang lebih besar.
Perilaku menyakiti diri dalam konteks ini dapat dipahami sebagai manifestasi dari konflik emosional yang belum terselesaikan. Bagi sebagian individu, rasa sakit fisik dapat memberikan sensasi pelepasan sementara dari tekanan emosional yang sulit diungkapkan melalui kata-kata dan validasi akan perasaan yang dialaminya. Dalam perspektif psikodinamika, perilaku tersebut bukan hanya sekadar tindakan impulsif, tetapi sering kali merupakan ekspresi simbolik dari pergulatan batin yang lebih dalam.
Kondisi KR juga dapat dipahami melalui konsep psychological well-being yang memandang kesejahteraan psikologis sebagai suatu kondisi yang terdiri dari enam dimensi utama, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others), otonomi (autonomy), kemampuan mengelola lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), serta pertumbuhan pribadi (personal growth). Keenam dimensi tersebut saling berkaitan dan membentuk fondasi bagi kesehatan mental seseorang.
Dimensi pertama yang terlihat pada kasus ini adalah rendahnya self-acceptance. Pengalaman perundungan, konflik keluarga, serta perasaan tidak dipercaya ketika mencoba mengungkapkan perasaan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. KR menggambarkan bahwa ia sering merasa tidak percaya diri dan merasa tidak nyaman dalam relasi sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses penerimaan diri belum berkembang secara optimal.
Dimensi kedua yang tampak terdampak adalah hubungan interpersonal. Pengalaman relasi yang penuh konflik, baik dalam keluarga maupun lingkungan sekolah, dapat memunculkan kesulitan dalam membangun kepercayaan terhadap orang lain. Ketika pengalaman hubungan yang aman dan suportif terbatas, seseorang dapat merasa kesepian meskipun berada di tengah lingkungan sosial.
Selain itu, dimensi environmental mastery atau kemampuan mengelola lingkungan juga tampak terbatas. KR merasa tidak memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaannya secara terbuka. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali terhadap lingkungan sosialnya, rasa tidak berdaya dapat muncul dan memperburuk kondisi emosional yang sudah rapuh. Situasi ini dapat memperkuat perasaan isolasi dan memperbesar risiko munculnya perilaku maladaptif sebagai bentuk pelarian dari tekanan emosional.
Meskipun demikian, penting untuk menyadari bahwa di tengah berbagai pengalaman hidup yang sulit tersebut, terdapat pula potensi kekuatan psikologis yang dimiliki oleh KR. Ia masih menunjukkan kepedulian terhadap ayahnya yang bekerja keras, yang menandakan adanya kapasitas empati dan kepekaan emosional yang tetap berkembang. Kemampuan untuk tetap memiliki rasa peduli terhadap orang lain di tengah kesulitan hidup merupakan indikator penting dari potensi resiliensi psikologis.
Keberadaan satu figur dewasa yang suportif dapat memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pemulihan psikologis anak yang mengalami trauma masa kecil. Hubungan yang stabil dan penuh dukungan dengan satu orang dewasa, baik itu orang tua, guru, atau figur pengasuh lainnya dapat meningkatkan rasa aman emosional, memperbaiki regulasi emosi, serta menurunkan risiko gangguan mental pada masa remaja.
Melindungi anak yang sedang bertumbuh
Apa yang dialami oleh KR tidak hanya dapat dipahami sebagai kisah pribadi seorang remaja yang sedang menghadapi pergulatan emosional, tetapi juga sebagai cerminan dari bagaimana sistem sosial di sekitar anak turut memengaruhi kesejahteraan mental mereka. Kesehatan mental seorang anak tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam jejaring relasi yang melibatkan keluarga, sekolah, lingkungan sosial, serta kebijakan publik yang membentuk kehidupan sehari-hari mereka. Oleh karena itu, upaya melindungi anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang memerlukan keterlibatan bersama dari berbagai pihak.
Bagi keluarga, kasus seperti KR mengingatkan kembali bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling menentukan dalam pembentukan kesehatan emosional anak. Hubungan yang hangat, aman, dan penuh penerimaan menjadi fondasi penting bagi perkembangan psikologis yang sehat. Namun dalam realitas kehidupan, tidak semua anak mampu mengekspresikan perasaan mereka secara langsung kepada orang tua. Banyak anak yang menyimpan kesedihan, ketakutan, atau rasa kecewa dalam diam karena khawatir tidak dipahami atau bahkan disalahkan.
Oleh karena itu, orang tua perlu mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dengan empati tanpa segera menghakimi atau menilai benar dan salah. Anak perlu merasakan bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk mengungkapkan perasaan mereka, bahkan ketika perasaan tersebut sulit atau menyakitkan.
Memvalidasi perasaan anak, menyediakan waktu untuk percakapan yang hangat dan penuh perhatian, serta bersedia mencari bantuan profesional ketika diperlukan merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan keluarga yang suportif. Komunikasi keluarga yang terbuka dan penuh dukungan merupakan salah satu faktor protektif paling kuat dalam mencegah depresi dan perilaku menyakiti diri pada remaja.
Selain keluarga, sekolah juga memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan anak. Bagi banyak remaja, sekolah merupakan ruang sosial utama di mana mereka belajar membangun relasi, mengembangkan identitas diri, serta menemukan rasa memiliki dalam komunitas sebaya. Ketika lingkungan sekolah tidak aman atau dipenuhi dengan perundungan, dampaknya dapat sangat signifikan terhadap perkembangan psikologis siswa.
Oleh karena itu, sekolah perlu secara aktif menciptakan budaya yang menjunjung tinggi rasa aman, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama. Program pencegahan bullying yang komprehensif terbukti mampu menurunkan angka perundungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa. Di samping itu, sekolah juga perlu mengembangkan literasi kesehatan mental melalui pelatihan bagi guru untuk mengenali tanda-tanda distress emosional pada siswa, menyediakan layanan konseling sekolah yang mudah diakses, serta membangun program dukungan sebaya atau peer support. Lingkungan sekolah yang inklusif dan peduli dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak yang mungkin tidak mendapatkan dukungan emosional yang cukup di rumah.
Melihat permasalahan ini, tanggung jawab untuk menjaga kesehatan mental anak tidak hanya berada pada keluarga dan sekolah, tetapi juga pada kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah. Pemerintah memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja tersedia secara merata dan mudah diakses oleh masyarakat.
Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan layanan kesehatan mental berbasis sekolah, pengembangan sistem rujukan psikologis yang terintegrasi dengan layanan kesehatan primer, serta penyusunan program nasional untuk pencegahan bullying dan promosi kesehatan mental. Edukasi kesehatan mental bagi orang tua dan masyarakat juga menjadi komponen penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan emosional anak. Integrasi layanan kesehatan mental ke dalam sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan dasar merupakan strategi utama dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis anak dan remaja.
Di luar institusi formal, masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak. Budaya empati, kepedulian sosial, dan solidaritas komunitas dapat menjadi faktor pelindung yang kuat bagi anak-anak yang sedang menghadapi kesulitan emosional. Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong, komunitas lokal sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi ruang dukungan yang hangat bagi anak-anak dan keluarga mereka. Ketika masyarakat mampu membangun lingkungan yang penuh perhatian terhadap kesejahteraan anak, maka anak-anak yang mengalami kesulitan tidak akan merasa sendirian menghadapi pergulatan hidup mereka.
Apa yang terjadi pada KR pada akhirnya mengingatkan kita bahwa di balik wajah remaja yang tampak biasa, sering kali tersimpan cerita kehidupan yang tidak mudah. Perilaku menyakiti diri yang ia lakukan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah bahasa sunyi dari rasa sakit emosional yang belum menemukan tempat untuk didengar dan dipahami. Pengalaman seperti ini mengajarkan bahwa kesehatan mental anak tidak dapat dipisahkan dari konteks keluarga, sekolah, serta lingkungan sosial tempat mereka tumbuh. Setiap anak membutuhkan ruang yang aman secara emosional untuk berkembang, belajar memahami dirinya, serta membangun harapan terhadap masa depan.
Melindungi kesehatan mental anak bukan hanya tugas tenaga kesehatan atau profesional di bidang psikologi dan psikiatri. Ia merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan keluarga, pendidik, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas. Ketika semua pihak bekerja bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih empatik, lebih peduli, dan lebih aman secara emosional, maka kita sesungguhnya sedang membangun dunia yang lebih baik bagi anak-anak kita. Dunia di mana mereka dapat tumbuh dengan rasa aman, memiliki keberanian untuk bermimpi, dan menjalani masa remaja yang seharusnya penuh dengan harapan serta kemungkinan yang indah.
Tips mengenali gejala menyakiti diri pada anak:
• Adanya perubahan emosi yang tidak biasa
• Menarik diri dari pergaulan sosial
• Perubahan pola tidur dan makan
• Adanya penurunan minat pada aktivitas yang disukai
• Penurunan prestasi akademik
• Muncul perilaku berisiko yang berlangsung secara konsisten
• Ada perubahan cara anak mengekspresikan diri
• Ada keluhan fisik tanpa sebab medis yang jelas
Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3862 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1812 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang