Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Memahami Ketergantungan Alkohol dari Sebuah Pelarian Menuju Pemulihan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang laki-laki berusia 23 tahun berinisial AKK datang dengan keluhan utama sulit mengendalikan keinginannya untuk mengonsumsi alkohol. Dalam dua tahun terakhir, ia mengaku hampir setiap hari minum alkohol.
Kebiasaan ini berawal saat ia masih duduk di kelas III SMA, ketika ia mencoba minum bersama teman-temannya. Pada awalnya, alkohol membuatnya merasa lebih rileks dan mudah tidur. Sejak saat itu, setiap kali mengalami kesulitan tidur atau merasa pikirannya terlalu penuh, ia cenderung mencari alkohol sebagai cara untuk menenangkan diri.
Seiring waktu, pola minumnya semakin sulit dikendalikan. Ia lebih sering minum sendirian dibandingkan bersama teman. Ia juga memiliki kebiasaan merokok, yang belakangan berubah menjadi penggunaan vape. Ketika minum, ia sering sampai mabuk berat bahkan mengalami blackout, sehingga keesokan harinya ia tidak mampu mengingat kejadian yang terjadi pada malam sebelumnya.
Ia merasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri karena sudah beberapa kali mencoba berhenti, tetapi selalu gagal. Waktu terlama ia mampu berhenti hanya sekitar dua minggu. Ia tidak memiliki keinginan untuk bunuh diri, tetapi ia merasa sangat ingin “selamat” dari kondisi ini dan kembali memiliki kendali atas hidupnya. Ia juga mengeluhkan sering bingung, merasa kosong atau ngeblank, serta membutuhkan waktu untuk bisa kembali fokus.
Dalam riwayat kehidupannya, ia menggambarkan ibunya sebagai sosok yang keras dan sangat mengatur. Ia masih mengingat ucapan ibunya sewaktu kecil, “Kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak bisa?” Kalimat tersebut membekas dan membuatnya sering merasa tidak cukup baik. Saat ini, ia kerap membandingkan dirinya dengan teman-temannya yang tampak sudah memiliki tujuan hidup yang jelas. Ia takut gagal, terutama ketika memikirkan masa depan setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja.
Sebelumnya, ia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul, memiliki banyak teman, dan aktif dalam berbagai kegiatan. Namun sejak penggunaan alkohol semakin berat, ia mulai menarik diri, lebih banyak menyendiri, dan menjauhi interaksi sosial. Meski demikian, ia masih memiliki keinginan kuat untuk berhenti minum, memulihkan diri, dan kembali beraktivitas serta menjalin hubungan dengan teman-temannya seperti dulu.
Apa yang membuat seseorang menjadi ketergantungan alkohol
Kasus AKK, laki-laki 23 tahun dengan penggunaan alkohol hampir setiap hari, bukan sekadar kisah tentang kurang kemauan atau pergaulan buruk. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa alkohol mengandung etanol, zat psikoaktif dan toksik yang memiliki sifat menimbulkan ketergantungan.
Secara global, sekitar 400 juta orang hidup dengan alkohol use disorder, dan sekitar 209 juta di antaranya mengalami ketergantungan alkohol. Kelompok usia muda juga terdampak besar dengan proporsi kematian terkait alkohol tertinggi terjadi pada usia 20–39 tahun.
AKK tampaknya tidak langsung menjadi pecandu alkohol. Ia memasuki alkohol melalui pintu yang sangat umum diawali dengan rasa ingin mencoba, pengaruh teman sebaya, dan pengalaman subjektif bahwa alkohol membuatnya rileks serta mudah tidur. Dalam teori belajar behavioristik, perilaku yang menghasilkan konsekuensi menyenangkan cenderung diulang.
Ketika alkohol membuat tidur terasa lebih mudah, tubuh dan pikirannya belajar, bahwa kalau gelisah, minum. Ini disebut penguatan negatif, karena alkohol digunakan untuk menghilangkan keadaan tidak nyaman seperti insomnia, cemas, pikiran penuh, atau rasa gagal.
Pada awalnya, alkohol mungkin terasa sebagai alat bantu. Namun ketika digunakan berulang sebagai strategi regulasi emosi, ia menghambat berkembangnya keterampilan koping yang lebih sehat. AKK tidak belajar menenangkan diri melalui refleksi, komunikasi, olahraga, spiritualitas, relasi sosial, atau pemecahan masalah. Ia belajar bahwa ketidaknyamanan harus segera diredam. Dalam perspektif psikologi perkembangan, ini berbahaya karena usia 20-an awal merupakan masa pembentukan identitas dan kapasitas menghadapi tekanan hidup.
Faktor penting lain adalah pengalaman relasional dengan ibu. Kalimat “Kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak bisa?” mungkin bagi orang tua dimaksudkan sebagai motivasi. Namun bagi seorang anak, kalimat itu dapat terinternalisasi sebagai pesan bahwa dirinya tidak pernah cukup. Dalam teori psikodinamik, suara orang tua yang keras dapat berubah menjadi superego yang menghukum. AKK kemudian membawa hakim internal dalam dirinya dimana ia membandingkan diri, merasa tertinggal, takut gagal, dan sulit menerima kelemahan. Alkohol menjadi cara sementara untuk membungkam suara internal tersebut.
Kita juga melihat kemungkinan pola insecure attachment. Bila figur pengasuh dirasakan terlalu mengatur, anak dapat tumbuh dengan ambivalensi. Ia membutuhkan penerimaan, tetapi sekaligus takut dinilai. Saat dewasa, ia tampak mudah bergaul, tetapi rapuh ketika harus menghadapi tekanan personal.
Ketika tuntutan masa depan muncul untuk lulus kuliah, bekerja, menentukan arah hidup maka rasa tidak cukup baik kembali aktif. Alkohol lalu dipakai sebagai pelarian dari kecemasan eksistensial.
Dari aspek sosial, AKK awalnya memiliki banyak teman dan aktif. Tetapi ketika penggunaan alkohol makin berat, ia mulai menarik diri dan minum sendiri. Ini merupakan tanda penting. Minum sosial berubah menjadi minum soliter. Dalam banyak kasus ketergantungan, peralihan ini menandai perubahan fungsi alkohol yang dari sarana rekreasi menjadi sarana bertahan hidup secara emosional. Ketika seseorang mulai minum sendirian untuk tidur, menghilangkan pikiran, atau menghindari rasa gagal, alkohol sudah menjadi regulator diri eksternal.
Blackout yang dialami AKK juga menunjukkan pola minum berisiko tinggi. National Institute on Alkohol Abuse and Alkoholism (NIAAA) mendefinisikan binge drinking pada laki-laki adalah ketika seseorang mengkonsumsi lima atau lebih gelas minuman standar dalam waktu sekitar dua jam, dan heavy drinking sebagai lima atau lebih gelas minuman pada hari apa pun atau 15 atau lebih gelas minuman per minggu. Pola minum berat meningkatkan risiko alkohol use disorder dan berbagai konsekuensi fisik, mental, serta sosial.
Baca juga:
5 Bahaya Overthinking Bagi Kesehatan
Kasus AKK menunjukkan, ia menjadi pecandu bukan karena satu sebab tunggal. Ia menjadi pecandu karena alkohol bertemu dengan insomnia, kecemasan, rasa tidak cukup baik, tekanan masa depan, pola keluarga yang kritis, dan keterbatasan keterampilan regulasi emosi. Alkohol awalnya menjadi jawaban cepat, lalu berubah menjadi masalah utama.
Apa yang terjadi pada ketergantungan alkohol
Secara psikodinamik, penggunaan alkohol pada AKK dapat dipahami sebagai mekanisme pertahanan. Ia tidak hanya minum untuk mabuk, tetapi untuk menghindari rasa sakit psikis berupa rasa malu, takut gagal, kesepian, dan kemarahan yang mungkin sulit diungkapkan. Alkohol dapat berfungsi sebagai bentuk regresi yang membuat kembali ke keadaan nyaman, pasif, dan bebas tuntutan. Ketika realitas terasa terlalu berat, alkohol menciptakan ilusi sementara bahwa semua baik-baik saja.
Individu juga membutuhkan pengalaman dihargai, dipahami, dan dicerminkan secara empatik. Bila pengalaman ini kurang, seseorang dapat memiliki self-esteem yang rapuh. AKK tampak membawa luka narsistik dimana ia merasa dirinya tidak sebaik orang lain, tidak punya arah, dan takut tidak mampu. Alkohol memberi self-soothing instan, tetapi palsu. Ia menenangkan, tetapi tidak membangun diri. Ia meredakan malu, tetapi tidak menyembuhkan akar malu.
Pada kasus ini AKK berada pada fase identity versus role confusion yang berlanjut ke intimacy versus isolation. Ia sedang mencari jawaban untuk pertanyaan, “Saya siapa? Saya akan menjadi apa? Apakah saya cukup mampu?” Ketika jawaban belum terbentuk dan tekanan sosial meningkat, alkohol menjadi jalan pintas untuk menghindari kebingungan identitas. Sayangnya, semakin sering ia minum, semakin banyak fungsi hidup yang terganggu. Ia menarik diri, kehilangan aktivitas, dan semakin jauh dari identitas sehat yang dulu ia miliki.
Secara psikososial, kita melihat lingkaran setan. Alkohol mengurangi kecemasan sementara. Namun setelah mabuk, blackout, dan gagal berhenti, muncul rasa bersalah. Rasa bersalah memperburuk self-esteem. Self-esteem yang buruk memicu keinginan minum lagi. Relasi sosial melemah, dukungan berkurang, dan kesepian meningkat. Pada titik ini, alkohol bukan lagi sekadar zat, melainkan bagian dari ekosistem penderitaan.
Adanya adverse childhood experiences dan pengalaman relasional negatif masa kecil berhubungan dengan peningkatan risiko penggunaan alkohol dan zat pada remaja serta dewasa muda. Paparan berbagai pengalaman masa kecil yang merugikan merupakan faktor risiko kuat untuk penggunaan alkohol, cannabis, dan zat lain pada dewasa muda. Selain itu maltreatment masa kecil dapat berdampak tidak langsung terhadap masalah alkohol melalui gangguan regulasi emosi. Pada AKK, kita tidak boleh langsung menyimpulkan adanya trauma berat, tetapi pengalaman emosional dengan figur ibu yang keras tampaknya cukup bermakna dalam membentuk rasa diri yang rapuh.
Secara neurobiologis, ketergantungan alkohol melibatkan perubahan pada sistem reward, stres, memori, dan kontrol eksekutif. Pada fase awal, alkohol meningkatkan efek dopamin di jalur mesolimbik, terutama terkait nucleus accumbens. Ini menghasilkan rasa nyaman, rileks, dan penguatan perilaku. Tetapi dengan penggunaan berulang, otak beradaptasi. Dibutuhkan alkohol lebih sering atau lebih banyak untuk mendapatkan efek yang sama. Ini disebut toleransi.
Pada saat yang sama, sistem stres otak menjadi lebih aktif. Model addiction modern menjelaskan bahwa ketergantungan bergerak dari impulsivity menuju compulsivity. Awalnya seseorang minum untuk mendapatkan kenikmatan. Lama-kelamaan ia minum untuk menghindari tidak nyaman seperti gelisah, insomnia, kosong, mudah marah, atau tidak fokus.
Keluhan AKK berupa bingung, ngeblank, dan sulit fokus dapat berkaitan dengan efek alkohol terhadap korteks prefrontal dan memori. Alkohol mengganggu jalur komunikasi otak, memengaruhi mood, perilaku, kemampuan berpikir jernih, dan koordinasi. Blackout menunjukkan adanya gangguan pembentukan memori, terutama pada fungsi hippocampus. Ini bukan sekadar lupa biasa, tetapi tanda bahwa kadar alkohol telah cukup tinggi untuk mengganggu encoding memori.
Vape dan rokok juga perlu dicermati. Nikotin dan alkohol sering saling memperkuat melalui sistem dopaminergik. Pada banyak orang, penggunaan nikotin meningkatkan craving alkohol, dan alkohol meningkatkan dorongan merokok atau vaping. Secara klinis, ini berarti pemulihan AKK idealnya tidak hanya membahas alkohol, tetapi juga pola penggunaan nikotin, kualitas tidur, kecemasan, dan gaya hidup.
Namun bagian terpentingnya adalah, otak yang berubah karena alkohol masih dapat pulih. Neuroplastisitas memungkinkan pemulihan fungsi bila abstinensia, dukungan sosial, terapi psikologis, aktivitas bermakna, dan bila perlu farmakoterapi diberikan secara konsisten. Karena itu, kalimat AKK bahwa ia ingin selamat adalah tanda prognostik yang sangat penting. Ia belum menyerah. Masih ada bagian sehat dalam dirinya yang meminta pertolongan.
Apa yang perlu dilakukan untuk menghindari ketergantungan alkohol
Bagi individu seperti AKK, langkah pertama adalah mengubah cara memandang diri. Ia bukan orang rusak, melainkan orang yang selama ini memakai cara yang keliru untuk mengobati luka dan kecemasan. Rasa malu harus diganti dengan tanggung jawab. Tanggung jawab berarti berani mencari pertolongan, membuat rencana berhenti yang realistis, mengenali pencetus craving, memperbaiki tidur, dan membangun kembali aktivitas harian.
Dalam kasus dengan konsumsi hampir setiap hari dan blackout, evaluasi psikiatri penting untuk menilai derajat penyalahgunaan alkohol, risiko withdrawal, komorbid depresi atau kecemasan, serta kebutuhan obat seperti naltrexone, acamprosate, atau disulfiram sesuai indikasi klinis.
Bagi keluarga, refleksi terpenting adalah mengubah komunikasi dari kontrol menjadi koneksi. Keluarga sering ingin menolong dengan menasihati, memarahi, atau membandingkan. Tetapi pada individu dengan rasa malu yang besar, cara itu justru memperdalam luka. Keluarga perlu belajar mengatakan “Kami khawatir, kami ingin membantu, dan kami percaya kamu bisa pulih.” Bukan berarti keluarga membiarkan perilaku minum. Batas tetap perlu dibuat, tetapi batas harus disertai empati. Keterlibatan keluarga memegang peran penting.
Model intervensi keluarga pada pengguna dewasa muda dengan substance use disorder menyatakan bahwa intervensi keluarga efektif dalam mengurangi penggunaan zat pada dewasa muda. Ini sangat sesuai dengan konteks budaya Indonesia dan Bali, di mana keluarga bukan hanya unit privat, tetapi pusat identitas, dukungan, dan kontrol sosial.
Bagi masyarakat, pencegahan ketergantungan alkohol tidak cukup dengan slogan moral. Kita perlu membangun ekosistem sehat seperti edukasi sejak remaja tentang alkohol dan tidur, ruang konsultasi yang tidak menghakimi, pembatasan akses alkohol pada usia muda, promosi aktivitas komunitas, dan literasi kesehatan mental. WHO menekankan bahwa intervensi kebijakan alkohol yang efektif sudah tersedia, termasuk pengendalian harga, ketersediaan, pemasaran, serta penguatan layanan.
Banyak anak muda minum bukan hanya karena ingin senang, tetapi karena merasa kosong, bingung, kesepian, dan tidak tahu harus menjadi siapa. Maka komunitas perlu menyediakan ruang belonging seperti seni, olahraga, spiritualitas, pelayanan sosial, organisasi pemuda, dan dialog lintas generasi. Dalam budaya Bali, nilai seperti menyama braya, ngayah, dan Tri Hita Karana dapat menjadi sumber protektif bila diterjemahkan secara hidup, bukan hanya sebagai slogan. Hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan dapat membantu anak muda menemukan struktur, keterhubungan, dan tujuan.
Kasus AKK mengajarkan kita, bahwa ketergantungan alkohol adalah persoalan manusia yang kompleks. Di dalamnya ada otak yang berubah, jiwa yang terluka, keluarga yang perlu belajar, dan masyarakat yang harus lebih peduli. Pemulihan tidak dimulai dari penghakiman, tetapi dari perjumpaan yang empatik. Ketika AKK berkata ingin selamat, tugas kita adalah menjawabnya dengan keselamatan itu mungkin, tetapi harus dibangun bersama oleh dirinya, keluarganya, tenaga kesehatan, dan komunitas yang mau melihatnya bukan sebagai pemabuk semata, melainkan sebagai manusia muda yang sedang berjuang menemukan kembali hidupnya. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli