Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
Undiksha Gelar Dharma Santi Penyepian, Dorong Pemertahanan Nilai Hindu di Era Teknologi
bbn/dok Undiksha/Undiksha Gelar Dharma Santi Penyepian, Dorong Pemertahanan Nilai Hindu di Era Teknologi.
BERITABALI.COM, BULELENG.
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menggelar Dharma Santi Penyepian, Kamis (26/3/2026). Acara yang diikuti oleh mahasiswa ini menjadi momentum reflektif bagi generasi muda Hindu dalam menjaga sekaligus mengembangkan nilai-nilai keagamaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya (KMHD YBV) Undiksha ini berlangsung khidmat, namun tetap sarat semangat intelektual. Acara menghadirkan Petajuh I Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Ida Bagus Ketut Suarjata, sebagai narasumber dengan penekanan pada pentingnya keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, mengapresiasi keberanian mahasiswa KMHD YBV dalam menginisiasi kegiatan tersebut. Ia berharap Dharma Santi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan berkembang menjadi program tahunan yang lebih terkonsep, berdampak luas, dan memiliki makna yang semakin mendalam.
Bahkan, ia menantang mahasiswa untuk melangkah lebih jauh dengan menyelenggarakan utsawa dharma gita tingkat nasional pada tahun mendatang. “Saya harap tahun depan ini bisa terwujud. Masalah pendanaan akan kami dukung,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rektor asal Desa Bonyoh, Kintamani, Bangli ini menekankan pentingnya pendekatan progresif dalam memahami ajaran Hindu agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Menurutnya, nilai-nilai agama tidak cukup hanya diwariskan secara lisan, tetapi harus dipahami secara rasional dan kontekstual oleh generasi muda.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi antara ajaran agama dan teknologi. Menurutnya, teknologi bukanlah ancaman, melainkan sarana strategis untuk memperkuat dan menyebarluaskan nilai-nilai dharma.
Sementara itu, Ida Bagus Suarjata menyoroti tantangan penguasaan teknologi, namun menegaskan bahwa budaya tetap menjadi identitas utama umat Hindu. Ia mendorong penguatan pemahaman agama, budaya, dan jati diri melalui pendidikan.
“Agama memiliki landasan yang kuat, sehingga yang utama adalah implementasinya secara bijak. Hindu tetap ajeg karena ditopang desa adat, dan ini harus terus diperkuat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya berlandaskan sastra suci dalam pelaksanaan upacara keagamaan. Mengangkat tema “Harmonisasi Bhuana Agung dan Bhuana Alit”, kegiatan ini menekankan keseimbangan antara manusia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Nilai ini semakin relevan di era digital, di mana kemajuan teknologi harus tetap berlandaskan etika dan kesadaran spiritual.
Ia juga mengajak masyarakat Hindu untuk senantiasa bersandar pada nilai-nilai sastra suci dalam menjalankan upacara keagamaan, agar praktik yang dilakukan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki makna yang mendalam. Melalui Dharma Santi ini, generasi muda Hindu diharapkan tidak hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi juga inovator yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai luhur agama di tengah arus globalisasi.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/adv
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3730 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1673 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
.jpg)