Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
Memahami Luka Anak yang Merasa Tidak Diharapkan dan Trauma Antargenerasi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
SEORANG laki-laki berusia 19 tahun, berinisial BW, datang diantar keluarga dan temannya karena masalah pengendalian emosi. Ia mengaku kemarahannya lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri.
Saat pemeriksaan, tidak ada dorongan agresif, tetapi sekitar satu hingga dua minggu sebelumnya ia sempat mengamuk dan memukul ibunya karena merasa kesal terus diingatkan untuk minum obat. Ia merasa dipaksa, terlebih karena obat membuatnya sangat mengantuk, tidur hingga sore, sakit kepala, dan berdebar sehingga aktivitasnya terganggu.
Ia juga mengalami perubahan suasana perasaan yang cepat, dari senang menjadi sedih dalam satu hari. Ia merasa mampu menilai sifat seseorang dari tatapan mata. Ia pernah menjalani perawatan di klinik jiwa dan mengaku pernah mengalami pelecehan oleh seorang perawat, yang masih menimbulkan dendam dan sakit hati.
Selain itu, ia mengatakan beberapa kali melihat bayangan putih dan sosok menyerupai ayahnya yang telah meninggal lima tahun lalu. Ia merasa sosok tersebut mengajaknya berbicara, sehingga ia kerap sedih dan menangis. Tidurnya kini bergantung pada obat jiwa, meskipun sebelumnya dapat tidur normal. Pola makan berubah sesuai suasana hati, sedangkan perawatan diri tetap baik.
Sejak awal tahun, ia juga menjalani pengobatan TB kelenjar dan berobat secara rutin, tetapi obat jiwanya diminum tidak teratur. Ia kemudian berencana untuk kuliah dan memiliki pacar sejak satu bulan yang lalu yang dirasakan membuatnya lebih semangat dan lebih tenang.
Menurut ibunya, anaknya memukul dirinya saat diminta minum obat. Ia juga sering meminta uang kepada neneknya hingga menghabiskan Rp 50 juta dalam dua minggu tanpa diketahui untuk apa uang tersebut. Uang tersebut didapatkan dari neneknya yang memberikannya uang sesuai permintaannya. Setiap harinya bisa meminta uang 5-6 kali. Ia dikeluhkan suka memutar balikkan cerita dan cenderung manipulatif ke neneknya.
Sejak usia satu bulan, ia diasuh oleh neneknya karena lahir dari hubungan di luar pernikahan dan tidak memperoleh pengasuhan langsung dari ibunya. Dalam dirinya seolah tertanam ia adalah anak yang tidak diharapkan. Selama tumbuh kembang, hampir seluruh keinginannya dipenuhi oleh neneknya sehingga terkesan menjadi pribadi yang manja.
Melihat manusia di balik gejala
Kasus di atas tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan anger issues, ketidakpatuhan minum obat, perilaku manipulatif, atau pemborosan uang. Di balik tindakan memukul ibu, meminta uang berulang kali, perubahan emosi yang cepat, pengalaman melihat sosok ayah yang telah meninggal, dan keyakinan mampu membaca sifat seseorang melalui tatapan mata, terdapat sebuah perjalanan perkembangan yang panjang.
Perjalanan itu dimulai dari kelahiran dalam hubungan di luar pernikahan, keterpisahan dini dari ibu, pengasuhan oleh nenek, pemenuhan hampir seluruh keinginan, pengalaman kehilangan ayah, dugaan pelecehan dalam pelayanan kesehatan, penyakit TB kelenjar, serta konflik mengenai pengobatan.
Seorang anak tidak menjadi sakit semata-mata karena kelahirannya tidak direncanakan. Banyak anak yang lahir dari kehamilan tidak direncanakan dapat tumbuh sehat apabila memperoleh penerimaan, perlindungan, dan hubungan pengasuhan yang konsisten. Masalah muncul ketika keadaan kelahiran diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penolakan, rasa malu keluarga, kerahasiaan, keterpisahan, atau pesan berulang bahwa keberadaannya merupakan sebuah kesalahan.
Pada masa bayi, seorang anak belum memahami bahasa, tetapi ia mengenali pola kehadiran, sentuhan, ekspresi wajah, suara, dan respons pengasuh. Hubungan awal dengan pengasuh ini akan membuat anak membangun internal working model, dimana akan terbentuk gambaran mengenai apakah dirinya layak dicintai, apakah orang lain dapat dipercaya, dan apakah dunia merupakan tempat yang aman.
Ketika kebutuhan emosi dipenuhi secara konsisten, anak mengembangkan kelekatan aman. Sebaliknya, keterpisahan dini, pengasuhan yang tidak konsisten, atau penerimaan yang bersyarat dapat berkontribusi pada kelekatan tidak aman.
Dalam diri BW, pengalaman diasuh oleh nenek sejak usia satu bulan dapat memperoleh dua makna yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, nenek mungkin menjadi figur penyelamat yang memberikan kasih sayang dan keamanan. Di sisi lain, keterpisahan dari ibu dapat secara psikologis dimaknai sebagai bahwa ibu tidak memilih saya. Makna ini belum tentu pernah diucapkan secara langsung, tetapi dapat terbentuk melalui cerita keluarga, perlakuan yang berbeda, ketegangan antara ibu dan nenek, atau cara asal-usul kelahirannya dibicarakan.
Untuk itu pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan tetap berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan mental pada usia dewasa, bahkan setelah kontribusi faktor genetik dan lingkungan keluarga bersama diperhitungkan. Risiko menjadi lebih kuat ketika seseorang mengalami beberapa bentuk adversitas sekaligus.
Adversitas kumulatif dikaitkan dengan kesulitan regulasi emosi, masalah internalisasi seperti depresi dan kecemasan, serta masalah eksternalisasi seperti agresivitas. Namun, luka penolakan dalam kasus BW tampaknya tidak hanya kekurangan perhatian. Ia juga memperoleh pemenuhan materi yang sangat besar dari nenek. Dalam psikologi perkembangan, kasih sayang tidak identik dengan pemenuhan seluruh keinginan.
Seorang anak memerlukan kehangatan sekaligus batas. Tanpa batas yang konsisten, ia tidak mendapat cukup kesempatan belajar menunda kepuasan, menerima frustrasi, memahami konsekuensi, dan membedakan kebutuhan dari keinginan.
Memanjakan seseorang dapat menjadi bentuk kompensasi keluarga terhadap rasa bersalah, karena anak dianggap pernah kehilangan ibu atau ayah, keluarga berusaha mengganti kehilangan tersebut dengan uang, hadiah, dan toleransi. Sayangnya, kompensasi material tidak selalu menyembuhkan luka kelekatan. Anak dapat tumbuh dengan kontradiksi batin, dimana ia merasa tidak cukup dicintai, tetapi merasa berhak dipenuhi.
Ketika permintaan ditolak, maka penolakan masa kini dapat mengaktifkan kembali luka penolakan masa lalu. Reaksi yang tampak berlebihan kemudian bukan hanya respons terhadap larangan saat itu, melainkan terhadap seluruh pengalaman merasa tidak dipilih yang tersimpan dalam dirinya. Karena itu, perilaku meminta uang lima sampai enam kali sehari dan menghabiskan Rp50 juta dalam dua minggu harus dipahami secara multidimensional.
Perilaku tersebut dapat merefleksikan pola belajar akibat batas keluarga yang lemah, usaha memperoleh kendali, pencarian sensasi, kebutuhan mengisi kekosongan, penggunaan zat atau aktivitas tertentu yang disembunyikan, maupun peningkatan impulsivitas dalam episode mood. Perilaku ini tidak boleh langsung diberi label manipulatif, namun merupakan sinyal adanya masalah dalam regulasi emosi, pengendalian impuls, pola relasi keluarga, atau kemungkinan gangguan mental yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Marah kepada orang lain vs marah kepada diri sendiri
Secara psikodinamika, BW tampaknya membawa konflik antara kebutuhan untuk dicintai dan kemarahan terhadap figur yang dianggap meninggalkan, mengontrol, atau mengecewakannya. Ia mengatakan kemarahannya lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri, tetapi dalam situasi tertentu kemarahan tersebut diproyeksikan atau dialihkan kepada ibunya. Ketika ibunya memintanya minum obat, permintaan tersebut mungkin tidak hanya terdengar sebagai nasihat kesehatan. Dalam dunia internal BW, hal itu dapat dialami sebagai kontrol, pemaksaan, kritik, atau bukti bahwa dirinya dianggap bermasalah.
Konsep splitting menjelaskan kecenderungan melihat figur keluarga secara bergantian sebagai sangat baik atau sangat buruk. Nenek yang selalu memenuhi keinginan dapat diidealkan sebagai pihak yang menerima dirinya, sedangkan ibu yang menetapkan batas dapat ditempatkan sebagai pihak yang menolak. Pemutaran cerita mungkin menjadi mekanisme untuk mempertahankan relasi dengan figur yang dianggap aman, menghindari rasa bersalah, atau memperoleh kembali kendali. Mekanisme ini tidak membenarkan perilakunya, tetapi membantu memahami mengapa konfrontasi moral semata sering gagal.
Pengalaman melihat ayah yang telah meninggal juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Dalam konteks duka dan budaya, pengalaman merasakan kehadiran orang yang telah meninggal tidak selalu merupakan kondisi psikosis. Di berbagai masyarakat, termasuk komunitas Bali, mimpi, penampakan, atau pengalaman spiritual dapat diterima sebagai bagian dari relasi dengan leluhur.
Baca juga:
Suryani Institute dan FK Unud Edukasi Kesehatan Mental Mahasiswa UIN Walisongo Lewat Meditasi
Penilaian klinis harus mempertimbangkan apakah pengalaman tersebut sesuai keyakinan budaya, hanya muncul saat berduka, dapat dikritisi, dan tidak mengganggu fungsi. Namun, ketika sosok terlihat berulang dalam keadaan sadar, mengajak berbicara, menimbulkan tangisan berkepanjangan, dan muncul bersama keyakinan tidak lazim lainnya, pemeriksaan terhadap gejala psikotik, gangguan mood, disosiasi, trauma, gangguan tidur, serta kondisi medis menjadi penting.
Hubungan dosis–respons antara adversitas masa kanak-kanak dan risiko psikosis pada masa dewasa menunjukkan bahwa paparan adversitas masa kanak-kanak meningkatkan risiko psikosis secara bermakna. Hubungan ini bersifat probabilistik, bukan deterministik, dimana trauma meningkatkan kerentanan, tetapi tidak otomatis menyebabkan psikosis.
Secara psikososial, BW berada dalam sistem keluarga dengan pembagian peran yang tidak jelas. Nenek menjadi pengasuh utama sekaligus sumber uang, sedangkan ibu tampaknya baru memperoleh otoritas ketika meminta kepatuhan terhadap pengobatan. Ketidaksepakatan antarfigur pengasuh menciptakan triangulasi, dimana BW dapat mencari perlindungan kepada nenek ketika berkonflik dengan ibu, sementara ibu merasa kewenangannya dilemahkan. Dalam sistem seperti ini, perilaku bermasalah seseorang tanpa sengaja dapat dipertahankan oleh pola respons keluarga.
Keluarga juga berhadapan dengan stigma terhadap kelahiran di luar pernikahan dan gangguan jiwa. Dalam masyarakat komunal, identitas individu sering berkaitan erat dengan kehormatan keluarga. Rahasia, rasa malu, dan ketakutan terhadap penilaian sosial dapat membuat pengalaman BW tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Yang tidak dapat dibicarakan sering kali muncul dalam bentuk gejala, konflik, kekerasan, atau perilaku mencari perhatian.
Dugaan pelecehan oleh perawat harus ditanggapi serius dan tidak boleh langsung dianggap sebagai bagian dari waham. Pengalaman tersebut perlu dieksplorasi secara aman, netral, dan trauma-informed. Apabila benar terjadi, pelecehan dapat memperburuk ketidakpercayaan terhadap tenaga kesehatan dan ketidakpatuhan obat. Apabila narasinya dipengaruhi distorsi persepsi, penderitaan yang menyertainya tetap nyata dan perlu divalidasi tanpa otomatis membenarkan atau menolak isi pernyataannya.
Pacar dan rencana kuliah merupakan faktor protektif, karena memberikan harapan, identitas baru, rasa diterima, dan orientasi masa depan. Namun, hubungan yang baru berjalan satu bulan tidak boleh menjadi satu-satunya penyangga emosi. Ketergantungan berlebihan pada pasangan dapat mengulangi pola kelekatan lama, dimana merasa utuh ketika diterima dan runtuh ketika terjadi jarak atau konflik.
Secara neurobiologis, pengalaman adversitas dini dapat memengaruhi sistem stres, perkembangan korteks prefrontal, amigdala, hipokampus, jaringan salience, serta hubungan antarsirkuit yang berperan dalam regulasi emosi dan penilaian ancaman. Adanya maltreatment masa kanak-kanak berhubungan dengan perubahan struktur, fungsi, dan konektivitas otak, terutama pada periode perkembangan sensitif seperti masa kanak-kanak dan remaja.
Paparan stres berkepanjangan dapat membuat sistem alarm biologis menjadi terlalu peka. Akibatnya, teguran biasa dapat ditangkap sebagai ancaman, frustrasi kecil terasa tidak tertahankan, dan respons agresif muncul sebelum korteks prefrontal berhasil melakukan inhibisi. Pada usia 19 tahun, sistem kontrol eksekutif juga masih berkembang, sehingga impulsivitas dapat lebih kuat ketika mengalami kurang tidur, konflik keluarga, penyakit fisik, trauma, atau gangguan mood.
Akan tetapi, penjelasan neurobiologis tidak boleh berubah menjadi determinisme. Otak bersifat plastis. Hubungan yang aman, psikoterapi, tidur teratur, aktivitas bermakna, pengobatan yang tepat, dan lingkungan yang dapat diprediksi akan membantu reorganisasi respons stres. Karena BW mengeluhkan sedasi berat, sakit kepala, dan berdebar, keluarga tidak boleh sekadar memaksanya minum obat yang sama. Efek samping harus dievaluasi dokter, termasuk jenis obat, dosis, waktu pemberian, pemeriksaan tekanan darah dan denyut jantung, elektrokardiografi bila diindikasikan, serta kemungkinan interaksi dengan obat TB. Penghentian mendadak juga tidak dianjurkan tanpa supervisi medis.
Memutus trauma antar generasi
Pemulihan dimulai ketika keluarga berhenti bertanya, “Siapa yang salah?” dan mulai bertanya, “Pola apa yang sedang berulang, dan apa yang dapat kita ubah bersama?” Trauma antargenerasi tidak hanya diwariskan melalui gen atau epigenetik, tetapi juga melalui keheningan, rasa malu, pola pengasuhan, kekerasan, ketidakmampuan meminta maaf, dan cara keluarga mengelola emosi.
Transmisi trauma dapat berlangsung melalui berbagai jalur psikologis, fisiologis, relasional, dan sosial. Intervensi pengasuhan berbasis trauma yang responsif terhadap budaya berpotensi meningkatkan kesejahteraan pengasuh, menciptakan pengasuhan yang aman, dan mengurangi kelanjutan trauma kepada generasi berikutnya.
Keluarga perlu menyampaikan pesan baru kepada BW, bahwa “Kelahiranmu mungkin terjadi dalam situasi yang sulit, tetapi keberadaanmu bukan kesalahan.” Pesan itu harus diwujudkan melalui perilaku, bukan hanya kata-kata. Ibu dapat mengakui keterpisahan masa lalu tanpa defensif. Nenek dapat mempertahankan kasih sayang sambil menghentikan pemberian uang tanpa batas. Anggota keluarga harus memiliki aturan yang sama mengenai uang, pengobatan, perilaku agresif, dan tanggung jawab rumah tangga.
Batas yang sehat bukan penolakan. Menolak permintaan uang bukan berarti menolak BW sebagai manusia. Sebaliknya, memberikan uang terus-menerus dapat memperpanjang ketergantungan dan perilaku berisiko. Pengelolaan keuangan sementara perlu dilakukan secara transparan, dimana akses uang dibatasi, kebutuhan dasar tetap dipenuhi, transaksi dipantau, dan tujuan penggunaan uang ditanyakan tanpa penghinaan. Perlu pula diselidiki secara klinis apakah uang digunakan untuk perjudian, zat, belanja daring, pemberian kepada orang lain, atau perilaku impulsif lain.
Kekerasan kepada ibu tidak boleh dinormalisasi atas nama trauma. Keluarga memerlukan rencana keselamatan, dimana perlu mengenali tanda eskalasi, menjaga jarak ketika BW mulai tidak terkendali, mengamankan benda berbahaya, tidak berdebat saat agitasi memuncak, dan mencari bantuan darurat apabila muncul ancaman, kekerasan, perilaku sangat tidak terorganisasi, tidak tidur berhari-hari, penolakan makan-minum, atau adanya halusinasi perintah untuk menyakiti diri maupun orang lain.
Selain itu BW perlu diberi kesempatan membangun identitas di luar label anak bermasalah. Pendidikan, aktivitas sosial, rehabilitasi psikososial, pekerjaan bertahap, relasi sebaya, serta peran yang bermakna dapat menjadi bagian terapi. Perspektif psikiatri komunitas mengingatkan bahwa kesehatan jiwa tidak hanya dihasilkan oleh obat dan rumah sakit, tetapi juga oleh keluarga yang aman, masyarakat yang tidak menstigma, layanan kesehatan yang menghormati martabat, dan budaya yang digunakan sebagai sumber makna. BW bukan sekadar produk dari masa lalunya.
Ia adalah seorang pemuda yang sedang berjuang memahami siapa dirinya di antara luka penolakan, kasih sayang yang berlebihan, kehilangan, kemarahan, penyakit, dan harapan baru. Tugas keluarga dan tenaga kesehatan bukan memilih antara menyalahkan atau memanjakan, melainkan menghadirkan kasih sayang yang berani menetapkan batas, mendengarkan tanpa menghakimi, dan merawat tanpa mengambil alih seluruh tanggung jawab hidupnya.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah kehidupan tanpa luka. Kebahagiaan adalah kemampuan menghadapi luka tanpa terus melukai diri sendiri maupun orang lain. BW perlu belajar mengubah kemarahan menjadi pemahaman, impuls menjadi pertimbangan, dan pengalaman ditolak menjadi keberanian untuk menerima dirinya. Keluarga perlu mengubah rasa bersalah menjadi tanggung jawab, pemanjaan menjadi pendampingan, dan konflik menjadi komunikasi yang lebih sehat.
Dengan demikian, jalan hidup bahagia bagi BW dan keluarganya bukanlah melupakan masa lalu, melainkan berdamai dengannya. Bukan pula mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi menyadari apa yang dapat diperbaiki bersama. Ketika setiap anggota keluarga berani melihat luka, mengakui kesalahan, meminta pertolongan, dan membangun pola relasi baru, maka kegelapan tidak lagi menjadi akhir perjalanan. Ia dapat menjadi titik awal untuk menemukan jalan yang lebih terang, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermakna. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3858 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1929 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1688 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1517 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1508 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun