Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 21 Mei 2026
Memahami Ekspresi Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Terluka
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan berusia 36 tahun, JA, datang dengan keluhan utama gangguan lambung yang sudah ia rasakan selama tiga bulan terakhir. Ia sering mengalami sendawa terus-menerus, rasa mual, panas di dada, hingga sensasi sesak napas dan tangan terasa dingin.
Kondisi ini membuatnya sangat tidak nyaman dan emosional. Ia bahkan menangis hampir setiap hari karena keluhannya sering kambuh. Seiring waktu, muncul kecemasan berlebih dimana ia mulai takut mengalami stroke atau serangan jantung, apalagi setelah mendengar beberapa teman sebayanya meninggal.
Di sisi lain, ia juga sedang menghadapi hubungan yang ia rasakan tidak sehat dengan pacarnya, seorang warga negara asing. Hubungan tersebut diwarnai konflik dan verbal abuse, yang membuatnya bingung dan lelah secara emosional. Saat terjadi masalah dengan pasangannya, ia sering mengalami sulit tidur, sakit kepala, hingga migrain. Sekitar satu bulan lalu, ia bahkan mengalami vertigo disertai serangan panik dengan rasa takut mati yang sangat kuat.
Kondisi ini membuatnya merasa kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Ia mengaku pikirannya menjadi kacau, kehilangan motivasi untuk merawat diri, merasa sedih berkepanjangan, dan tubuhnya terasa lemas. Ia sempat mencoba mengonsumsi alkohol untuk mengatasi perasaannya, namun kini sudah berhenti dan beralih ke penggunaan vape.
Riwayat hidupnya menunjukkan pengalaman masa kecil yang tidak mudah. Ia dibesarkan oleh ayah yang keras dan temperamental, dengan pengalaman kekerasan fisik dan hukuman yang meninggalkan trauma, termasuk fobia terhadap kecoak karena dikurung dalam kamar mandi yang berisi kecoak. Hubungan dengan orang tuanya juga penuh konflik, terutama setelah ayahnya berselingkuh dan ia justru merasa disalahkan. Ibunya cenderung bersikap pasif-agresif.
Saat remaja, ia pernah mengalami anoreksia akibat perundungan dan sempat gagal lulus SMP, yang membuat kondisi mentalnya sangat terpuruk. Namun, ia berhasil bangkit, menyelesaikan pendidikan melalui jalur alternatif, dan kini menjalankan bisnis keluarga.
Latar belakang munculnya keluhan fisik
Kasus JA mencerminkan suatu kondisi yang kompleks dan multidimensional, berada pada persimpangan antara gangguan medis, psikologis, dan sosial. Sepintas terlihat bahwa keluhan yang ia alami tampak sebagai gangguan lambung kronis yang mengarah pada diagnosis GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Namun, apabila ditelaah lebih dalam, spektrum gejala yang muncul seperti sesak napas, tangan terasa dingin, rasa takut mati, hingga serangan panik menunjukkan adanya komponen gangguan kecemasan yang signifikan, khususnya panic disorder yang disertai kecemasan berlebihan terhadap kemungkinan menderita penyakit serius. Dalam kerangka model stres–diatesis (biopsikososial), kondisi JA tidak dapat dipahami secara sederhana.
Ia memiliki kerentanan biologis, seperti kemungkinan hiperreaktivitas sistem saraf otonom, kerentanan psikologis, berupa riwayat trauma masa kecil dan pola regulasi emosi yang kurang adaptif serta faktor sosial yang kuat, terutama keterlibatan dalam hubungan interpersonal yang tidak sehat dan penuh tekanan emosional.
Gejala GERD yang dialami kemungkinan tidak semata-mata merupakan gangguan gastrointestinal primer, melainkan juga merupakan manifestasi dari disfungsi gut-brain axis. Terdapat adanya hubungan yang erat antara stres kronis, kecemasan, dan gangguan fungsi saluran cerna melalui mekanisme neuroendokrin, inflamasi, dan mikrobiota usus.
Dengan demikian, keluhan fisik yang dialaminya dapat dipahami sebagai ekspresi somatik dari distress psikologis yang mendalam yaitu sebuah cara tubuh berbicara ketika pikiran tidak mampu lagi menampung beban emosional. Kecemasan berlebih yang muncul, terutama ketakutan akan stroke atau serangan jantung, mencerminkan fenomena catastrophic misinterpretation of bodily sensations, yaitu kecenderungan menafsirkan sensasi tubuh yang sebenarnya tidak berbahaya sebagai ancaman serius. Proses ini menciptakan lingkaran setan antara kecemasan dan gejala fisik, di mana semakin cemas individu, semakin intens pula sensasi tubuh yang dirasakan, dan sebaliknya.
Di samping itu, terdapat indikasi kuat adanya komponen depresi, yang ditandai dengan kehilangan motivasi, kelelahan yang menetap, perasaan sedih berkepanjangan, serta penurunan dalam perawatan diri. Kombinasi antara kecemasan dan depresi ini sering kali muncul secara bersamaan dalam bentuk gangguan campuran cemas dan depresi, yang secara klinis memperburuk kualitas hidup individu.
Konteks relasional JA juga memegang peranan penting dalam memperberat kondisi ini. Hubungan dengan pasangan yang diwarnai konflik dan verbal abuse menjadi sumber stres kronis yang terus-menerus mengaktivasi respons stres psikologis dan fisiologis. Paparan kekerasan verbal dalam hubungan yang dekat berkaitan erat dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan, depresi, serta gejala somatik.
Dengan demikian, kondisi JA dapat diformulasikan secara klinis sebagai gangguan kecemasan dengan serangan panik, disertai gejala depresi moderat dan somatisasi melalui gangguan gastrointestinal, dengan faktor stresor utama berupa hubungan interpersonal yang tidak sehat, serta faktor predisposisi berupa trauma masa kecil. Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa kondisi yang dialami JA bukan sekadar sakit lambung, melainkan merupakan manifestasi dari penderitaan psikologis yang terinternalisasi.
Trauma masa kecil dan internal working model
JA dibesarkan dalam lingkungan yang sarat dengan kekerasan dan ketidakamanan, sebuah konteks perkembangan yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan struktur kepribadian dan cara ia memaknai dunia. Sosok ayah yang temperamental, ditambah pengalaman traumatis seperti dikurung di kamar mandi dengan kecoak, merupakan bentuk pengalaman aversif yang kuat dan meninggalkan jejak psikologis mendalam.
Dalam kerangka teori attachment, pengalaman-pengalaman ini sangat mungkin membentuk pola insecure attachment, khususnya tipe fearful-avoidant. Individu dengan pola ini cenderung memiliki ambivalensi terhadap kedekatan dimana di satu sisi mendambakan hubungan, namun di sisi lain takut disakiti. Dari pengalaman awal tersebut, ia kemungkinan mengembangkan internal working model yang berisi keyakinan bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman, orang lain berpotensi menyakiti, dan dirinya sendiri tidak cukup berharga untuk dicintai secara sehat.
Pola keyakinan ini kemudian terbawa hingga dewasa dan termanifestasi dalam pilihan relasionalnya. Keterlibatannya dalam hubungan yang tidak sehat dapat dipahami bukan sebagai kelemahan semata, melainkan sebagai bentuk pengulangan pola relasional masa kecil yang tidak tersadari, suatu mekanisme yang dalam psikoanalisis dikenal sebagai repetition compulsion, di mana individu cenderung mengulang pengalaman emosional lama dalam upaya untuk memperbaiki atau menguasai trauma yang belum terselesaikan.
Di sisi lain, dinamika intrapsikis JA juga menunjukkan adanya konflik yang tidak terselesaikan yang dimediasi melalui berbagai mekanisme pertahanan psikologis. Ia tampak menggunakan somatisasi sebagai cara mengekspresikan distress emosionalnya, di mana konflik batin yang sulit diartikulasikan secara verbal justru muncul dalam bentuk gejala fisik seperti gangguan lambung, sesak napas, dan sensasi tidak nyaman lainnya.
Selain itu, terdapat indikasi anxiety displacement, yaitu kecemasan yang sebenarnya berakar dari relasi interpersonal terutama hubungan dengan pasangan yang dialihkan menjadi kecemasan terhadap kondisi kesehatan, seperti ketakutan akan stroke atau serangan jantung. Mekanisme lain yang juga terlihat adalah suppression atau avoidance, yang sebelumnya termanifestasi melalui penggunaan alkohol dan kini bergeser menjadi penggunaan vape sebagai bentuk coping yang bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah.
Dalam perspektif psikoanalitik, seluruh gejala fisik yang dialami JA dapat dipahami sebagai bahasa tubuh, suatu simbolisasi dari konflik psikologis yang tidak menemukan ruang ekspresi yang aman dalam kesadaran. Lebih jauh, ia menunjukkan kesulitan yang signifikan dalam regulasi emosi.
Ia mengalami intensitas emosi yang tinggi, kesulitan untuk menenangkan diri, serta respons yang cenderung berlebihan terhadap stresor, terutama dalam konteks konflik interpersonal. Kondisi ini menunjukkan bahwa individu dengan riwayat trauma masa kecil sering mengalami gangguan pada sistem regulasi emosi, termasuk hiperaktivitas amigdala dan disregulasi sistem stres seperti kortisol. Akibatnya, stimulus emosional yang bagi orang lain mungkin relatif ringan dapat dirasakan sebagai ancaman besar oleh JA, sehingga memicu respons fisiologis yang kuat seperti migrain, insomnia, bahkan serangan panik. Tubuh dan emosinya menjadi sangat reaktif, seolah selalu berada dalam mode siaga.
Selain itu, pengalaman hidupnya termasuk perundungan, anoreksia di masa remaja, serta kegagalan akademik awal, kemungkinan besar berkontribusi pada terbentuknya rasa shame yang mendalam. Berbeda dengan rasa bersalah yang berfokus pada perilaku, shame menyerang inti identitas diri, menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya secara fundamental tidak berharga atau tidak layak dicintai. Rasa shame ini sering menjadi inti dari kondisi depresi dan berperan dalam mempertahankan individu dalam relasi yang merugikan, karena ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Dalam konteks JA, shame menjadi lensa yang mewarnai cara ia memandang dirinya dan dunia, memperkuat siklus penderitaan yang dialaminya, dan menjadi tantangan utama dalam proses pemulihan psikologisnya.
Trauma seperti yang dialami JA tidak hilang begitu saja karena ia tidak hanya tersimpan sebagai kenangan biasa, tetapi terukir dalam sistem biologis, psikologis, dan relasional seseorang. Ketika seseorang mengalami kejadian yang sangat menakutkan atau menyakitkan terutama di masa kecil saat otak masih berkembang maka pengalaman tersebut diproses oleh otak sebagai ancaman terhadap keselamatan. Bagian otak seperti amigdala menjadi sangat aktif, sementara sistem regulasi seperti korteks prefrontal belum cukup matang untuk menenangkan respons tersebut. Akibatnya, memori trauma tersimpan bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai sensasi tubuh, emosi intens, dan pola reaksi otomatis.
Trauma menjadi tetap ada karena memori tersebut sering tersimpan dalam bentuk implisit, bukan eksplisit. Artinya, seseorang mungkin tidak selalu mengingat detail kejadiannya, tetapi tubuhnya ingat. Ini menjelaskan mengapa JA bisa merasakan sesak napas, jantung berdebar, atau panik tanpa pemicu yang jelas. Saat itu sebenarnya tubuhnya sedang merespons sesuatu yang terasa mirip dengan ancaman di masa lalu. Hal ini sering disebut sebagai body keeps the score, bahwa tubuh menyimpan jejak trauma.
Selain itu, trauma bertahan karena tidak pernah benar-benar diproses secara aman. Pada saat kejadian, individu biasanya tidak memiliki dukungan emosional yang cukup untuk memahami dan mengintegrasikan pengalaman tersebut. Dalam kasus JA, tidak ada figur yang menenangkan atau memvalidasi perasaannya. Akibatnya, pengalaman itu terkunci dalam sistem sarafnya. Ketika ada situasi yang menyerupai misalnya konflik dengan pasangan maka sistem tersebut aktif kembali, seolah-olah kejadian lama sedang terulang.
Trauma juga bertahan karena ia membentuk cara seseorang melihat dunia, atau yang disebut internal working model. Jika sejak kecil seseorang belajar bahwa dunia tidak aman dan orang lain menyakiti, maka otaknya akan terus mencari bukti untuk mengonfirmasi keyakinan tersebut. Ini bukan karena ia ingin menderita, tetapi karena otak berusaha melindungi dengan cara yang ia kenal. Ironisnya, pola ini justru membuat seseorang masuk ke situasi yang mirip dengan luka lamanya, seperti hubungan yang toksik.
Yang tidak kalah penting, trauma sering diperkuat oleh pola penghindaran. Ketika seseorang menghindari perasaan, kenangan, atau situasi yang memicu trauma misalnya dengan alkohol, distraksi, atau bahkan menghindari konflik maka otak tidak pernah belajar bahwa ia sebenarnya sudah aman. Akibatnya, respons takut tetap dipertahankan. Ini seperti alarm kebakaran yang terus berbunyi meskipun tidak ada api, karena sistemnya tidak pernah di-reset.
Namun, penting untuk dipahami bahwa meskipun trauma bisa bertahan lama, ia bukan sesuatu yang permanen atau tidak bisa diubah. Otak manusia memiliki kemampuan neuroplasticity, artinya ia bisa belajar ulang. Dengan pengalaman relasi yang aman, terapi yang tepat, dan proses memahami diri, memori trauma dapat diproses ulang sehingga tidak lagi terasa mengancam. Trauma mungkin tetap menjadi bagian dari cerita hidup, tetapi tidak harus terus mengendalikan kehidupan seseorang.
Refleksi untuk keluarga dan jalan menuju pemulihan
Kasus JA tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan individu, melainkan sebagai hasil interaksi kompleks antara individu, keluarga, relasi, dan konteks budaya tempat ia tumbuh dan hidup. Dalam perspektif psikiatri komunitas dan budaya, penderitaan psikologis bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, tetapi terjalin dalam jaringan relasi dan pengalaman sosial yang membentuk makna hidup seseorang. Oleh karena itu, proses pemulihan JA juga perlu dilihat sebagai upaya kolektif yang melibatkan lingkungan sekitarnya, khususnya keluarga sebagai sistem terdekat.
Keluarga memiliki peran yang sangat signifikan, baik dalam pembentukan luka psikologis maupun dalam proses penyembuhannya. Dalam konteks JA, pola asuh yang keras, penuh tekanan, dan minim responsivitas emosional telah berkontribusi pada terbentuknya trauma serta gangguan dalam regulasi emosi. Kurangnya validasi terhadap pengalaman emosionalnya membuat JA tumbuh tanpa kemampuan yang cukup untuk mengenali, memahami, dan menenangkan perasaannya sendiri. Keluarga perlu diberdayakan kembali sebagai sistem dukungan yang aman.
Edukasi tentang kesehatan mental menjadi krusial agar keluarga mampu memahami bahwa gejala yang dialami JA bukanlah bentuk kelemahan atau kurang kuat, melainkan respons adaptif terhadap pengalaman hidup yang berat dan berulang. Selain itu, upaya untuk mengurangi stigma terhadap gangguan psikologis perlu terus dilakukan, karena stigma sering kali menjadi penghalang utama dalam proses mencari bantuan dan pemulihan.
Penanganan JA juga memerlukan pendekatan terapi yang integratif dan berbasis bukti. Secara psikoterapeutik, pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dapat membantu mengidentifikasi dan mengoreksi distorsi kognitif, khususnya kecenderungan untuk menafsirkan sensasi tubuh secara katastrofik. Terapi yang berfokus pada trauma menjadi penting untuk memproses pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan, sementara intervensi berbasis regulasi emosi dapat membantu JA mengembangkan kemampuan untuk mengelola respons emosionalnya secara lebih adaptif.
Di sisi lain, perlu ruang yang empatik dan non-konfrontatif bagi JA untuk mengeksplorasi ambivalensinya, terutama terkait keputusan untuk tetap atau keluar dari hubungan yang toksik serta perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Pendekatan ini menempatkan JA sebagai subjek yang memiliki kapasitas untuk berubah, bukan objek yang harus diperbaiki, sehingga menumbuhkan rasa otonomi dan pemberdayaan.
Selain intervensi psikologis, pendekatan mind-body juga menjadi relevan, mengingat eratnya hubungan antara kondisi psikologis dan gejala somatik yang dialami JA. Teknik pernapasan, latihan mindfulness, serta intervensi yang menargetkan gut-brain axis dapat membantu menurunkan aktivasi sistem saraf otonom dan meningkatkan kesadaran tubuh secara lebih adaptif. Dengan demikian, tubuh tidak lagi dipersepsikan sebagai sumber ancaman, melainkan sebagai bagian dari sistem diri yang dapat diajak bekerja sama dalam proses penyembuhan.
Di balik seluruh pengalaman sulit yang dialami, terdapat potensi pertumbuhan yang tidak dapat diabaikan. JA adalah individu yang menunjukkan resiliensi yang signifikan dimana ia pernah menghadapi anoreksia, mengalami kegagalan akademik, namun mampu bangkit, melanjutkan pendidikan, dan menjalankan bisnis keluarga.
Dalam perspektif eksistensial dan budaya, penderitaan tidak selalu bermakna destruktif. Penderitaan juga dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam. Proses meaning-making memungkinkan individu untuk merekonstruksi pengalaman traumatis menjadi narasi yang lebih bermakna, sehingga tidak lagi semata-mata dilihat sebagai luka, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan menuju pemahaman diri yang lebih utuh.
Pada akhirnya, perjalanan pemulihan JA adalah perjalanan untuk merebut kembali dirinya sendiri. Ini mencakup proses mengenali kembali nilai diri, membangun batasan yang sehat dalam relasi, serta mengembangkan self-compassion sebagai pondasi baru dalam berinteraksi dengan diri sendiri. Ia perlu menyadari bahwa ia tidak harus terus mengulang pola luka lama, bahwa ia berhak atas hubungan yang aman dan penuh penghargaan, serta bahwa tubuhnya bukanlah musuh, melainkan sahabat yang selama ini berusaha memberi sinyal atas apa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Apa yang tampak sebagai gangguan lambung sesungguhnya adalah ekspresi dari luka emosional yang belum terselesaikan. JA bukan sekadar seorang pasien, melainkan seorang manusia yang sedang berjuang menemukan kembali dirinya. Dan di dalam setiap perjuangan seperti itu, selalu tersimpan kemungkinan untuk pulih dan harapan untuk hidup yang lebih bermakna. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 1890 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1716 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1278 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1147 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah