Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Dua Terdakwa Ekstasi di Bali Mengaku Mualaf Saat Ditahan di Rutan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sidang kasus dugaan kepemilikan narkotika jenis ekstasi di Pengadilan Negeri Denpasar menghadirkan fakta menarik. Dua terdakwa, Tresilya Piga (30) dan Ni Ketut Ari Krismayanti (27), mengaku telah menjadi mualaf setelah menjalani masa penahanan di Rutan Kerobokan.
Hal tersebut terungkap saat sidang pembacaan dakwaan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Wayan Sunarta, Rabu (03/06/2026) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Ketika majelis hakim memeriksa identitas para terdakwa sesuai berkas perkara dan menanyakan agama yang dianut, salah satu terdakwa langsung memberikan penjelasan.
"Ini di berkas agamanya,..." tanya hakim. "Saya Muslim yang mulia, mualaf setelah pindah di Rutan," aku terdakwa.
Kedua terdakwa saat ini menjalani proses hukum dalam berkas perkara terpisah terkait dugaan kepemilikan narkotika jenis ekstasi. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Made Dipa Umbara dalam surat dakwaannya menyebut keduanya diduga terlibat dalam kepemilikan 10 butir ekstasi beserta serbuk ekstasi dengan berat 3 gram bruto atau 2,4 gram netto.
Kasus ini bermula ketika petugas Direktorat Reserse Narkoba Bareskrim Polri melakukan penangkapan terhadap terdakwa Tresilya Piga pada Jumat, 12 Desember 2025 sekitar pukul 16.00 Wita di kawasan Jalan Canggu Permai Gang Jalak 16B, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung.
Dari hasil penangkapan tersebut, petugas menemukan sebuah botol plastik kecil yang berisi 10 kapsul berwarna oranye.
"Dan, yang di dalamnya juga berisikan serbuk ekstasi dengan berat 3 gram bruto atau 2,4 gram netto. Serta sebuah alat hisap shabu," tertuang didakwaan.
Dalam dakwaan disebutkan, pil ekstasi tersebut diperoleh Tresilya dari terdakwa Ni Ketut Ari Krismayanti. Transaksi diduga dilakukan melalui perantara seseorang bernama Muh Rajesh yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
Rencana pembelian ekstasi tersebut disebut akan digunakan untuk merayakan malam pergantian tahun. Dugaan transaksi terungkap dari percakapan melalui aplikasi WhatsApp yang turut dimuat dalam surat dakwaan. "Jo gw ada di Bali. Amanlah ya," tulis terdakwa dalam percakapan tersebut.
Dalam komunikasi itu juga digunakan istilah "ikan" yang diduga menjadi kode untuk narkotika jenis ekstasi. "yaudah “ikan” (inex) aja jo, dan sekalian minta di booking-in bang”.
Percakapan berlanjut dengan pembahasan jumlah barang dan harga yang disepakati. “iya oke, emang mau pesan berapa”, lalu dijawab kembali terdakwa, menjawab “10”, dibalas “total semuanya, saya kasih harga Rp. 5.750.000,-” lalu Terdakwa menjawab “iya”.
Atas perbuatannya, kedua terdakwa didakwa melanggar Pasal 114 Ayat (1) juncto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Persidangan kasus tersebut masih berlanjut di Pengadilan Negeri Denpasar untuk mengagendakan pemeriksaan lebih lanjut terhadap para terdakwa dan alat bukti yang diajukan jaksa penuntut umum.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/maw
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan