Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Denpasar Fashion Street 2026 Bertabur Karya Desainer Lokal dan Usung Misi Lingkungan
bbn/dok Humas Pemkot Denpasar/Denpasar Fashion Street 2026 Bertabur Karya Desainer Lokal dan Usung Misi Lingkungan.
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Denpasar Fashion Street (DFS) ke-3 Tahun 2026 kembali digelar meriah di kawasan Pedestrian Patung Melanting, Pasar Badung, Sabtu (6/6) malam. Tidak hanya menampilkan puluhan karya desainer lokal, ajang fesyen tahunan ini juga membawa pesan kuat tentang kepedulian lingkungan melalui kampanye sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan.
Salah satu daya tarik utama dalam DFS 2026 adalah kehadiran stan Recycle Use yang secara khusus didedikasikan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah tekstil. Stan tersebut menampilkan berbagai produk upcycling berbahan limbah kain sekaligus menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin mendonasikan maupun menukarkan pakaian layak pakai.
Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, didampingi Wakil Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, serta Wakil Ketua Harian Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Swandewi Eddy Mulya.
Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, mengatakan kehadiran stan Recycle Use menjadi bukti komitmen Pemerintah Kota Denpasar dalam mendukung gerakan eco-fashion sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah tekstil.
"Melalui DFS 2026, Pemerintah Kota Denpasar ingin mewujudkan pergerakan fashion yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan ekonomi sirkular," kata Eddy Mulya.
Menurutnya, pemilihan lokasi DFS 2026 di kawasan Pedestrian Patung Melanting yang berada di area Pasar Badung juga memiliki makna khusus. Selain mendekatkan dunia fesyen kepada masyarakat, langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam melestarikan kawasan heritage Kota Denpasar sebagai pusat ekonomi kreatif dan kebudayaan.
"Pemkot Denpasar ingin menghadirkan DFS sebagai ajang fashion yang dekat dengan masyarakat, dan dapat secara langsung dinikmati oleh masyarakat," ujar Eddy Mulya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar, Ni Nyoman Sri Utari, menjelaskan bahwa DFS 2026 mengusung tema Senarai Renjana, yang bermakna rangkaian rasa yang dikenakan.
Sebanyak 12 desainer lokal binaan Dekranasda dan Disperindag Kota Denpasar turut menampilkan karya terbaiknya dalam ajang tersebut. Mereka adalah Rhea Cempaka, Dewi Anyar, Harmaita, Signature, Tenun Ikat Bali Nusa, Gita/Kwace Bali, Bali Puspa by Jro Puspa, Tresna/De’vastra, Jegeg Tribusana, Nethica Indonesia, Paras Bali, Lului, serta melibatkan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.
Sagung Antari menjelaskan, pelaksanaan DFS tahun ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno yang diperingati setiap Juni. Konsep yang diusung adalah Fashion on The Street, sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati pertunjukan fesyen secara terbuka di ruang publik.
"Pelaksanaan DFS tahun ini mengusung campaign fashion for all, bahwa siapapun bisa turut berpartisipasi, karena fashion semestinya bisa dinikmati siapa saja. DFS menghadirkan ruang kreatif yang menampilkan karya para desainer Kota Denpasar lebih dekat dengan masyarakat," kata Sagung Antari.
Selain para desainer, sejumlah komunitas kreatif dan lingkungan juga dilibatkan dalam kegiatan ini. Di antaranya Lorakaca yang menghadirkan kerajinan berbahan perca kain, Rekynd yang fokus pada manajemen sampah tekstil, serta Membumi yang menggelar workshop upcycle bagi pengunjung.
"Lewat DFS kami ingin menunjukkan bahwa fashion bukan hanya soal pakaian, tapi tentang rasa, identitas, dan tanggung jawab," ujar Sagung Antari.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Denpasar
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli