Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Dari Payas Ningrat hingga Pedawa, Buleleng Sukses Bercerita Lewat Busana Adat

Senin, 22 Juni 2026, 12:32 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Dari Payas Ningrat hingga Pedawa, Buleleng Sukses Bercerita Lewat Busana Adat.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Belasan peraga busana dari Kabupaten Buleleng berhasil memukau penonton saat tampil dalam Utsawa (Parade) Busana Adat Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (21/6/2026).

Penampilan kontingen Buleleng tidak hanya menonjolkan keindahan busana adat, tetapi juga menghadirkan narasi budaya yang menggambarkan kekayaan tradisi yang masih hidup dan lestari di desa-desa tua Bali Utara.

Pada tahun ini, Buleleng menampilkan Payas Ningrat Buleleng berdampingan dengan busana khas Desa Bali Mula Sidetapa, Busana Pecalang Buleleng, serta busana yang digunakan dalam tradisi Memukur dan Ngadegang Bubur Dewata.

Koordinator Parade Busana Adat Kabupaten Buleleng, Nyonya Karnadi Parwati Panji, mengatakan konsep penampilan tahun ini dirancang sebagai sebuah alur cerita yang menggambarkan rangkaian prosesi adat khas Buleleng.

Mengusung tema PKB 2026, Atma Kerti: Mahakarya Jagat Kerthi, setiap busana ditampilkan secara berurutan sehingga membentuk cerita budaya yang utuh dan sarat makna.

“Payas pengantin tetap kami tampilkan karena itu merupakan identitas daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Selain itu kami juga menampilkan busana desa Bali Mula yang masih lestari hingga saat ini,” ujarnya.

Parade diawali dengan penampilan Busana Pecalang Buleleng yang mengenakan kain panjang hitam melancingan, kampuh poleng hitam, baju hitam, destar dara kepek bertepi poleng, serta keris sebagai simbol penjaga adat.

Saput poleng yang dikenakan melambangkan tugas pecalang dalam menjaga harmoni dan keseimbangan antara dunia sekala dan niskala.

Selanjutnya, para pecalang menyambut prajuru Desa Bali Mula Sidetapa yang mengenakan busana khas desa tersebut. Kaum pria tampil dengan kain dan kampuh bebali tanpa baju serta destar batik, sedangkan perempuan mengenakan kain bebali, kebaya hujan gerimis warna benhur, selendang bebali, dan tengkuluk sederhana.

Busana tersebut mencerminkan kuatnya komitmen masyarakat Sidetapa dalam menjaga adat dan tradisi warisan leluhur.

Penampilan kemudian berlanjut dengan Busana Pengantin Ningrat Buleleng yang menjadi salah satu ikon budaya daerah. Sosok raja dan permaisuri diperagakan menggunakan busana kebesaran khas Buleleng yang kaya akan ornamen perada dan hiasan kepala tradisional.

Kehadiran Payas Ningrat menjadi pengingat bahwa setiap daerah di Bali memiliki kekhasan busana pengantin yang patut terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Alur cerita budaya kemudian memasuki prosesi Memukur. Pada bagian ini, kerabat puri mengenakan kain bebali motif dobol, songket Buleleng, kebaya putih, serta tata busana meleluwakan khas Buleleng yang ditandai dengan posisi tagelan di sisi kanan.

Busana tersebut memiliki filosofi sebagai simbol penyatuan pikiran dari dunia sekala menuju niskala dalam perjalanan spiritual upacara Memukur.

Puncak parade menggambarkan prosesi Ngadegang Bubur Dewata. Seorang cucu raja mengenakan busana serba putih sebagai lambang kesucian saat mengaduk Bubur Dewata hingga matang.

Selanjutnya, raja, permaisuri, dan cucu raja berjalan beriringan membawa sangku menuju tempat upacara sebagai simbol menstanakan kekuatan Dewata serta memohon tuntunan dan penyucian bagi roh leluhur.

Salah seorang peraga busana, Ketut Andika Pratama Dwi Payana, mengaku bangga dapat terlibat dalam parade budaya tersebut.

“Ini pertama kali saya ikut Utsawa Busana Adat Buleleng. Saya berharap masyarakat tidak hanya melihat keindahan busananya, tetapi juga mengetahui sejarah dan makna budaya yang ada di baliknya,” katanya.

Andika yang juga aktif dalam komunitas Semeton Jegeg Bagus (Sejebag) Buleleng mengatakan seluruh peraga telah menjalani persiapan selama sekitar satu hingga dua bulan sebelum tampil di panggung PKB.

Menurutnya, parade busana adat menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Buleleng kepada masyarakat luas, termasuk berbagai busana khas desa Bali Aga yang hingga kini masih belum banyak dikenal oleh publik.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Diskominfo Buleleng



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami