Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kehilangan Kendali atas Tubuh dan Rasa Takut yang Menghantui

Minggu, 5 Juli 2026, 21:13 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Kehilangan Kendali atas Tubuh dan Rasa Takut yang Menghantui.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Seorang laki-laki, berusia 24 tahun, berinsial IMR, datang berkonsultasi atas rujukan dari Poliklinik Saraf karena keluhan takut dan cemas sejak sekitar 3 bulan terakhir. 

Keluhan muncul setelah mengalami kejang pertama kali saat bermain futsal pada November 2025. Saat itu ia tidak sadar, mata mendelik ke atas, dan tubuh kaku seluruhnya. Setelah dibawa ke rumah sakit, kejang berhenti dan ia sempat kembali bekerja seperti biasa.

Beberapa waktu kemudian, kejang kembali terjadi di tempat kerja sebagai resepsionis hotel. Sebelum kejang, ia sempat melihat cahaya putih. Pemeriksaan CT scan dan MRI menunjukkan adanya sumbatan pembuluh darah otak yang diduga menjadi penyebab kejang. Ia kemudian menjalani embolisasi sebanyak dua kali. Hasil evaluasi menunjukkan sumbatan sudah tidak tampak, namun ia tetap harus kontrol dan minum obat.

Sejak mendapat penjelasan bahwa cahaya putih dapat menjadi tanda awal kejang, muncul ketakutan berlebihan, terutama saat melihat kilatan lampu kendaraan pada malam hari. Ia menjadi takut keluar rumah, berkendara, bertemu orang, bahkan menerima tamu di rumah. Saat cemas, muncul berdebar, keringat dingin, sesak napas, tangan gemetar, suara terbata-bata, sering berkedip, dan mengusap wajah. Ia merasa ingin segera pulang, masuk kamar, atau melarikan diri. Jika ditemani ibunya, rasa takut tetap ada, terutama bila ditinggal sendiri.

Keluhan ini membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Ia tidak lagi berolahraga, cuti dari pekerjaan, dan menghindari interaksi sosial. Padahal sebelumnya ia dikenal ramah, aktif, senang bergaul, dan sering membantu teman. Sejak kuliah dan bekerja, kecenderungan mudah cemas sebenarnya sudah ada, namun semakin berat setelah mengalami kejang.

Sebelum tindakan embolisasi, tidur dan nafsu makan sempat terganggu karena terus memikirkan kemungkinan kejang berulang. Setelah tindakan, pola tidur dan makan membaik, tetapi rasa takut masih menetap.  Ibunya merupakan sosok ibu yang keras, penuh dengan peraturan dan keteraturan, namun penyayang dan selalu ingin membantu anak-anaknya, sedangkan ayahnya merupakan sosok yang juga tegas dan cukup mengatur dan mendidik keluarganya. Ayahnya lebih teratur dan disiplin terkait anaknya dan selalu ingin anaknya bisa bersekolah lebih tinggi agar mendapatkan pekerjaan yang baik dan bisa membiayai dirinya sendiri. 

Ketika kejang memicu rasa takut

Rasa takut IMR bukan hanya rasa cemas berlebihan setelah sakit saraf, tetapi muncul setelah suatu peristiwa tubuh yang sangat dramatis, yaitu kehilangan kesadaran, tubuh kaku, mata mendelik, dan kemudian terbangun dalam situasi sudah ditolong orang lain. Kejang pertama, terutama bila terjadi di ruang publik seperti lapangan futsal, dapat merusak rasa dasar seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Tubuh yang sebelumnya dipakai untuk bekerja, berolahraga, bergaul, dan menunjukkan kompetensi, tiba-tiba terasa tidak sepenuhnya dapat dipercaya.

Gangguan kecemasan tidak selalu harus dibayangkan sebagai satu penyakit tersembunyi yang menyebabkan semua gejala. Gejala-gejala itu sendiri dapat saling mengaktifkan dan mempertahankan satu sama lain. Pada IMR, pengalaman kejang mengaktifkan takut, yang kemudian rasa takut membuatnya melakukan scan tanpa disadari terhadap tubuhnya, dan pemantauan tubuh membuat setiap sensasi menjadi bermakna bahaya. Sensasi bahaya ini membuatnya menghindar dan penghindaran membuat ia tidak mendapat pengalaman yang benar bahwa ia bisa aman di luar rumah. Lama-kelamaan, sistem ini berdiri sendiri, bahkan ketika sumbatan pembuluh darah sudah tidak tampak setelah embolisasi.

Cahaya putih yang muncul sebelum kejang menjadi stimulus yang melekat kuat dalam memori ancaman menjadi model pembelajaran klasik yang terekam dalam diri IMR. Setelah dokter menjelaskan bahwa cahaya putih dapat menjadi tanda awal kejang, otak IMR belajar menghubungkan cahaya dengan kejang melalui shortcut tanpa memahami proses yang mendasari. 

Akibatnya, kilatan lampu kendaraan pada malam hari tidak lagi dianggap sebagai cahaya biasa, tetapi sebagai sinyal bahaya. Inilah yang dalam teori perilaku disebut conditioned fear, rasa takut yang terkondisikan. Kemudian muncul operant conditioning,  ketika IMR menghindari keluar rumah, menghindari berkendara, atau masuk kamar, kecemasannya memang turun sesaat. Tetapi kelegaan sesaat itu justru memperkuat perilaku menghindar dalam dirinya.

Avoidance sebagai proses menghindar adalah salah satu faktor utama yang mempertahankan kecemasan. Hal ini sangat tampak pada IMR. Ia menghindari lampu kendaraan, jalan malam, pekerjaan, futsal, tamu, bahkan interaksi sosial. Ia juga menggunakan safety behavior, misalnya ingin segera pulang, masuk kamar, ditemani ibu, sering berkedip, atau mengusap wajah. Perilaku ini manusiawi, tetapi bila menjadi satu-satunya cara merasa aman, otak tidak pernah belajar bahwa ia dapat bertahan dengan cara yang berbeda.

Kondisi IMR juga sesuai dengan konsep anticipatory anxiety of seizures, yaitu kecemasan menunggu kemungkinan kejang berikutnya. Fenomena ini sering terjadi, bersifat  kompleks, namun banyak dokter kurang menjelaskannya pada pasien epilepsi. Orang dengan epilepsi memiliki risiko gangguan kecemasan lebih tinggi dibanding populasi tanpa epilepsi. Jadi rasa takut IMR bukan kelemahan karakter, melainkan hasil pertemuan antara pengalaman neurologis, pembelajaran rasa takut, kerentanan temperamen, dan makna sosial dari kehilangan kendali di depan orang lain.

Interaksi antara saraf dan jiwa

Secara psikodinamika, kejang dapat menjadi pengalaman yang melukai ego. Ego adalah bagian diri yang merasa mampu mengatur realitas, menjaga martabat, dan mempertahankan kendali. Pada IMR, kejang bukan hanya gejala neurologis, tetapi ia menjadi pengalaman hilangnya kendali diri. 

Dalam usia 24 tahun, seseorang sedang membangun identitas dewasa muda, dimana konsep dirinya terfokus untuk bekerja, mandiri, bergaul, membentuk arah hidup, dan mulai lepas secara sehat dari keluarga. Kejang dan kecemasan membuat proses ini mundur. Ia yang sebelumnya aktif dan sosial menjadi menarik diri, cuti kerja, berhenti berolahraga, dan kembali membutuhkan kehadiran seorang ibu.

Banyak kecemasan berkaitan dengan konflik antara kebutuhan otonomi dan takut berpisah dari figur aman. Ini relevan dengan IMR. Di satu sisi ia adalah laki-laki muda yang ingin bekerja, mandiri, dan menjalani hidup normal. Di sisi lain, setelah kejang, dunia luar terasa tidak aman dan ibu menjadi figur perlindungan. Kehadiran ibu dapat menenangkan, tetapi bila tidak diarahkan secara bertahap, ketergantungan pada ibu dapat membuat IMR semakin sulit percaya bahwa dirinya mampu menghadapi dunia sendiri.

Pola keluarga juga penting dibaca secara empatik. Ibu digambarkan keras, teratur, penuh aturan, tetapi penyayang. Ayah juga tegas, disiplin, dan ingin anak-anaknya berhasil. Ini bukan pola yang harus disalahkan. Dalam banyak keluarga Indonesia dan Bali, disiplin dipahami sebagai bentuk kasih sayang. Namun pada anak dengan kecenderungan cemas, pola yang sangat menekankan keteraturan dapat membentuk kebutuhan tinggi terhadap kepastian. Ketika epilepsi memperkenalkan sesuatu yang tidak pasti, yaitu kemungkinan kejang berulang, sistem batin yang terbiasa mencari kontrol menjadi sangat terguncang.

Secara psikososial, IMR juga menghadapi ancaman terhadap identitas sosial. Sebagai resepsionis hotel, ia bekerja di ruang publik, bertemu banyak orang, menjaga penampilan, dan berkomunikasi. Kejang di tempat kerja dapat menimbulkan rasa malu, takut dinilai tidak mampu, takut merepotkan, atau takut kehilangan posisi. Dalam budaya kolektivistik, rasa malu dan penilaian sosial sering mempunyai bobot besar. Sehingga sangat penting untuk melihat bagaimana pasien dan keluarga memberi arti pada gejala yang muncul. Bagi IMR, cahaya putih, berdebar, gemetar, dan sesak bukan sekadar sensasi tubuh, namun semuanya menjadi tanda bahwa kejang akan datang.

Di sinilah konsep anxiety sensitivity sangat penting. Orang bukan hanya takut pada bahaya luar, tetapi takut pada rasa berdebar, sesak, pusing, gemetar, atau kehilangan kontrol. Pada IMR, berdebar dapat ditafsirkan sebagai tanda bahaya, sedangkan gemetar dapat dianggap sebagai awal kejang, kilatan cahaya menjadi alarm, dan sesak napas membuatnya ingin melarikan diri. Maka terbentuklah lingkaran yang menghasilkan sensasi tubuh memicu rasa takut, takut memperkuat sensasi tubuh, lalu sensasi itu semakin diyakini sebagai bukti bahaya.

Secara neurobiologis, pengalaman IMR dapat dipahami sebagai aktivasi berlebihan sistem ancaman. Pada kondisi kecemasan yang patologis, sistem pendeteksi ancaman dapat menjadi terlalu aktif, sementara sistem regulasi dari prefrontal cortex tidak cukup efektif menenangkan alarm. Pada epilepsi, hubungan ini menjadi lebih kompleks karena memang ada dasar neurologis. 

Epilepsi berkaitan dengan perubahan keseimbangan eksitasi-inhibisi dalam jaringan otak. Selain itu epilepsi bukan hanya gangguan kejang, tetapi juga kondisi yang sering berhubungan dengan komorbiditas gangguan psikiatri, kognitif, dan sosial. Karena itu, pada IMR, kita tidak boleh memisahkan secara kaku gangguan saraf dan kondisi kejiwaan seseorang. Kejang, rasa akut, keluarga, pekerjaan, stigma, dan makna budaya semuanya membentuk satu sistem biopsikososial dalam diri seseorang.

Mengembalikan rasa takut menjadi tenang

Refleksi pertama bagi IMR adalah bahwa rasa takutnya dapat dimengerti. Ia tidak sedang lemah, manja, atau kurang dekat dengan Tuhan. Tubuhnya pernah mengalami peristiwa yang membuat sistem alarm otak menyala sangat keras. Namun rasa takut yang semula bertujuan melindungi kini mulai mempersempit hidupnya. Maka tujuan pemulihan bukan menghapus rasa takut sama sekali, melainkan mengembalikan rasa takut ke ukuran yang wajar.

Langkah penting adalah psikoedukasi yang menenangkan tetapi realistis. IMR perlu memahami perbedaan antara aura epileptik, gejala panik, dan sensasi cemas biasa. Ia juga perlu tahu bahwa tidak semua cahaya adalah tanda kejang, tidak semua berdebar berarti bahaya, dan tidak semua gemetar berarti tubuh akan kehilangan kendali. Penjelasan medis harus diberikan dengan bahasa yang tidak menakutkan. Dalam kasus seperti ini, informasi neurologis yang benar dapat menjadi obat, tetapi bila disampaikan tanpa konteks psikologis, ia dapat berubah menjadi bahan untuk memunculkan kecemasan.

Upaya yang perlu dilakukan tidak bertujuan untuk memaksa pasien berani, tetapi membantu otak belajar asosiasi baru. IMR dapat mulai dari paparan ringan, seperti duduk di teras saat sore, melihat cahaya kendaraan dari jarak aman, berjalan pendek ditemani, kemudian keluar rumah sebentar tanpa langsung pulang. Setelah itu, paparan dapat meningkat ke bertemu satu teman, naik kendaraan jarak pendek, dan kembali ke aktivitas kerja secara bertahap. Pada tahap lanjut, paparan interoseptif juga dapat digunakan, misalnya latihan yang memunculkan sensasi mirip cemas seperti napas cepat atau detak jantung meningkat, tentu dengan pertimbangan neurologis dan keamanan medis.

Keluarga perlu menjadi jembatan memunculkan keberanian, bukan tembok perlindungan. Ibu boleh menemani, tetapi pendampingan perlu dikurangi perlahan agar IMR dapat mandiri. Ayah dapat membantu dengan struktur yang hangat, bukan tuntutan yang membuat IMR merasa gagal. Kalimat keluarga sebaiknya bergeser dari jangan keluar, nanti kejang menjadi kita atur cara keluar yang aman dan bertahap. Perubahan kecil dalam bahasa sehari-hari dapat memberi dampak besar terhadap pemulihan.

Bagi IMR sendiri, pemulihan berarti membangun kembali hubungan dengan tubuhnya. Tubuh yang pernah kejang bukan tubuh yang rusak sepenuhnya. Ia tubuh yang perlu dipahami, dirawat, dan dipercaya kembali secara bertahap. Tidur cukup, minum obat teratur, kontrol neurologi, menghindari pencetus yang jelas, dan kembali beraktivitas pelan-pelan adalah bagian dari pemulihan biologis dan psikologis sekaligus. 

Mindfulness, latihan napas, doa, meditasi, atau praktik spiritual yang sesuai budaya dapat membantu bila digunakan bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai latihan hadir bersama tubuh tanpa rasa panik.

Apa yang dialami IMR mengajarkan kita bahwa epilepsi tidak hanya membutuhkan obat antikejang. Ia membutuhkan keluarga yang memahami, tempat kerja yang tidak memberi stigma, dokter yang menjelaskan dengan empati, dan masyarakat yang tidak mempermalukan orang yang pernah kehilangan kendali tubuhnya. 

Kesembuhan IMR bukan hanya ketika ia tidak kejang, tetapi ketika ia kembali berani hidup. Ia berani untuk keluar rumah, bertemu orang, bekerja, dan berolahraga, serta merasa bahwa masa depannya masih terbuka.  Tugas kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan tulus, dan menerima bahwa waktu terbaik selalu berada dalam kehendak-Nya. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami