Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Suara yang Menyakiti, Bangkitkan Luka Lama dan Dorongan untuk Mengakhiri Hidup

Minggu, 12 Juli 2026, 14:26 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Suara yang Menyakiti, Bangkitkan Luka Lama dan Dorongan untuk Mengakhiri Hidup.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

SEORANG perempuan berusia 25 tahun, berinisial ZU datang setelah menelan cairan pembersih lantai dalam upaya mengakhiri hidupnya. Peristiwa itu terjadi sehari sebelum ulang tahunnya. Pemicunya berawal dari percakapan dengan kekasihnya yang dianggap meremehkan perasaannya. 

Saat itu ia menerima hadiah ulang tahun dari seorang teman, kemudian ia ceritakan kepada pacarnya karena ia merasa senang sekaligus bingung mengapa tiba-tiba diberikan hadiah. Namun, pacarnya justru menjawab, ”Ya terima aja sih ngapain banyak nanya, syukur syukur ada yang ngasi hadiah”. Ucapan tersebut membuatnya merasa sangat sedih. Ia merasa pasangannya sering sekali tidak menjaga ucapan yang dilontarkan dan tidak pernah memikirkan perasaannya. 

Selama hampir satu tahun berpacaran, ZU kerap merasa disalahkan, direndahkan, dan dibuat percaya bahwa dirinya tidak layak memiliki keluarga bahagia karena berasal dari keluarga broken home. Ia juga pernah dipaksa menggugurkan kandungan dan beberapa kali mencoba menjauh, tetapi tetap bertahan karena diyakinkan bahwa hanya kekasihnya yang mampu menerima dirinya.

Ia menceritakan memiliki trauma sejak masa kecil. Orang tuanya bercerai ketika ia duduk di kelas satu SD. Ia pernah menyaksikan perselingkuhan ibunya, mengalami kekerasan verbal dan fisik, serta tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah yang bekerja di luar negeri. Setelah perceraian, ia dibesarkan oleh neneknya.

Dua bulan terakhir, ZU semakin murung, kehilangan minat, sering mengurung diri, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, merasa tidak berharga, putus asa, dan kesulitan berkonsentrasi. Ia tetap bekerja, tetapi menjalani hari dengan perasaan kosong. Temannya juga melihat perubahan nyata, dimana ia menjadi lebih tertutup, sering menunduk, sulit menatap lawan bicara, dan tidak lagi mudah tertawa seperti dahulu. Tiga bulan sebelumnya, ia sempat mengalami periode sekitar satu minggu terlihat sangat bersemangat, banyak berbicara, tidur berkurang, merasa bertenaga, melakukan banyak aktivitas, dan lebih berani mengebut di jalan.

Riwayat keinginan bunuh diri dikatakan telah muncul berulang. Lima bulan sebelumnya ia berniat melompat dari jembatan, pernah merencanakan gantung diri, membayangkan mencampur racun ke minuman, dan melakukan cutting untuk meredakan emosi. Setelah menelan cairan pembersih, rasa nyeri membuatnya meminta pertolongan. 
 
Ketika percakapan sederhana memunculkan luka 

Kasus ZU tidak seharusnya dibaca sebagai cerita tentang seorang perempuan yang terlalu sensitif terhadap ucapan kekasihnya. Ini adalah kisah tentang luka perkembangan, relasi yang tidak aman, depresi yang makin berat, kemungkinan gangguan spektrum bipolar yang masih perlu diklarifikasi, dan hilangnya harapan yang bertemu pada satu titik krisis. Makna suatu ucapan tidak hanya ditentukan oleh kata-katanya, tetapi juga oleh siapa yang mengucapkannya, riwayat hubungan, keadaan mental, dan luka lama yang disentuhnya. 

Jawaban, “Ya terima aja, ngapain banyak nanya,” bagi orang lain mungkin hanya terdengar ketus. Namun, bagi ZU, ucapan itu datang dari seseorang yang menjadi sumber penerimaan sekaligus sumber luka. Dalam keadaan depresi, seseorang lebih mudah menangkap tanda penolakan dan menafsirkan pengalaman melalui keyakinan negatif yang telah tertanam. Trauma masa kecil dapat berhubungan dengan munculnya ide bunuh diri melalui peningkatan sensitivitas interpersonal, rasa menjadi beban, serta perasaan tidak mempunyai tempat untuk memiliki dan dimiliki. Oleh karena itu, ucapan pasangan bukan penyebab tunggal, melainkan kunci yang membuka kembali ruang luka lama.

Secara teori, seorang anak membangun internal working model tentang dirinya dan orang lain melalui pertanyaan mendasar, “Apakah saya layak dicintai?” dan “Apakah orang lain akan hadir ketika saya membutuhkan mereka?” Kejadian perceraian orang tua, kekerasan verbal dan fisik, perselingkuhan yang disaksikan, serta ketiadaan kedekatan emosional dapat membentuk pola kelekatan yang tidak aman. Ketika orang dewasa yang penting kemudian meremehkan perasaannya, pengalaman itu seolah mengonfirmasi kesimpulan lama, bahwa “Perasaanku tidak penting; orang yang kucintai pada akhirnya akan menyakitiku.”

Adanya pengalaman berulang dapat membentuk skema inti seperti “Saya tidak berharga”, “Saya tidak pantas memiliki keluarga bahagia”, atau “Tidak akan ada orang lain yang dapat menerima saya”. Hubungan ZU tampak mengandung penghinaan, perilaku menyalahkan, pemaksaan terkait kehamilan, serta pernyataan bahwa hanya pasangannya yang mampu menerima dirinya. Pola ini menyerupai coercive control, yaitu keadaan ketika harga diri korban dilemahkan, pilihan-pilihannya dipersempit, dan ketergantungan emosional terhadap pasangan diperbesar. 

Studi longitudinal pada perempuan muda menunjukkan bahwa kekerasan pasangan intim dapat mendahului peningkatan gejala depresi dan pikiran bunuh diri. ZU mungkin bukan semata-mata ingin mati, tetapi ia ingin penderitaannya berhenti, namun ia tidak lagi melihat jalan keluar. Ketika kesepian, penghinaan, keputusasaan, dan perasaan terjebak bertemu dengan akses terhadap sarana berbahaya serta menurunnya kontrol impuls, pikiran bunuh diri dapat berubah menjadi sebuah tindakan. Keputusannya meminta pertolongan setelah merasakan nyeri memperlihatkan adanya ambivalensi, dimana ia masih memiliki bagian dirinya yang ingin diselamatkan. Bagian yang ingin hidup untuk dapat  ditemukan dan diperkuat.

Memahami suara yang menyakiti dan proses dalam diri

Secara psikodinamik, pengalaman masa kecil dapat terinternalisasi sebagai representasi tentang diri sendiri dan orang lain. Bila figur yang penting berulang kali menimbukan rasa tidak aman, mengkritik, atau menyakiti, maka anak dapat membawa objek internal yang menghukum ke dalam kehidupan dewasanya. Ucapan bahwa ZU tidak layak mempunyai keluarga bahagia kemudian dapat menyatu dengan suara lama di dalam dirinya. Kemarahan terhadap orang yang menyakiti mungkin sulit diungkapkan karena adanya ketakutan ditinggalkan. Akibatnya, kemarahan berbalik kepada diri sendiri dalam bentuk menyalahkan diri, melukai diri, atau keinginan untuk menghilang.

Konsep repetition compulsion dapat digunakan secara hati-hati untuk memahami mengapa seseorang bertahan dalam relasi yang mengulangi luka masa lalu. Hal ini bukan berarti ia memilih untuk disakiti. Pola yang familiar sering terasa lebih dapat dikenali daripada hubungan sehat yang belum pernah dialaminya. Di dalam diri mungkin terdapat harapan bahwa kali ini orang yang dingin akan memahami dan orang yang merendahkan akhirnya mengakui nilainya. Ketika harapan tersebut berulang kali gagal, keputusasaan menjadi semakin dalam.

Perilaku cutting juga tidak tepat disebut sekadar mencari perhatian atau manipulatif. Pada sebagian orang, melukai diri menjadi cara cepat untuk mengalihkan rasa sakit emosional, mengakhiri mati rasa, atau memperoleh sensasi kendali. Namun pada Sebagian individu lainnya dengan riwayat nonsuicidal self-injury melaporkan kesulitan regulasi emosi yang lebih besar, meskipun respons emosi yang diukur secara langsung tidak selalu sederhana atau seragam. Oleh karena itu, perilaku tersebut perlu dipahami secara fungsional, bahwa apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelahnya bukan hanya diberi label moral.

Apabila kita lihat dari sudut pandang model ekologis, ZU berada dalam beberapa lapisan kehidupan. Pada tingkat individual terdapat trauma, depresi, insomnia, penurunan nafsu makan, dan kemungkinan impulsivitas. Pada tingkat relasional terdapat kekerasan psikologis, ketergantungan emosional, serta pengalaman reproduktif yang traumatis. Pada tingkat keluarga terdapat perceraian, kekerasan, dan putusnya ikatan emosional. Pada tingkat komunitas dan budaya terdapat stigma terhadap bunuh diri serta kecenderungan menyalahkan korban sebagai pribadi yang lemah, kurang bersyukur, atau kurang beriman.

Data kejadian bunuh diri di Indonesia menunjukkan bahwa kejadian bunuh diri kemungkinan jauh lebih besar daripada angka yang tercatat secara resmi. Hal ini menunjukkan pemahaman masyarakat mengenai tanda bahaya juga dipengaruhi oleh keyakinan budaya, agama, dan stigma. Keluarga, komunitas, dan tingkat spiritualitas dapat menjadi faktor perlindungan yang kuat, tetapi dapat pula menambah luka apabila digunakan untuk mempermalukan. Kalimat seperti “Ingat karma”, “Jangan membuat malu keluarga”, atau “Imanmu kurang” berpotensi memperberat rasa bersalah. Seyogyanya pendekatan budaya yang sehat bukanlah menolak spiritualitas, tetapi mengembalikannya sebagai sumber welas asih, makna, keterhubungan, dan alasan untuk mempertahankan kehidupan.

Di lain sisi, gejala murung selama dua bulan, kehilangan minat, insomnia, penurunan nafsu makan, perasaan tidak berharga, keputusasaan, dan gangguan konsentrasi konsisten dengan gambaran episode depresi mayor. Namun, riwayat satu minggu ketika ZU tampak sangat bersemangat, banyak berbicara, kebutuhan tidurnya berkurang, aktivitas meningkat, dan lebih berani mengambil risiko mengharuskan klinisi mempertimbangkan gangguan spektrum bipolar atau keadaan campuran. 

Namun perlu diklarifikasi apakah perubahan itu benar-benar berbeda dari keadaan biasanya, menimbulkan gangguan fungsi, disertai iritabilitas, grandiositas, gejala psikotik, penggunaan zat, pengaruh obat-obatan, kondisi medis, atau riwayat gangguan mood dalam keluarga. Informasi kolateral dari keluarga dan teman juga diperlukan. Untuk itu penting dalam melakukan asesmen longitudinal dan penilaian risiko bunuh diri sebelum menentukan terapi, karena gejala depresi dapat muncul bersamaan dengan aktivasi gejala manik atau gejala campuran.

Trauma kronis dapat dipahami melalui konsep beban alostatik. Sistem stres terlalu sering diaktifkan sehingga tubuh dan otak belajar untuk terus berjaga. Dalam keadaan seperti ini, sinyal sosial yang ambigu lebih cepat dibaca sebagai ancaman atau penolakan. Sistem limbik memberi bobot emosional terhadap pengalaman, sedangkan korteks prefrontal membantu menilai konteks, menghambat impuls, dan menemukan alternatif. Untuk itu proses regulasi emosi setelah penolakan mungkin membutuhkan usaha kompensatorik yang lebih besar. 

Ketika depresi, kurang tidur, kurang makan, dan stres relasional berlangsung secara bersamaan, kemampuan berpikir fleksibel dapat menyempit. Dunia terasa hitam-putih, dimana keinginan bertahan dapat diartikan bahwa dirinya akan terus disakiti, sedangkan kematian tampak seperti satu-satunya pintu keluar. Kondisi ini sering disebut cognitive constriction. Seseorang yang berada dalam mode ancaman membutuhkan keselamatan fisik, kehadiran orang yang tenang, pengurangan akses terhadap sarana berbahaya, serta bantuan konkret sampai kapasitas berpikirnya kembali terbuka.

Dahulukan keselamatan sebelum kembali bangkit

Langkah pertama bukan mencari siapa yang salah, mempertahankan hubungan, atau meminta ZU segera memaafkan. Prioritas pertama adalah memastikan ia tetap hidup dan aman. Setelah kondisi medisnya stabil, diperlukan asesmen berulang terhadap ide, niat, rencana, akses terhadap sarana, impulsivitas, penggunaan zat, kemungkinan gangguan bipolar, dukungan sosial, serta alasan untuk hidup.

Safety plan harus disusun bersama pasien, bukan sekadar diberikan sebagai instruksi. Rencana tersebut mencakup tanda awal krisis, strategi untuk menenangkan diri, orang yang dapat dihubungi, layanan profesional, dan cara membatasi akses terhadap sarana berbahaya. Penggunaan secara aktif rencana keselamatan digital setelah percobaan bunuh diri berkaitan dengan sekitar 50 persen kemungkinan lebih rendah untuk kembali ke instalasi gawat darurat karena masalah terkait bunuh diri. Hasil tersebut bersifat asosiasi, tetapi tetap mendukung pentingnya rencana keselamatan yang aktif, bersifat individual, dan mudah diakses.

Pemulihan trauma sebaiknya dilakukan secara bertahap. Tahap awal adalah stabilisasi melalui perbaikan tidur dan nutrisi, pengobatan gangguan mood bila diperlukan, latihan regulasi emosi, rutinitas harian, dan penciptaan lingkungan yang aman. Terapi perilaku dialektik dapat membantu mengurangi perilaku melukai diri serta meningkatkan toleransi terhadap tekanan. 
Terapi kognitif dapat membantu menguji kembali keyakinan bahwa “Saya tidak layak”, sedangkan terapi interpersonal membantu mengolah konflik, kehilangan, dan perubahan peran. Terapi berfokus trauma sebaiknya dilakukan setelah pasien cukup stabil. Bila gangguan bipolar terkonfirmasi, tata laksana perlu mengikuti pedoman bipolar, termasuk farmakoterapi yang sesuai, psikoedukasi, keteraturan ritme tidur-bangun, dan pemantauan risiko.

ZU perlu mendengar bahwa apa yang dialaminya sungguh menyakitkan, tetapi pengalaman tersebut tidak menentukan seluruh nilai dirinya. Berasal dari keluarga yang retak tidak berarti ia ditakdirkan gagal membangun keluarga yang sehat. Dipaksa, direndahkan, atau ditinggalkan bukanlah bukti bahwa dirinya tidak layak dicintai. Namun pengalaman berulang yang tidak dapat dikendalikan dapat mengajarkan seseorang bahwa segala usahanya tidak akan mengubah keadaan. 

Pemulihan berarti membangun kembali pengalaman-pengalaman kecil tentang kendali diri dan memilih siapa yang boleh berada dekat dengannya, mengatakan tidak, meminta bantuan, mengatur rutinitas, serta membuat keputusan yang melindungi dirinya. Menjauh dari relasi yang menyakiti bukanlah kegagalan dalam mencintai. Batasan merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan. Keputusan mengenai kelanjutan hubungan perlu dibuat ketika keadaan emosional ZU lebih stabil dan dengan dukungan yang memadai, terutama bila terdapat kontrol, ancaman, penghinaan, atau pemaksaan. Fokusnya bukan memaksa ZU segera berpisah atau bertahan, melainkan mengembalikan kebebasan memilih yang selama ini dipersempit.

Bagi keluarga, tidak harus mempunyai kalimat yang sempurna. Hal yang paling dibutuhkan adalah kehadiran tanpa penghakiman, bahwa “Kami percaya kamu sedang sangat kesakitan. Kamu tidak perlu melewati ini sendirian. Mari kita mencari bantuan dan menjagamu tetap aman” dapat menjadi jaring pengaman untuk tidak melewati batas-batas kehidupan. 

Hindari interogasi, ceramah, memperdebatkan alasan untuk hidup, atau sekadar meminta janji bahwa ia tidak akan mengulangi tindakannya. Keluarga perlu memperhatikan perubahan tidur dan pola makan, penarikan diri, ucapan putus asa, peningkatan energi yang tidak biasa, perubahan perilaku yang mendadak, serta akses terhadap sarana berbahaya. Pemantauan dan dukungan tidak boleh dihentikan hanya karena pasien tampak lebih tenang atau telah keluar dari rumah sakit.

Pemulihan bukan hanya urusan pasien dan obat. Pemulihan memerlukan keluarga yang belajar mendengar, tempat kerja yang memberi ruang, layanan kesehatan yang mudah diakses, komunitas yang tidak memberikan stigma, dan tradisi spiritual yang memeluk tanpa menghakimi. Permintaan pertolongan ZU setelah tindakannya merupakan satu kalimat kehidupan yang sangat penting. Di balik keinginan untuk mengakhiri rasa sakit, masih terdapat diri yang berharap ditemukan. 

Adalah tugas keluarga, klinisi, dan komunitas untuk menjaga harapan tersebut tetap menyala sampai ZU kembali mampu menjaganya sendiri. Masa lalu memang tidak dapat dihapus, tetapi maknanya dapat diolah. Luka dapat menjadi bagian dari kisah kehidupan tanpa harus menjadi penulis seluruh masa depan. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami