Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 20 Juli 2026
Runtuhnya Sistem Adaptasi di Persimpangan Tubuh, Relasi, dan Makna Hidup
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan berusia 26 tahun, berinisial MA dengan status menikah dan memiliki dua anak berusia lima dan empat tahun, mengeluhkan mengalami perasaan sedih dan cemas yang semakin berat sejak dua minggu terakhir, meskipun keluhan serupa sebenarnya telah dirasakan sekitar satu tahun.
Selama ini ia masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, namun belakangan keluhan tersebut semakin sulit dikendalikan.
Kesedihan dan kecemasan terutama dipicu oleh kondisi tiroid berupa benjolan di leher yang semakin membesar dan terasa nyeri hingga tengkuk, serta konflik dalam rumah tangga. Ia khawatir penyakitnya memburuk, mengancam keselamatan, dan membuatnya tidak mampu menjalankan peran sebagai istri maupun ibu. Di sisi lain, ia merasa kurang mendapat perhatian dan dukungan dari suami, sehingga lebih banyak memendam perasaan sendiri.
Dalam dua minggu terakhir, suasana hatinya menurun hampir sepanjang hari. Ia sulit menikmati aktivitas yang dahulu menyenangkan, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan merasa pekerjaan rumah tangga semakin berat. Kesulitan dalam mengurus rumah tangga dan kedua anaknya membuat ia merasa semakin tidak berguna serta menganggap dirinya telah gagal menjalankan perannya di dalam keluarga.
Ia sering menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan yang dialaminya dan merasa bahwa dirinya menjadi beban bagi keluarga. Pikiran-pikiran tersebut muncul berulang kali dan semakin menguat ketika ia mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari ataupun ketika menghadapi konflik dengan suaminya.
Masa depan rumah tangga, kondisi ekonomi, serta kehidupan anak-anak dipandang suram. Ia juga mengalami kesulitan memulai dan mempertahankan tidur, sering terbangun malam, lalu sulit tidur kembali karena banyak pikiran. Nafsu makan dan perawatan diri tetap baik. Pernah muncul pikiran bahwa kematian mungkin menjadi jalan keluar, tetapi tidak ada rencana maupun percobaan bunuh diri. Kedua anaknya yang masih kecil dan keyakinan agama menjadi alasan utama untuk tetap bertahan.
Sebelum keluhan muncul, ia dikenal sangat berhati-hati, rapi, tertutup, perfeksionis, sulit percaya kepada orang baru, serta cenderung menyalahkan diri dan menyimpan masalah sendiri. Kesehariannya kini berpusat pada mengurus rumah dan anak-anak, dengan interaksi sosial yang terbatas. Ketika menghadapi masalah, ia hanya menceritakan sebagian kecil kepada orang terdekat karena merasa tidak akan benar-benar dipahami sepenuhnya.
Apa yang ada dibalik reaksi kesedihan?
Apa yang dialami oleh MA bukan lagi kesedihan biasa sebagai reaksi terhadap masalah. Selama sedikitnya dua minggu, ia mengalami suasana perasaan depresi hampir sepanjang hari, kehilangan minat, penurunan energi, gangguan tidur, kesulitan konsentrasi, perasaan tidak berguna, rasa bersalah, pandangan masa depan yang suram, penurunan fungsi, dan pikiran bahwa kematian dapat menjadi jalan keluar.
Apa yang sebenarnya terjadi pada MA adalah suatu keruntuhan sistem adaptasi. Penyakit fisik menimbulkan ancaman, konflik perkawinan menghilangkan rasa aman, tuntutan peran menguras tenaga, sedangkan sifat perfeksionistik mengubah keterbatasan akibat sakit menjadi penghukuman terhadap diri. Ia memendam emosinya, kehilangan pengalaman didengarkan, mengalami gangguan tidur, semakin sulit berfungsi, lalu menilai penurunan fungsi tersebut sebagai bukti bahwa dirinya gagal. Terbentuklah lingkaran antara tubuh yang sakit, pikiran yang menyalahkan diri, relasi yang tidak menopang, dan masa depan yang tampak tertutup.
Benjolan tiroid yang membesar dan menimbulkan nyeri bukan hanya masalah anatomis pada leher. Bagi MA, benjolan tersebut telah menjadi lambang ancaman terhadap kehidupan, tubuh, masa depan, serta kemampuannya merawat anak-anak. Ketidakpastian penyakit kadang-kadang lebih menekan daripada diagnosis yang sudah jelas karena pikiran terus mengisi ruang yang belum diketahui dengan kemungkinan terburuk.
Terdapat hubungan dua arah antara penyakit tiroid dan gejala depresi maupun kecemasan. Pasien dengan nodul tiroid juga menunjukkan peningkatan risiko gangguan kecemasan, bahkan ketika status keganasan belum diketahui. Dukungan sosial turut berkaitan dengan kualitas hidup perempuan yang menjalani pengobatan penyakit tiroid. Karena itu, ketakutan MA tidak boleh direduksi sebagai perilaku terlalu memikirkan penyakit. Ketakutannya lahir dari tubuh yang dirasakan berubah dan masa depan yang belum memperoleh kepastian.
Pada saat yang sama, rumah yang seharusnya menjadi tempat pemulihan tidak sepenuhnya dirasakan sebagai tempat untuk bernaung. Ia merasa kurang diperhatikan oleh suami, lebih banyak memendam perasaan, dan tetap harus mengurus dua anak kecil beserta seluruh pekerjaan rumah tangga.
Dalam masyarakat yang berorientasi kolektif, identitas perempuan kerap dibangun melalui keberhasilannya menjaga keluarga. Ketika fungsi tersebut terganggu, yang terluka bukan hanya produktivitas, tetapi juga harga diri dan identitasnya. Rendahnya kohesi keluarga berkaitan dengan tingginya depresi. Hubungan tersebut bahkan cenderung lebih kuat dalam kebudayaan yang menempatkan keluarga sebagai pusat kehidupan psikologis.
Dengan demikian, konflik perkawinan bagi MA bukan sekadar stresor tambahan. Konflik itu mengguncang fondasi tempat ia selama ini mendefinisikan dirinya sebagai istri dan ibu. Keruntuhan MA terjadi melalui terhambatnya tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Otonominya menyempit karena kehidupan terasa dikendalikan oleh penyakit, tuntutan rumah tangga, konflik perkawinan, dan ketidakpastian ekonomi.
Kompetensinya terpukul ketika pekerjaan yang dahulu dapat diselesaikan kini terasa sangat berat. Sayangnya, ia menafsirkan kelelahan tersebut bukan sebagai tanda bahwa tubuh dan pikirannya membutuhkan pertolongan, melainkan sebagai bukti bahwa dirinya gagal. Kebutuhan akan keterhubungan juga tidak terpenuhi karena ia tidak merasa sungguh-sungguh dimengerti oleh pasangan maupun lingkungannya.
Perubahan MA juga dapat dipahami sebagai penurunan self-efficacy atau keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi tuntutan kehidupan. Setiap pengalamannya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan rumah menjadikan bukti baru bahwa ia tidak sanggup. Keyakinan tersebut membuatnya mengurangi aktivitas, kehilangan pengalaman keberhasilan, dan semakin yakin bahwa dirinya tidak berguna.
Terbentuklah lingkaran depresi, dimana ia merasa dirinya tidak mampu, menghindari aktivitas, tidak memperoleh pengalaman keberhasilan, kemudian semakin merasa tidak mampu. Pada individu dengan penyakit kronis, self-efficacy berperan penting dalam kemampuan memahami penyakit, melakukan perawatan diri, meminta bantuan, mengikuti pengobatan, dan bertahan ketika menghadapi gejala.
Memahami kekecewaan, kemarahan dan ketakutan
Secara psikodinamik, MA memiliki standar internal yang tinggi. Sifat rapi, sangat berhati-hati, perfeksionistik, sulit mempercayai orang baru, dan terbiasa memendam masalah sebelumnya berfungsi sebagai kekuatan adaptif. Ia mampu menjaga keteraturan keluarga dan memenuhi berbagai tuntutan. Namun, mekanisme yang sama menjadi rapuh ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan, yaitu penyakit dan perilaku pasangan.
MA cenderung menggunakan mekanisme represi, dimana kekecewaan, kemarahan, ketakutan, dan kebutuhan untuk ditolong tidak disampaikan sepenuhnya. Karena tidak menemukan jalan keluar yang aman, emosi tersebut diarahkan ke dalam dirinya. Ia lebih mudah menyalahkan diri daripada mengakui, bahwa “Saya marah karena tidak ditemani,” atau, “Saya kecewa karena beban keluarga tidak dibagi.” Dalam bahasa psikodinamik, agresi terhadap objek dapat berbalik menjadi agresi terhadap diri. Kemarahan, kehilangan hubungan bermakna, rasa bersalah, dan ketidakberdayaan dapat berperan dalam munculnya pemikiran menghancurkan diri.
Namun, gagasan tersebut perlu diterapkan secara hati-hati. Pikiran kematian MA tidak boleh dianggap sebagai keinginan tersembunyi untuk menghukum suami atau keluarga. Lebih tepat dipahami bahwa penderitaan, kemarahan yang dipendam, dan kritik terhadap diri telah membuatnya ingin terbebas dari keadaan yang terasa tidak tertahankan. Ia kemungkinan tidak benar-benar menginginkan kematian, tetapi ia menginginkan berakhirnya rasa sakit.
Permasalahan MA juga dapat dilihat dari bagaimana ia merasa sendirian di dalam sebuah keluarga. Kesendirian semacam ini lebih menyakitkan daripada sekadar tidak mempunyai orang di sekitar. Ia memiliki suami dan anak-anak, tetapi tidak merasa dirinya sebagai seseorang yang didengar dan didukung. Dalam kesendirian dan keputusasaan itulah pemikiran tentang kematian dapat mulai muncul.
Banyak orang yang sedang mengalami krisis pada awalnya tidak selalu membutuhkan jawaban. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan keluhannya dan memahami masalah dari perspektif dirinya. Ketika emosi mulai tenang, kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan dan menyelesaikan masalah dapat kembali berfungsi.
Konsep tersebut penting dalam kasus MA. Suaminya mungkin terburu-buru memberikan nasihat, mengecilkan kekhawatiran, atau menganggap bahwa kebutuhan keluarga tetap harus dijalankan. Akan tetapi, MA terlebih dahulu membutuhkan validasi, bahwa ia takut, bahwa tubuhnya sedang tidak nyaman, bahwa pekerjaannya memang terasa lebih berat, dan bahwa kebutuhan untuk dibantu menjadikannya merasa sebagai istri yang gagal.
Hubungan suami-istri perlu dijalani sebagai sebuah kemitraan. Suami dan istri tidak seharusnya saling membentuk sesuai keinginannya sendiri, tetapi perlu memahami perbedaan, saling membutuhkan, saling menghargai, dan mengambil alih pekerjaan ketika pasangannya tidak mampu. Prinsip siapa yang sempat melakukan dan siapa yang tidak sempat perlu dibantu sangat relevan untuk MA.
Rumah tangga tidak dapat lagi dipertahankan dengan pembagian peran yang kaku ketika salah satu pasangan sedang sakit. Masalah dalam perkawinan juga tidak boleh terus disimpan, karena persoalan suami-istri yang jarang dibicarakan akan menumpuk. Lama-kelamaan, pengalaman positif terhadap pasangan tertutup oleh memori konflik yang belum terselesaikan. Dalam kasus MA, diam bukan berarti konflik telah selesai. Diam hanya memindahkan konflik dari ruang percakapan ke dalam tubuh, tidur, pikiran, dan harga dirinya.
Secara neurobiologis, stres kronis, gangguan tidur, nyeri, kecemasan mengenai penyakit, serta kemungkinan perubahan fungsi tiroid dapat bekerja secara timbal balik. Kurang tidur menurunkan kemampuan korteks prefrontal mengatur respons emosional, meningkatkan sensitivitas terhadap ancaman, mengganggu konsentrasi, dan memperberat kelelahan.
Akibatnya, MA semakin sulit mengurus rumah, kemudian semakin menyalahkan dirinya, dan kembali semakin sulit tidur. Kesulitan tidur kemudian memperkuat siklus tersebut. Kekhawatiran menghambat tidur, tidur yang buruk menurunkan konsentrasi dan regulasi emosi, lalu kesulitan sehari-hari terasa semakin berat. Tubuh, pikiran, dan lingkungan akhirnya membentuk lingkaran yang mempertahankan penderitaan.
Bagaimana membuat diri bangkit?
Pemulihan harus dimulai dari diri, keluarga, dan masyarakat. Langkah pertama adalah mengembalikan rasa aman. Pikiran bahwa kematian dapat menjadi jalan keluar harus ditanyakan secara langsung dan dinilai secara berkala. Anak-anak dan agama merupakan faktor pelindung, tetapi keluarga tidak boleh menganggap bahwa keduanya menjamin keselamatan. MA memerlukan safety plan, nomor orang yang dapat dihubungi, pengurangan akses terhadap sarana berbahaya, dan kepastian bahwa ia tidak akan ditinggalkan sendirian apabila pikiran kematian meningkat.
Langkah kedua adalah membuat MA merasa didengar. Penting adanya penerimaan, penghargaan, cinta, dan dukungan sosial dalam pemulihan. Suami dapat memulai bukan dengan berkata, “Jangan terlalu dipikirkan,” melainkan, “Saya melihat kamu sangat takut dan kelelahan. Apa yang paling berat hari ini?” Setelah itu, dukungan harus diwujudkan secara instrumental, misalnya dengan mengurus anak, membersihkan rumah, menemani pemeriksaan, mengatur biaya pengobatan, dan melindungi waktu istirahatnya.
Langkah ketiga adalah menyusun kembali peran keluarga. MA perlu dilepaskan sementara dari tuntutan menjadi ibu dan istri yang sempurna. Suami statusnya bukan membantu pekerjaan istri, melainkan menjalankan tanggung jawab bersama sebagai orang tua dan pasangan. Keluarga besar dapat dilibatkan dengan persetujuan MA, terutama untuk pengasuhan anak dan pendampingan berobat. Prinsipnya keluarga perlu menjadi sebuah tim dimana ada rasa saling menghargai, mencintai, membutuhkan, dan membantu yang dapat dijadikan dasar terapi keluarga.
Langkah keempat adalah memulihkan kemampuan melalui keberhasilan kecil. MA tidak perlu langsung kembali mengurus seluruh rumah. Ia dapat memulai dari satu atau dua kegiatan yang realistis. Setiap keberhasilan menjadi pengalaman bahwa dirinya masih memiliki kemampuan. Self-efficacy tumbuh melalui pengalaman keberhasilan yang nyata, bukan melalui nasihat agar lebih percaya diri.
Langkah kelima adalah mengembalikan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Otonomi berarti MA dilibatkan dalam keputusan pengobatan. Kompetensi berarti target pemulihan disesuaikan dengan kondisi tubuhnya. Keterhubungan berarti ia memiliki orang yang hadir secara emosional, bukan hanya berada secara fisik di rumah.
Langkah keenam adalah membangun makna. Makna tidak berarti memuliakan penderitaan atau meminta MA bersabar tanpa batas. Makna ditemukan ketika seseorang mengambil sikap aktif terhadap keadaan yang tidak dipilihnya. Bagi MA, makna dapat berupa keberanian menjalani pemeriksaan, menerima bantuan, berbicara jujur kepada pasangan, tetap hadir bagi anak-anak sesuai kapasitasnya, dan memutus pola memendam penderitaan.
Selain itu, spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan bila digunakan secara suportif. Namun, agama tidak boleh digunakan untuk mengatakan bahwa MA kurang bersyukur atau kurang beriman. Spiritualitas perlu membantunya merasa ditemani, memiliki harapan, dan memandang hidup sebagai sesuatu yang masih mempunyai kemungkinan.
MA tidak cukup ditolong dengan obat atau nasihat individual. Ia perlu dipahami melalui pendekatan biopsikospirit-sosiobudaya. Tubuhnya perlu diperiksa, depresinya perlu diterapi, pikirannya perlu ditata, suaranya perlu didengar, beban keluarganya perlu dibagi, dan keyakinan spiritualnya perlu dihidupkan sebagai sumber harapan.
Pemulihan bukan mengembalikannya menjadi perempuan yang sanggup menanggung semuanya sendiri. Pemulihan adalah menjadikannya sebagai manusia yang boleh sakit, boleh membutuhkan pertolongan, dan tetap mempunyai nilai meskipun untuk sementara tidak mampu memenuhi seluruh tuntutan hidupnya. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3747 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1429 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1368 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1361 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1283 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun