Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 7 September 2026
Dari Bali, Dunia Bicara AI untuk Perdamaian
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Perwakilan berbagai forum dunia di bidang pemuda, pendidikan, teknologi, politik, agama dan masyarakat sipil berkumpul di Bali melalui perhelatan World Encounter Summit 2026. Pertemuan ini membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) serta dampaknya terhadap kemanusiaan, pendidikan dan kehidupan sosial.
Salah satu pertanyaan utama yang diangkat dalam pertemuan tersebut adalah bagaimana memastikan perkembangan AI dapat memperkuat martabat manusia, persaudaraan antarbangsa dan perdamaian dunia.
Perkembangan AI dinilai membawa potensi besar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, membuka peluang kemakmuran yang lebih inklusif serta membantu menjawab berbagai tantangan global.
Namun, manfaat teknologi tersebut belum dirasakan secara merata. Kesenjangan masih terjadi dalam akses terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, kapasitas tata kelola hingga kemampuan menentukan bagaimana AI dirancang dan digunakan.
Karena itu, upaya menjembatani kesenjangan AI dipandang bukan hanya sebagai persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan aspek moral, sosial, ekonomi dan lingkungan.
Sebagai pembuka rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 sekaligus bagian awal inisiatif AI World Congress Bali, Bali Harmony Dialogue telah berlangsung pada 3 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Dialog tersebut diprakarsai Tri Hita Karana Forum bersama Scholas Chairs Congress XI oleh Scholas Occurentes. Forum mempertemukan pimpinan pemerintah, organisasi internasional, perusahaan teknologi global, sektor swasta, akademisi, masyarakat sipil hingga komunitas lokal untuk membahas pemanfaatan AI demi kepentingan bersama.
Baca juga:
Revolusi Kecerdasan Buatan dalam Sensus Ekonomi 2026: Menuju Kedaulatan Data Indonesia Maju
Sementara itu, XI International Scholas Chairs Congress 2026 berlangsung pada 4-6 September 2026 di UID Bali Campus dan KEK Kura Kura Bali. Forum tersebut mengusung konsep “Forum of Forums”, yang mempertemukan jaringan global untuk membahas dampak AI terhadap pendidikan, masa depan dunia kerja, kehidupan sosial, kesehatan mental, demokrasi hingga pencarian makna di kalangan generasi muda.
Forum ini melibatkan pemimpin muda dari lima benua, pemerintah, tokoh lintas agama, inovator teknologi serta akademisi dari 140 perguruan tinggi dan perguruan swasta di 70 negara.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia, H.E. Luhut B. Pandjaitan, menekankan pentingnya menggabungkan AI, energi bersih dan pendidikan STEM dalam membangun kapasitas nasional.
“Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan—sebuah prinsip yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup ekonomi yang cerdas. Melalui perpaduan AI bertenaga energi bersih dan pendidikan STEM, kita membangun kapasitas nasional agar Indonesia berdiri sendiri sebagai pencipta global, bukan sekadar konsumen,” ungkap H.E. Luhut B. Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia H.E. Meutya Hafid menyoroti perlunya penguatan kebijakan, riset, talenta dan infrastruktur agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi dari luar negeri.
“Indonesia tidak memulai dari nol mengingat pesatnya adopsi AI di kalangan generasi muda, namun tingkat penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional. Tanpa penyelarasan strategis di seluruh bidang kebijakan, riset, talenta, dan infrastruktur, kita berisiko hanya menjadi pasar konsumen bagi teknologi luar. Kami menyambut baik hadirnya ‘Garuda Spark Innovation Hub’ di UID Bali Campus sebagai Regional Hub dan Global Gateway Indonesia yang menghubungkan para pemuka industri, investor, dan inovator global. Berlandaskan visi digital nasional kita, Terhubung, Tumbuh, Terjaga, inisiatif ini bertujuan memajukan 'AI yang Bermakna' (Meaningful AI)—memastikan AI tidak hanya mendorong produktivitas dan pelayanan publik, tetapi juga memberdayakan masyarakat serta memastikan masa depan AI dibangun dan berakar di Bali, dari Indonesia untuk dunia,” ujar H.E. Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.
Wakil Presiden United In Diversity Foundation, Suyoto, menilai Bali memiliki posisi strategis sebagai ruang pertemuan gagasan global dan nilai-nilai spiritual.
“Pekan Bali Harmony Encounter menyatukan gagasan global dan lokal untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sebagai jangkar peradaban. Bali adalah tempat terbaik, di mana keharmonisan antara manusia, alam dan spiritualitas sungguh tumbuh subur,” tegas Suyoto, Wakil Presiden, United In Diversity Foundation.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado juga menekankan bahwa perkembangan teknologi perlu tetap diarahkan pada penguatan nilai-nilai kemanusiaan.
Forum tersebut menggunakan metodologi yang terinspirasi dari Agora Yunani kuno, yakni ruang publik untuk berdialog, merefleksikan persoalan dan menguji berbagai asumsi. Setiap sesi Agora membahas kapasitas manusia yang dinilai tidak dapat digantikan AI, seperti pemikiran kritis, kreativitas seni, etika digital dan partisipasi demokratis.
Agenda XI International Scholas Chairs Congress 2026 berlangsung selama tiga hari. Hari pertama, 4 September, diisi upacara pembukaan dan sesi Agora dengan tema “Apakah kita menyadari masa depan yang sedang kita ciptakan? Dan “Siapa saya di era AI?”
Pada hari kedua, 5 September, pembahasan diarahkan pada tata kelola AI beretika, kesehatan mental pemuda, literasi digital dan pendidikan berbasis kearifan. Sementara hari ketiga, 6 September, akan membahas masa depan tenaga kerja manusia, redistribusi kesejahteraan, pembaruan demokrasi dan perdamaian planet bumi.
Selain Scholas Chairs Congress, rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 juga menghadirkan konferensi mengenai pengetahuan dan kearifan masyarakat adat. Konferensi tersebut digelar oleh Tsinghua Southeast Asia Center bersama Universitas Udayana dan School of Cybernetics dari Australian National University.
Program Young Changemaker Programme (YCP) turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dengan menghimpun pemimpin muda berusia 18-24 tahun. Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran berbasis pengalaman untuk membangun kepemimpinan berbasis kesadaran.
Para peserta didorong untuk melihat AI tidak hanya sebagai alat komersial, tetapi juga sebagai instrumen yang dapat diarahkan untuk mendukung martabat manusia, keadilan sosial dan perubahan sistemik.
World Encounter Summit dan Young Changemakers Programme terselenggara melalui kolaborasi Scholas Occurrentes, University of Meaning, Global Humanity for Peace Institute, Guerrand-Hermes Foundation for Peace dan United In Diversity Foundation.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3180 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 646 Kali
Kebakaran Gudang Rongsokan Sunset Road Diduga Dipicu Gas
Dibaca: 563 Kali
ABOUT BALI
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman